Pondok Modern Darussalam Gontor Putri

June 10, 2013 oleh 18 Komentar
Kategori: Mutiara Hikmah 
Foto Pesantren Gontor Putri

Pesantren Gontor Putri 1

Untuk mengenal Pondok Modern Darussalam Gontor Putri secara online, pastinya tulisan ini tidak cukup bahkan jauh dari memadai, namun setidaknya ada beberapa pengalaman saya sebagai orang tua yang pernah mengantarkan puterinya untuk mendaftar ke Pondok Pesantren Gontor yang bisa Anda baca dan pelajari di sini. Untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap, silahkan sahabat Rumah Cahaya akses website resminya di www.gontor.ac.id. Kita mulai ya..

Pada tanggal 5 Juni 2013 kemarin, untuk pertama kalinya saya dan anak pertama saya menginjakan kaki di Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2, bahkan di saat saya menuliskan artikel ini, ia sudah mulai mondok beberapa hari di sana untuk persiapan mengikuti ujian yang akan diselenggarakan pada bulan Syawal nanti.

Gontor merupakan salah satu pilihan diantara beberapa pilihan. Selain Ponpes Gontor, masih ada pesantren unggulan lain sepertihalnya Husnul Khotimah Islamic Boarding School yang lokasinya terletak di kabupaten Kuningan dan juga SMA Plus Pondok Pesantren Darussalam yang berlokasi di kabupaten Ciamis, dimana keduanya terletak di provinsi Jawa Barat.

Untuk mendaftaran di kedua pesantren yang terakhir disebut memang sudah tidak mungkin kami lakukan karena semua gelombang pendaftarannya sudah tutup, namun bukan berarti juga Pondok Gontor merupakan pilihan kami terakhir, karena bagi kami ketiga pesantren ini merupakan pesantren yang memiliki kualitas yang sama.

Pilihan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi yang berbasis pesantren memang merupakan pilihan kami bersama, pilihan saya, istri, dan juga si cikal. Apalagi puteri sulung kami sebelumnya pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah dan SMP Islam Terpadu. Sehari-hari, ia juga belajar ngaji di pesantren tradisional yang ada di kampung kami sepulang dari atau saat libur sekolah. Jadi insyaallah pilihan kami lebih sesuai.

Waktu dan Tempat Pendaftaran di Gontor Putri

Di Pesantren Gontor Putri, Pendaftaran Santri Baru (PSB) untuk tahun 2013 secara resmi mulai dibuka mulai 1 Mei 2013, namun bagi yang ingin mendaftar jauh-jauh hari juga dipersilahkan. Kapan pendaftaran akan ditutup tidak dijelaskan, namun menurut informasi di situsnya maupun melalui telepon, pada tahun-tahun sebelumnya biasanya pendaftaran akan ditutup setelah pendaftar mencapai jumlah 2000-an. Bahkan kami dan beberapa teman yang ingin juga mendaftarkan putrinya ke sana sempat panik, saat mengetahui jumlah pendaftar di tanggal 3 Juni 2013 malam hari sudah mencapai 1.800-an calon santri.

Segera saat itu kami menyiapkan beberapa persyaratan yang diminta, juga pakaian dan beberapa perlengkapan anak sesuai dengan jumlah yang ditentukan, karena setelah mendaftar, putri kita tidak boleh ikut pulang kembali dengan orang tuanya, namun harus langsung mondok di sana untuk persiapan ujian yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 bulan Syawal. Keberangkatan menuju Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 2 yang merupakan tempat berlangsungnya Penerimaan Santri Baru (PSB) baru bisa kami lakukan pada esok sorenya tanggal 4 Juni 2013.

Keberangkatan dari Bandung ke Gontor Puteri 2

Karena yang akan berangkat hanya berdua saja, yaitu saya dan si sulung, maka kami putuskan untuk berangkat cukup dengan menggunakan kendaraan umum, yaitu bis kota. Alhamdulillah, setelah mencari informasi tentang bis kota dari Bandung yang bisa langsung melewati Ponpes Gontor Putri 2 di Ngawi melalui internet, saya mendapatkan informasi mengenai 2 perusahaan bis yang rutenya langsung melewati lokasi, yang satu Lorena dan satu lagi Kramat Jati. Bis Lorena dari Bandung hanya ada 1 armada yang berangkat pada pukul 09.00 WIB tiap harinya, untuk itu tidak mungkin bagi kami untuk menaikinya karena masih ada beberapa persiapan, maka kami menggunakan bis Kramat Jati yang berangkat dari salah satu agennya di Rancaekek pada pukul 17.00 WIB lebih yang langsung menuju Pondok Gontor Putri 2 di Mantingan, Ngawi.

