Senjata Makan Tuan. Pengertian & Kisahnya…

April 29, 2013 oleh Kirimkan Komentar
Kategori: Mutiara Hikmah 
Senjata Makan Tuan

Perumpamaan bagi Pendengki

Ah, siapa yang tidak mengenal peribahasa senjata makan tuan ini, salah satu dari sekian banyak peribahasa yang mungkin sudah menjadi warisan turun temurun dari nenek moyang kita, dan telah tercatat pula dalam kamus besar bahasa Indonesia.

Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, peribahasa senjata makan tuan artinya “sesuatu yang direncanakan untuk mencelakakan orang lain, tetapi malah berbalik mengenai diri sendiri”. Contoh-contohnya pun pastinya telah banyak kita dengar dan ketahui untuk menjelaskan pengertiannya, baik contoh yang diambil dari dongeng, perumpamaan, maupun contoh yang diambil dari kejadian nyata.

Nah, di halaman ini pun sahabat Rumah Cahaya akan saya berikan sebuah kisah untuk dibaca berkaitan dengan peribahasa tersebut. Walaupun tidak diketahui dengan jelas asal-usul kisahnya, namun saya rasa masih perlu bagi kita untuk mengambil hikmah dan pelajaran yang terdapat di dalamnya, yang in sya Allah akan sangat berharga dan bermanfaat bagi kita semua yang membaca dan merenungkannya.

Kisah Terkait dengan Peribahasa Senjata Makan Tuan

Kisah ini konon merupakan kisahnya kaum salaf zaman dahulu, sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana seorang yang shaleh menghadapi tuduhan atau fitnah keji dari seseorang yang mempunyai sifat hasud atau iri dengki. Yuk, kita simak kisahnya..

Seorang shaleh pernah menjadi penasihat seorang raja. Nasehat yang selalu ia berikan adalah, “Berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat baik lantaran kebaikannya, sedangkan bagi orang yang berbuat jahat, maka kejahatannya itu telah mencukupinya”

Akhirnya ada seseorang yang iri hati melihat kedekatan hubungan antara orang shaleh tersebut dengan sang raja, maka ia pun mencoba membuat suatu makar untuk memb*n*h sang shaleh tersebut dengan mendatangi sang raja di istana kerajaannya.

Setelah bertemu dengan raja, maka si pendengki mengadukan orang shaleh tadi, katanya sang shaleh menyangka bahwa mulut raja berbau tak sedap, “Tandanya, bila ia sedang berdekatan dengan paduka, ia mendekap hidungnya” katanya. “Sudah! cukup laporanmu, nanti akan kulihat sendiri”, demikian kata raja.

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Sepulangnya menghadap raja, lalu si pendengki mengundang orang shaleh itu ke rumahnya untuk makan bersama. Ia pun memberikan cukup banyak bawang putih pada makanan yang disajikannya, dan setelahnya maka orang shaleh itu pun pergi ke istana kerajaan sebagaimana biasa.

“Mendekatlah kemari”, tutur raja. Sambil mendekap mulutnya karena khawatir tercium baunya, maka ia pun mendekat. “Betul juga laporan orang itu”, ucap sang raja dalam hatinya.

Telah menjadi kebiasaan raja, bilamana penasehatnya itu datang, ia menulis sebuah surat kepada sekretarisnya untuk memberikan hadiah. Tapi, suratnya yang kali ini berisi ‘hadiah’ yang berbeda, yaitu agar sang penasehat dib*n*h dan dik*liti, lalu kulitnya diisi dengan jerami.

Di tengah perjalanan menuju tempat sekretaris, bertemulah orang shaleh ini dengan temannya yang hasud tadi. “Apa yang kau bawa”, tanya si hasud. “Sepucuk surat dari raja yang berisikan perintah kepada sekretaris untuk memberikan hadiah buatku”, jawabnya. “Bagaimana kalau aku yang membawanya?” kata si hasud. “Baiklah!” sambutnya.

Dengan girang orang hasud itu datang kepada sekretaris dengan membawa sepucuk surat yang dimintanya tadi. Namun setelah dibaca sekretaris itu bertutur, “Surat ini berisi perintah dari raja agar aku memb*n*h dan meng*litimu”. Dengan penuh ketakutan ia menjawab, “Surat ini sebetulnya bukan untukku! Takutlah engkau kepada Allah dalam perkara ini. Biarlah surat ini akan kukembalikan kepada raja.” Sekretaris menjawab, “Tidak, tidak bisa. Ini merupakan keputusan baginda bagi pembawa suratnya”. Maka ia pun dib*n*h, dan kulitnya dikirim kepada raja.

Tidak berapa lama dari kejadian tersebut, datanglah sang penasehat shaleh itu ke istana sebagaimana biasa. Raja pun tersentak kaget sambil bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan suratnya?”. Ia menjawab, “Di tengah jalan di saat aku akan menemui sekretaris aku dijumpai seseorang seraya meminta surat itu, lalu aku serahkan suratnya terhadap orang tersebut”. Raja terus berkata, “Dialah yang melaporkan kepadaku bahwa engkau menyangka mulutku bau”. “Aku tak pernah berkata seperti itu”, jawabnya. “Kalau begitu?” lanjut sang raja, “Mengapa engkau mendekap hidung dan mulutmu ketika engkau mendekatiku?”. “Saat itu sebelum aku kemari menghadap paduka, ia menjamuku untuk makan bersamanya dengan makanan yang mengandung cukup banyak bawang putih, sehingga aku tidak mau paduka mencium bau tak sedap yang keluar dari mulutku”. “Kalau begitu, benarlah engkau. Sekarang pulanglah!”, kata raja kepadanya.

Sahabat Rumah Cahaya, berhasil atau tidaknya makar yang ditimbulkan oleh si pendengki, maka pada akhirnya cepat atau pun lambat, kejahatannya akan berbalik menyerang dirinya sendiri. Orang yang berbuat jahat, cukup baginya kejahatannya. “Senjata makan tuan” itulah kata peribahasa.  Oh, untuk senjata makan tuan in English mohon maaf, saya belum mengetahuinya..

Semoga bermanfaat.. ~ Cepi Nugraha

Bagikan Artikel...
Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!