Perjuangan Seorang Ibu

Sayangi Istrimu, Hormati Ibumu..

Teringat pada beberapa minggu ke belakang di awal bulan November ini, dan lewat tengah malam saat itu.. ada seorang pasien perempuan/wanita yang dibawa datang ke rumah kami oleh keluarganya dalam kondisi kritis sehabis melahirkan bayinya. Suasana pun begitu getirnya.. saya terus mendengar rintihan demi rintihan yang diiringi kegelisahan yang amat sangat keluar dari mulut pasien perempuan tersebut terdengar dari ruang kerja isteri saya,

” Emaa poek..  emaa poek… ( emaak gelap.. emaak gelap… ) “, itulah ucapan yang ia tujukan kepada ibunya.

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Miliki Ebooknya, Dapatkan BONUSNYA!

Dan pada saat istri saya bicara sesuatu padanya, maka ia pun bilang, ” Ibuu teu kadangu.. ibuu teu kadangu… ( ibuu saya tidak dengar.. ibuu saya tidak mendengar… ) “

Begitulah apa yang ia ucapkan.. berulang dan berulang, dan sesekali terdengar ia pun mengikuti ucapan istighfar yang dituntunkan oleh isteri saya beserta pihak keluarganya kepadanya, “Astaghfirullahal -‘Azhim.. astaghfirullahal -‘Azhim..”

Yaa.. saya masih mengingat peristiwa itu, dan saya begitu khawatir akan kondisinya sewaktu mendengarkan kata-katanya tersebut saat itu, dan  saya pun mengkhawatirkan sesuatu hal yang buruk terjadi.

Perjuangan Ibu

Perjuangan seorang ibu di saat melahirkan anaknya memang benar-benar bertaruh dengan nyawa. Saat itu pun setelah istri saya memeriksa kondisinya serta memberikan berbagai upaya pertolongan termasuk juga memasukkan cairan infus melalui selang ke tubuhnya, tetap saja kondisi pasien  tidak berangsur membaik.

Pasien tersebut akhirnya oleh isteri segera  dirujuk ke rumah sakit terdekat. Setibanya di rumah sakit dokter pun segera mengambil alih pemeriksaan dan tindakan medis. Diketahui pula penyebab asalnya, pasien perempuan tersebut rahimnya terbalik, posisinya keluar dari tempatnya akibat pertolongan seorang dukun beranak yang sangat gegabah dalam mengambil tindakkan, dan yang sangat disayangkan.. keluarganya termasuk juga pasiennya sendiri tidak mau mengindahkan anjuran istri saya pada saat memeriksakan kandungan sebelumnya, bahwa ia harus didampingi seorang tenaga medis (bidan) di saat melahirkan, bidan manapun itu.

Dokter telah mengerahkan segala upaya semaksimal mungkin, akan tetapi manusia hanya mampu berupaya, sedangkan Kehendak-Nya lain.. dan apa yang saya khawatirkan memang benar-benar terjadi, pasien perempuan tersebut tidak tertolong dan meninggal dunia setelah kurang lebih 1 (satu) jam keberadaannya di rumah sakit. Saat dokter meminta maaf atas segala upaya pertolongannya serta memberitahukan kabar meninggalnya pasien perempuan tersebut kepada keluarganya, ibu pasien pun sempat pingsan, dan suami dari pasien tersebut pun menangis histeris, malahan ia sempat berkata bahwa ia melihat istrinya melambaikan tangan kepadanya.

Yaa.. itulah perjuangan seorang perempuan muda pada saat proses melahirkan anak pertama sekaligus anak terakhirnya, terlepas dari kesalahannya dan juga kesalahan tindakan dari dukun beranak. Tetapi bukan hanya perempuan itu, tetapi perjuangan ibu manapun saat melahirkan anaknya tidak jarang dihadapkan kepada kondisi tersulit.. kondisi antara hidup dan mati. Pantaslah jika Allah memberikan predikat “mati syahid” kepada seorang perempuan yang meninggal dunia akibat proses melahirkan anaknya, karena memang proses melahirkan itu sendiri berupa perjuangan yang sangat hebat dan teramat berat.

Sahabat Rumah Cahaya.. Allah begitu mengagungkan perempuan yang telah bersusah payah mengandung, serta gigih berjuang di saat melahirkan anak-anaknya. Perempuan tersebut bisa saja isteri kita yang mengandung serta melahirkan anak-anak kita, dan pasti juga ibu kita yang telah mengandung dan melahirkan kita ke dunia ini. Selayak-nyalah bagi kita untuk senantiasa menyayangi isteri kita, menghormati ibu kita, serta senantiasa memuliakan mereka. Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam telah bersabda:

“Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik dari kamu terhadap keluargaku. Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia, dan orang yang menghina kaum wanita adalah orang yang tidak tahu budi” (al-Hadits)

Itulah satu diantara banyak pengalaman isteri saya saat menolong pasien-pasiennya. Mudah-mudahan bisa diambil hikmah, i’tibar (pelajaran) dan semoga bermanfaat~ Cepi Nugraha