Lokasi Alamat Gontor Puteri 2

Bis Kramat Jati yang kami naiki mempunyai rute atau trayek Bandung – Blitar. Setelah sekitar 2 jam melewati kota Jogja atau sekitar Pukul setengah 6 pagi pada tanggal 5 Juni 2013, kami pun segera tiba di Pondok Darussalam Gontor Putri 2 yang bersebelahan dengan Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1 yang beralamat di desa Sambirejo, kecamatan Mantingan, kabupaten Ngawi – Jawa Timur, hanya beberapa menit setelah melewati kabupaten Sragen – Jawa Tengah, dimana keduanya merupakan daerah perbatasan untuk masing-masing provinsinya. Jadi perjalanan dari Rancaekek, Bandung hingga Pondok Darussalam Gontor sekitar 12 jam perjalanan.

Kegiatan Selama Pendaftaran

Sebelum mengisi formulir pendaftaran, para calon santri beserta orang tuanya mengikuti pengarahan yang disampaikan oleh perwakilan pondok. Setelah selesai mengikuti pengarahan lalu kami mengambil formulir dan mengisinya, kemudian menyerahkannya disertai dengan beberapa persyaratan yang dibawa dari rumah, seperti fotokopi surat kelulusan, fotokopi akte kelahiran, pas foto calon santri, dsb., termasuk juga menyerahkan sejumlah uang pendaftaran serta sejumlah uang untuk membeli beberapa keperluan santri, seperti kitab, buku-buku, dan alat-alat mencuci yang bisa langsung diambil di koperasi berikut bantal dan kasur serta seragam, dan juga melakukan pemeriksaan kesehatan di Balai Kesehatan santri & Masyarakat (BKSM) yang ada di lokasi pondok.

Saat mendaftar, calon santri sudah mendapatkan nama rayon dan nomor kamar untuk ditinggali, dan beberapa saat setelah mekakukan pendaftaran, para calon santri pun kemudian mengikuti beberapa test awal, seperti membaca beberapa ayat dari Al-Qur’an, praktek shalat, dan test berhitung atau matematika. Setelah itu para calon santri pun menerima pembagian kelas. Oh iya, putri saya mendapatkan nomer pendaftaran 1855.

Setelah semuanya selesai, para orang tua/wali atau pengantar sudah bisa pulang, kecuali bila kita atau putri kita masih menginginkan kita untuk tinggal beberapa hari di sana untuk menemaninya. Saya sendiri diminta oleh anak saya untuk menemaninya barang satu malam, dan saat saya bermalam di sana, beberapa kegiatan pun sudah mulai dilakukan oleh para calon santri.

Saat kita pamit  pulang untuk meninggalkan puteri kita di sana adalah saat-saat yang cukup mengharukan. Sudah menjadi pemandangan biasa apabila tetesan air mata atau setidaknya mata yang berkaca-kaca bisa kita saksikan atau kita sendiri dan anak kita yang mengalaminya di sana. Maklumlah, namanya juga mau pisah untuk waktu yang cukup lama hingga tiba kembali waktu menjenguk atau menjemputnya, padahal biasanya mereka selalu bersama dengan kita di rumah.

Sekilas Tentang Pondok Modern Darussalam Gontor Putri

Saat tiba di lokasi Pondok Pesantren Gontor Putri 2, selain terdapat papan reklame bertuliskan nama pondok dan foto-foto para pendiri, pengurus, serta foto-foto kegiatan pondok, pada halaman atau bangunan-bangunan depan pesantren terpampang beberapa tulisan yang tercetak dengan huruf besar/kapital, seperti:

  • KE GONTOR APA YANG KAU CARI…???
  • GONTOR BERDIRI DI ATAS DAN UNTUK SEMUA GOLONGAN

Untuk mengetahui makna tentang tulisan-tulisan tersebut, pengarahan atau pengenalan (ta’aruf) yang diberikan oleh salah seorang perwakilan pondok sebelum kami mengisi formulir pendaftaran insyaallah menjadi jawabannya.

Didahului dengan ucapan salam, diiringi dengan ucapan hamdalah dan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, perwakilan pondok pun memberikan kata-kata sambutan dan pengarahan yang kurang lebih isinya sebagai berikut..

Pastikan Pilihan Anda Tepat

Pondok Pesantren Modern Gontor diibaratkan kapal laut yang hendak membawa penumpangnya mengarungi lautan untuk menuju ke sebuah pulau. Semua penumpang harus patuh dan mengikuti kemana arah kapal dinavigasikan nakhoda, jangan sampai penumpang punya tujuan sendiri-sendiri yang tidak sesuai dengan tujuan kapal, karena nakhoda tidak mungkin akan menurutinya.

Bilamana ada penumpang yang ternyata tujuannya berbeda dengan kapal laut yang bernama Gontor, maka sebelum akhirnya kecewa karena salah naik kapal, maka pihak Gontor pun mempersilahkan untuk memilih kapal-kapal laut yang lain, karena masih banyak kapal laut lainnya dengan tujuan yang lain pula, dan mungkin salah satunya sesuai dengan tujuan si penumpang tadi.

Perwakilan pondok pun tidak lupa untuk menyampaikan salam dari para pimpinan pondok kepada para calon santri dan para wali atau semua pengantarnya.

Tentang Nama Gontor

Gontor sebenarnya bukanlah nama dari pondok pesantren, melainkan nama sebuah desa dimana pondok pesantren mulanya berdiri, yaitu desa Gontor. Nama pondok pesantrennya sendiri adalah Pondok Modern Darussalam. Darussalam ini memiliki pengertian Kampung Nan Damai.

Karena namanya Kampung Nan damai, maka para santri dilarang bertengkar untuk menjaga kedamaian. Pertengkaran termasuk salah satu pelanggaran yang berat. Apalagi bila sampai terjadi pertengkaran fisik, maka sanksi atau skorsing yang diberikan pada  santri ialah dengan dipulangkan ke kampungnya. Hal ini pernah terjadi pada santri putra/pria, akan tetapi tidak pernah terjadi pada santri putri/wanita, kecuali hanya sekedar tidak bertegur sapa atau marahan (bahasa sunda: baeud-baeudan).

Gontor juga dikatakan laksana ibu kandung bagi para santri serta para alumninya. Sampai kapan dan dimana pun mereka berada, mereka adalah bagian dari Pon-pes Gontor. Saat mereka kembali mengunjungi Gontor pun, maka Gontor akan dengan senang hati menerima dan merangkulnya.

Sistem Pendidikan

Gontor bukanlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) walaupun yang diterima berasal dari lulusan SD atau MI. Gontor juga bukan Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun Madrasah Aliyah (MA) meskipun menerima lulusan yang berasal dari SMP atau MTs.

Sistem yang berlaku di Gontor adalah sistem kepesantrenan, sehingga pendidikan kepesantrenan dinomorsatukan daripada pendidikan akademis yang dinomorduakan. Gontor tidak mencetak orang supaya menjadi ahli agama, ahli nahwu, sharaf, atau ahli pendidikan lainnya, akan tetapi pendidikan akhlak/mental, karakter, sikap, dan pola pikir yang baik itulah yang diterapkan.

Gontor lebih mementingkan pendidikan daripada pengajaran, sehingga timbul ungkapan seperti ini:

  • Untuk memperbanyak ibadah tempatnya di Arab (mungkin maksudnya ibadah di Masjidil Haram, Makkah dan di Masjid Nabawi, Madinah, pahala ibadahnya jauh lebih besar dibandingkan dengan tempat lain).
  • Untuk memperdalam ilmu agama tempatnya di Mesir (banyak ‘ulama besar dunia yang terkenal lulusan dari Mesir).
  • Untuk membangun mental dan karakter adalah Gontor-lah tempatnya.

Di Gontor terdapat piket rayon dengan kegiatan seperti seperti menyapu, mengepel, menjaga wartel, dsb. Tidak lain diantara tujuannya adalah guna mendidik dan membangun mental serta karakter anak-anak santri supaya siap menghadapi hidup.

Tujuan Pendidikan

Yang harus menjadi tujuan/orientasi para santri Gontor adalah mendapatkan ilmu untuk ibadah bukan untuk mencari ijazah. Orang besar menurut Gontor adalah:

  • Orang yang mau mengajar di tempat terpencil di surau terkecil.
  • Thalabul ‘ilmi lil ‘ibadah (menuntut ilmu untuk ibadah), bukan thalabul ‘ilmi lil ijazah (mencari ilmu dengan tujuan untuk mendapatkan ijazah)

Di Gontor tidak ada jurusan IPA, jurusan IPS, dan sebagainya, walaupun pelajaran-pelajaran sekolah pun semuanya betul-betul dipelajari di Gontor. Jurusan yang ada di Gontor hanya 1 (satu) saja, yakni Jurusan Akhirat. Gontor merupakan Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah yang disingkat KMI atau Sekolah Pendidikan Guru Islam.

Gontor Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan

Gontor bukan untuk satu golongan, tapi untuk semua golongan. Dimana kata-kata ini menjadikan Gontor memiliki fungsi sebagai perekat ummat, dan diharapkan para santri mengikuti bendera Gontor ini. Gontor pun tidak terikat oleh organisasi manapun, terbukti diantara alumninya ada Prof. DR. Din Syamsuddin dari Muhammadiyah dan KH. Hasyim Muzadi dari Nahdlatul ‘Ulama. Bahkan saya ketahui belakangan, bahwa nama-nama seperti Emha Ainanun Najib (Cak Nun) seniman dan pimpinan Kyai Kanjeng dan Ustadz Abu bakar Basyir dari Majelis Mujahidin Indonesia pun pernah mondok di sini..

Gontor Milik Semua Ummat

Pimpinan Gontor tidak mengambil uang sepeser pun dari Gontor. Mereka membuka toko dan bersawah untuk keperluan keluarganya, baik untuk makan mereka sehari-hari maupun untuk biaya pendidikan putra-putrinya. Gontor telah menjadi milik kita semua, biaya untuk pembinaan sudah diwakafkan kepada ummat, termasuk pondok dan sistemnya pun diwakafkan kepada ummat Islam.

Ujian-ujian yang biasa dilakukan di Gontor secara umum terdiri dari: 1. menghitung angka, 2. menjawab soal 3. bahasa Indonesia, 4. bahasa Arab, dan 5. menulis imla’.

Tentang Pelaksanaan Ujian Masuk

Perwakilan pondok pun menyebutkan tentang ujian lisan berupa membaca Al-Qur’an yang akan dilaksanakan pada 10 Ramadhan besok, dan pada tanggal 15 pada bulan Syawalnya akan diadakan ujian tertulis. Para penguji merupakan para ustadz/ustadzah dari Pondok Gontor Putri 1 dan sudah berkeluarga. Tidak ada penguji yang berasal dari Pondok Gontor Puteri 2 tempat dimana para calon santri tinggal untuk sementara, karena dikhawatirkan adanya hubungan emosional diantara mereka yang bisa mempengaruhi nilai ujian.

Pada tanggal 20 Ramadhan kalau tidak ada perubahan, maka para calon santri diperbolehkan untuk pulang ke kampung halamannya masing-masing untuk menyambut dan merayakan ‘Idul Fitri. Namun bagi yang ingin tetap tinggal di pondok juga dipersilahkan, dimana kegiatan di pondok tetap berjalan seperti biasa.

Bagi yang pulang kampung, mereka diharuskan kembali ke pondok pada tanggal 10 Syawal untuk siap-siap menghadapi ujian yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 Syawal tadi. Ujiannya berupa: 1. menghitung angka, 2. menjawab soal 3. bahasa Indonesia, dan 4. menulis imla’. Seminggu kemudian akan diumumkan nomor ujiannya masing-masing sebagai nomor kelulusan. Karenanya, penting bagi para calon santri untuk menghapalkan nomor ujiannya masing-masing.

Penempatan Santri

Mulai dari Pondok Gontor Puteri 1 hingga Pondok Gontor Putri 5 tidak ada perbedaan ranking, semua disamaratakan sehingga dalam satu pondok rankingnya bisa berbeda-beda. Namun demikian, untuk menetapkan di Gontor manakah para santri yang lulus akan ditempatkan, maka hal tersebut merupakan keputusan dari pimpinan pondok setelah memeriksa hasil ujian.

Berbeda dengan Pospes Gontor putri, maka di Pondok Modern Gontor Putra diadakan perbedaan ranking, misalnya santri yang ditempatkan di Pondok Gontor Putra 1 Ponorogo nilai akademisnya lebih baik daripada santri yang ditempatkan di Pondok Gontor Putra 2 dan seterusnya. Jadi perolehan nilai baik  oleh santri bisa meyebabkannya pindah pondok. Hal ini ditimbang berdasarkan segi psikologis santri pria dibandingkan santri wanita, dimana untuk para santri wanita, jangankan sampai pindah pondok, ada salah seorang teman sekamar saja diantara mereka yang pindah ke kamar lain, maka bagi mereka seolah akan berpisah untuk selamanya, hingga menangis dan berangkulan, padahal saat mereka pergi ke kamar mandi, saat menyapu atau belajar di kelas, dsb. mereka pun akan bertemu kembali.. itulah santri putri.

Masa Pendidikan

Secara umum, bagi santri yang berasal dari lulusan SMP atau MTs maka masa pendidikan akan dilaksanakan selama 4 tahun (tamat) ditambah dengan 1 tahun pengabdian, dan untuk santri yang berasal dari lulusan SD atau MI maka masa pendidikan akan dilaksanakan selama 6 tahun (tamat) ditambah 1 tahun pengabdian, sehingga masing-masing menjadi 5 dan 7 tahun. Namun demikian, bagi mereka para santri yang berprestasi, bisa dinaikkan kelasnya ke kelas yang lebih tinggi, sehingga masa pendidikan 1 tahun lebih cepat.

Mungkin sebenarnya tidak ada pebedaan antara santri yang berasal dari lulusan SMP/MTs dengan yang berasal dari lulusan SD/MI. Masa 4 tahun untuk mereka yang bersal dari SMP/Mts adalah merupakan program intensif, dimana pada 1 tahun pertama mempelajari pelajaran tahun pertama dan tahun kedua yang dijalani oleh mereka yang lulusan SD/MI, dan pada tahun kedua mempelajari tahun ketiga dan tahun keempat yang dijalani oleh yang lulusan SD/MI.

Sistem ujian yang berlaku di pondok modern gontor katanya tidak ada pilihan ganda, namun essay semua. Untuk nilai pun tidak akan ada nilai yang merah, semuanya hitam, termasuk bagi santri yang mempunyai nilai hanya angka 1. Ya, angka 1 pun akan dimasukkan ke dalam raport, hal ini berbeda dengan sekolah pada umumnya.

Syarat Kelulusan & Setifikat Gontor

Setelah mengikuti masa pendidikan selama 4 dan 6 tahun, maka para santri Gontor pun bisa dinyatakan lulus, namun mereka belum mendapatkan sertifikat hingga mereka melakukan pengabdian selama 1 tahun.

Untuk mendapatkan sertifikat pun mereka harus menghadap atau sowan kepada kyai (pimpinan) barang satu kali saja secara satu persatu untuk menceritakan apa yang didapat/diterima di Gontor kepada sang kyai. Hal ini merupakan adab juga sowan untuk meminta do’a dari kyai, sehingga keluar dari pondok enak.. (mungkin ditambah berkah juga maksudnya ya).

Buku milik masing-masing santri pun dari mulai masuk Gontor hingga tamat harus tetap dijaga, karena hal ini merupakan salah satu syarat kelulusan. Jika bukunya lengkap, maka nilainya baik, namun jika buku tidak lengkap, maka nilai pun berkurang.

Gontor sangat memperhatikan alumni-alumninya, sehingga lahirlah Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor yang berawal dari cita-cita K.H. Imam Zarkasyi salah satu pendiri dan pimpinan Pondok Modern Gontor untuk menyatukan alumni-alumninya.

Cukup panjang juga ya tulisan ini, apalagi jika kita membicarakan Pondok Pesantren Modern Gontor secara menyeluruh, yang konon kata perwakilan dari pondok tadi tidak akan habis untuk dibicarakan dalam satu hari.

Apabila dalam naskah yang saya tulis ini ada kesalahan dan Anda mengetahuinya, maka mohon untuk meralatnya, apalagi materi yang disampaikan saat pengarahan pun tidak bisa saya tangkap dan catat semuanya. Terimakasih sebelum dan sesudahnya. Semoga artikel yang saya tulis untuk sedikit mengenal Pondok Modern Darussalam Gontor Putri ini bermanfaat buat semua… ~ Cepi Nugraha

Komentar

18 tanggapan untuk “Pondok Modern Darussalam Gontor Putri”
  1. M. Ikhwan Rahmanto says:

    Assalaamu’alaikum. wr wb
    Manarik sekali kisahnya, Terima kasih mendapat tambahan info tentang pendaftaran di PP Gontor Putri. Anak saya sekarang kelas VI SD, kepingin juga nyantri di Gontor, Pinginnya diterima di lokasi pesantern yang di Mantingan (GP1 atau 2) yang aksesnya lebh mudah. Saya mendengar ada caranya, yaitu pendaftaran harus lebih awal ? Apa Benar ? Barang kali Kang Cepi dapat info tentang itu. Mohon sharingnya, Terima kasih.

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Pak Rahmanto,
    Wa’alaikumussalam wr. wb. Terimakasih kembali atas kunjungannya ke blog ini Pak..

    Sepengetahuan saya dari pengalaman mendaftarkan putri saya kemarin, penempatan santriwati untuk Gontor Putri berbeda dengan Gontor Putra (dimana penempatan santriwan untuk Gontor Putra berdasarkan hasil prestasi).

    Untuk penempatan santriwati, kata pengasuh pondok, hal itu berdasarkan atas istikharah para Kyai pimpinan pondok (saya tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan istikharah di sini), dan bukan berdasarkan prestasi.

    Pendaftaran di lakukan lebih awal atau tidak pun tidak berpengaruh terhadap penempatan, hal itu saya ketahui sendiri pada saat pengumuman kelulusan santriwati. Di pengumuman tersebut, setiap santriwati yang di tempatkan di Gontor Putri 1, Gontor Putri 2, Gontor Putri 3, dan Gontro Putri 5, berdasarkan pada nomer pendaftaran yang dilakukan secara acak, misalnya dari 2654 nomer pendaftar kemarin, yang ditempatkan di Gontor Putri 1 bisa dicontohkan seperti ini: nomer 2, 5, 7, 11, 20, ……189, 250,777, …….. 1355, 1999, 2630, 2651. Tidak seperti ini: 1,2,3,4,5,6,7, 8, 8, 10, 11, dst. Demikian juga buat yang ditempatkan di Gontor Putri lainnya. Putri saya sendiri ditempatkan di Gontor Putri 5 Kediri, sementara pendaftar yang lebih belakangan dari putri saya, diketahui ada yang ditempatkan di Gontor Putri 1, 2, dan 3.

    Tapi memang alangkah baiknya jika pendaftaran dilakukan lebih awal, supaya putri Bapak bisa mendapatkan banyak pembekalan buat ujian kelulusan, terutama ujian yang paling diperhatikan untuk lulus di Gontor adalah IMLA’.

    Saya do’akan juga supaya putri Bapak ditempatkan di GP1, GP2, atau paling tidak di GP3 yang memang jaraknya tidak terlalu jauh dari Mantingan dan sama-sama di Ngawi, dan semoga itu yang terbaik menurut-Nya. GP2 sendiri dulu hanya dipakai buat penerimaan, persiapan, tempat ujian calon santriwati, serta tempat penampungan calon santriwati yang tidak lulus ujian guna persiapan ujian di tahun berikutnya. Tapi di tahun 2013 ini, karena jumlah calon santriwati yang terus melonjak, maka GP2 pun resmi dijadikan tempat santriwati menimba ilmu, dan bagi yang tidak lulus tidak ditampung di sana lagi, namun boleh mendaftar sementara di pondok-pondok yang didirikan oleh alumni Gontor…

    [balas komentar di sini]

  2. deny says:

    Assalamualaikum,

    Terima kasih banyak sebelumnya atas informasinya yang cukup lengkap. Dan selamat buat putrinya (juga kedua orangtuanya) yang sudah diterima untuk berjuang di kawah candradimuka Pesantren Gontor.

    Saya hendak mendaftarkan anak Putra saya yang insya Allah lulus SD tahun depan, mohon informasinya (sebatas pengetahuan bapak) tentang hal-hal sebagai berikut :

    1. Pada saat calon santri datang untuk pendaftaran maka semenjak itu mereka langsung menginap untuk mempersiapkan tes penerimaan. saya ingin tau kapan dimulainya pendaftaran santri? diwebsite disebutkan sepanjang tahun, apa berarti bila kita daftar 4 bulan sebelum tes apakah juga harus menginap s/d tes dilaksanakan?

    2. Dikatakan pembayaran masuk pesantren (4 jtaan) dilakukan saat pendafaran atau sebelum tes penerimaan / kelulusan. Apakah bila nantinya calon santri tidak lulus penerimaan maka pembayaran pendidikan akan dikembalikan?

    3. Bilamana santri lulus maka tes penerimaan akan langsung melanjutkan pendidkan di Ponpes Gontor yg ditentukan. apakah orangtua harus mengeluarkan biaya pendidikan lagi (bukan biaya rutin)? mengingat pada saat pendaftaran sudah dilakukan pembayaran biaya masuk.

    4. Saya pernah membaca ada santri yang melakukan (naudzubillah) bunuh diri di pondok Gontor, bagaimana sebaiknya menyikapinya? apa ada keterangan dari pesantren? saya ada rasa khawatir juga mekipun sedikit.

    5. Bagaiman dengan isu kekerasan oleh santri senior di Ponpes Gontor (yang mengatasnamakan hukuman) apa bapak pernah mendengar dan bagaiman bapak/ibu menyikapi hal tersebut?

    Maaf kalau terlalu banyak pertanyaannya, sejujurnya saya ingin sekali memasukan anak saya ke Ponpes Gontor, hal tersebut sekedar sharing perasaan yang ada di hati saya.

    Terima kasih sebelumnya atas kesedian menjawab.

    Salam

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Pak Deny,
    wa’alaikumussalam.
    Alhamdulillaah, Aamiin, terimakasih.. Jazakallahu khairan katsiraa..

    1. Benar Pak di websitenya disebutkan sepanjang tahun. Bahkan teman saya yang juga sekarang putrinya telah mondok di Gontor, saat berkunjung ke Gontor beberapa bulan sebelum mendaftarkan putrinya dulu, mendapatkan informasi yang sama. Begitu mendaftar, putra/i kita harus tinggal di sana untuk persiapan ujian.

    Namun ternyata pada saat saya mengantarkan putri saya mendaftar, ada orang tua calon santri yang bilang kepada saya, bahwa ia pernah datang untuk mendaftarkan putrinya sekitar 2 bulan sebelum pendaftaran, namun tidak bisa, dan baru bisa sekitar 1 bulan sebelum pendaftaran (saat tanggal pendaftaran resmi diumumkan).

    2. Akan dikembalikan Pak, apakah itu karena calon santri tidak lulus atau calon santri tidak betah dan memutuskan untuk pulang. Namun biasanya ada potongan bilamana ada dari uang tersebut sudah dipakai keperluan santri seperti keperluan makan mereka, karena uang makan pun telah dibayarkan bersamaan dengan uang pendaftaran.

    3. Ada biaya daftar ulang, seperti iuran bulan pertama, beberapa perlengkapan seperti buku, seragam, dsb, jika buku atau seragam tersebut belum santri

    4. Saya malah belum mendengarnya, dan baru mengetahuinya dari Bapak. Namun jika memang benar kejadian tersebut, mungkin hal tersebut bukan akibat internal dari sistem Gontornya, namun hal tersebut bisa bersifat eksternal, bisa saja karena mental santrinya yang tidak siap harus mondok di sana, atau hal lainnya. Meskipun begitu, sebagai orang tua kita tetap harus terus melakukan pengawasan dan masukkan kepada pondok untuk mengantisipasi supaya tidak ada kejadian serupa terulang kembali, jika memang hal itu benar terjadi.

    5. Sistem Gontor (apalagi mungkin Gontor putra), memang tegas. Namun saya belum mendengar kekerasan terjadi, kecuali kesalahpahaman. Namun memang pernah juga ada yang bercerita bahwa terkadang ada beberapa santri ‘nakal bawaan’ yang sering mengganggu teman atau adik kelasnya. Biasanya orang tua yang merasa anaknya diganggu bisa menanganinya dengan cara melaporkannya ke pengasuh pondok dan juga menemui orang tua dari santri nakal itu tadi. Karenanya kita harus wanti-wanti kepada putra/i kita yang mondok di sana, supaya mereka melaporkan/berbicara terus terang kepada kita orang tuanya, jika ia rasakan ada hal-hal yang ganjil atau mengganggunya, baik itu dari santri lain, bahkan mungkin dari kakak asuh atau pengasuh pondoknya, sehingga kita bisa mengambil tindakkan.

    Nah, hanya ini yang baru saya ketahui berkenaan dengan pertanyaan Pak Deny.

    Alhamdulillah Pak, keinginan yang sangat baik dari orang tua. Tapi seandainya pada saatnya Bapak ragu untuk memasukkannya ke Gontor, atau setelah daftar dan ujian ternyata putra Bapak tidak diterima, jangan sampai berkecil hati, karena masih banyak pesantren lain yang baik, bahkan bisa jadi lebih baik dari Gontor.

    Kapan-kapan Bapak boleh main ke rumah kami di Bandung Selatan untuk sharing lebih banyak…

    [balas komentar di sini]

  3. Angelia islamiati says:

    Assalamu’alaikum
    Pak, saya Lia kelas 9 Mtsn Batam, ingin bertanya
    1. jika ingin mendaftar ke gontor putri cabang di luar jawa, waktu yang baik utk mndaftar berapa hari sebelum pendaftaran dimulai?
    2. Sya sudh lihat alamat gontor cabang di halaman blog bapak sebelum nya, tapi tidak ada nomor telepon nya, boleh kah saya minta nomor telepon untuk gontor 7 putri Pekanbaru? Krna saya tinggal di batam jd sya mau ke gontor yang masih di sekitar pulau sumatra.
    Afwan jika pertanyaan nya kebanyakan, mohon di balas.
    Terimakasih

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Angelia,
    Wa’alaikumussalam wr. wb.

    Pertanyaan dari Lia tidak banyak, namun masalahnya untuk menjawabnya saya tidak bisa, karena saya sendiri tidak mempunyai informasi lengkap terkait dengan apa yang Lia tanyakan di atas.

    Saya hanyalah menginformasikan apa yang saya ketahui dikarenakan putri sulung saya nyantri di Gontor, dan mohon maaf jika informasi yang diberikan kurang lengkap, apalagi untuk di luar Jawa. Namun jangan khawatir, Lia bisa coba menghubungi nomer telepon Gontor Pusat untuk mengetahui informasi yang lebih rinci. Atau bisa coba buka juga link Pendaftaran masuk Gontor ini:

    http://www.gontor.ac.id/pengumuman/info-penting-pendaftaran-kmi-gontor

    dan

    http://www.gontor.ac.id/pendaftaran

    Mungkin hanya ini yang jawaban yang bisa saya berikan. Semoga membantu…

    [balas komentar di sini]

  4. Ayunda says:

    Assalamualaikum, terimakasih sebelumnya atas informasi yang bermanfaat buat saya.

    saya mau bertanya,
    1. tes IMLA’ yang diujikan itu seperti apa? didekte arab itu seperti apa gambarannya, apakah seorang penguji mengucapkan kalimat arab, lalu kita menuliskannya, atau seperti apa gambarannya?

    2.apakah tidak lancar dikte arab, masih bisa diterima?

    3.apakah ada tes IPA?

    4. ujian amaliyah dan qauliyah,gambarannya itu seperti apa?

    Terimakasih atas semuanya, ditunggu jawabannya…. : )

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Ayunda,
    wa’alaikumussalam wr. wb.

    1. Benar, penguji mengucapkan kalimahnya, lalu calon santri peserta ujian menuliskannya.

    2. Saya tidak tahu juga karena hanya sebagai orang tua santri bukan dari pihak pondok, hehehe. Tapi imla’ sepertinya yang paling berpengaruh terhadap kelulusan pada saat tes masuk.

    3. Dulu saat putri saya masuk “tidak ada” tes IPA.

    4. Paling tes praktek sholat, membaca do’a, membaca beberapa surat dari al-Qur’an (Juz amma).

    Kalau dulu saat mau masuk Gontor, setelah melakukan pendaftaran ada test kecil buat calon santri, kemudian calon santri tersebut di tempatkan di kamar-kamar dan kelas dan tidak boleh pulang kembali. Dikarantina untuk dibekali materi-materi untuk persiapan menghadapi Test Penerimaan Santri. Kemudian pulang dulu ke rumah karena menghadapi ‘Idul Fitri dan masuk kembali bulan Syawal untuk mengikuti Test Penerimaan Santri tersebut. Tapi sekarang ada perubahan, jadi tidak ada karantina buat persiapan ujian, namun langsung mengikuti Test Penerimaan Santri.

    Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi langsung pihak Gontor atau mengunjungi websitenya GONTOR.AC.ID

    [balas komentar di sini]

  5. ayunda says:

    Assalamualaikum,

    1. tahun ini apakah ada pembatasan penerimaan calon santri?
    2. tes imla’ yang diujikan itu, berupa ayat al-quran atau kalimat arab biasa, ?
    3. jika tahun ini tidak ada karantina bagi calon santri, maka setelah pendaftaran jika malam bermukin di mana akhi?

    terimakasih, ditunggu jawabannya…. : )

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Ayunda,
    wa’alaikumussalam wr. wb.

    1. Kemungkinan ada batasan, meskipun jumlah penerimaan biasanya bertambah banyak untuk tiap tahunnya. Sepeti tahun kemarin kalau saya tidak salah mengingat, pendaftar ada sekitar 2000-an dan diterima 1500-an santriwati.

    2. Ayat al-Qur’an dan Kalimah Arab biasa.

    3. Dulu karantina sebelum dan sesudah ujian dilakukan di Gontor Putri 2 Mantingan, Ngawi. Karena pendaftar jumlahnya makin banyak, maka Gontor Putri 2 yang tadinya hanya berfungsi sebagai tempat karantina bagi calon santri dan juga sebagai tempat penampungan bagi pendaftar yang tidak lulus untuk mengikuti ujian di tahun berikutnya, sekarang diubah fungsi menjadi tempat belajar para santri juga seperti Gontor Putri yang lain. Jadi mohon maaf, saya tidak tahu sekarang calon santri akan bermukim dimana, untuk itu alangkah baiknya jika menghubungi pihak Gontor Putri-nya langsung..

    [balas komentar di sini]

  6. ayunda says:

    makasih smua infonya, saya masih 15 tahun. heee

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Ayunda,
    terimakasih kembali..

    Kirain Ayunda adalah seorang ibu yang lagi cari informasi tentang Gontor buat putrinya, hehehe. Sudah saya hapus tulisan “ibu”-nya.

    [balas komentar di sini]

  7. nurdin says:

    assalamualaikum wr wb….pak sy mao tanya kira brapa biaya pendidikan di sana untuk tingkat SMA atau aliyah..per tahun nya…mohon info nya pak

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Pak Nurdin,
    wa’alaikumussalam wr. wb.

    SPP perbulan ditambah biaya makan, dll. saat ini di kisaran Rp. 550.000 per bulan. Namun biaya yang lain-lain seperti uang daftar ulang, dan sebagainya, saya lupa untuk mencatatnya. Mohon maaf untuk hal ini…

    [balas komentar di sini]

  8. Nur Kholilah says:

    assalamu’alaikum.
    saya Kholilah kelas 9 di MTs Muhammadiyah 20 Menongo.
    saya mau nanya, apakah ponpes Gontor ini menyediakan sekolah Aliyah atau SMA ya?
    trus, dari organisasi Muhammadiyah kah, ponpes Gontor ini?
    syukron
    wassalamu’alaikum

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Nur,
    wa’alaikumussalam..

    Gontor murni pesantren, jadi tidak menyediakan sekolah Aliyah atau SMA. Namun di Gontor pelajaran-pelajaran SMA pun juga dipelajari lengkap, dan nanti setelah lulus dari Gontor, santri akan mendapatkan sertifikat/ijazah.

    Gontor tidak mengatasnamakan organisasi tertentu. Sehingga berbagai macam santri berlatar belakang keluarga NU, Muhammadiyah, Persis, dll. pun ada di Gontor. Gontor pun berprinsip: “Gontor berdiri di atas dan untuk semua golongan”

    [balas komentar di sini]

  9. Hesti says:

    assalamualaikum. Pak saya mau tanya. Saya kelas 3 SMA org tua saya berniat akan memondokan saya dipesantren gontor. Nah, apa di gontor ada pesantren pasif (maksudnya tidak dg sekolah) kalo memang ada mohon jawaban nya ya pak. Terimakasih

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    De Hesti,
    Wa’alaikumussalam..

    Gontor hanya punya satu sistem, yaitu pondok pesantren dan tidak ada sekolah seperti SMA atau Aliyah. Namun di pesantrennya dipelajari pelajaran-pelajaran yang biasa diajarkan di SMA.

    Jika ade masuk Gontor, maka ade akan sama dengan yang lain, yaitu memulai belajar di pesantren dari kelas 1 sampai kelas 6, ditambah dengan pengabdian 1 tahun. Karena ade lulusan SMA, maka akan masuk ke kelas intensif, jadi kelas 1 – 6 itu akan dijalani selama 4 tahun, ditambah 1 tahun pengabdian, sehingga total mondok di Gontor lamanya 5 tahun.

    [balas komentar di sini]

Page 1 of 11
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!