Pakaian Muslimah Yang Syar’i

Syarat Pakaian Muslimah Yang Syar'i

Pakaian Muslimah Yang Syar’i

Sahabat-sahabat, di negeri kita tercinta ini kesadaran akan berpakaian yang lebih tertutup di kalangan perempuan atau wanita Islam (muslimah) semakin besar, sehingga pakaian muslimah yang syar’i makin banyak dicari dan digemari. Alhamdulillah…

Pakaian memang selayaknyalah harus disesuaikan dengan fungsi utamanya, yakni menutup aurat, selain juga berfungsi untuk menjadi hiasan bagi manusia. Bukankah syukur itu adalah menggunakan segala nikmat yang telah dilimpahkan oleh Allah dengan menggunakannya sesuai dengan tujuan Allah memberikan nikmat tersebut?

Ya, pakaian merupakan nikmat diantara banyak nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya yang telah dianugerahkan Allah kepada manusia. Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 26:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Selain menutup aurat, maka seyogyanyalah pakaian itu bersih dan indah. Akan tetapi jangan sampai memakai pakaian untuk berbangga-bangga diri dan menampakkan kesombongan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Nabi SAW bersabda, “Tidak masuk sorga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi pun.” Maka berkatalah seorang laki-laki, “Sesungguhnya orang itu ingin agar pakaiannya baik dan sandalnya baik pula.” Beliau SAW berkata, “Sesungguhnya Allah itu indah lagi mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah mengingkari kebenaran dan meremehkan manusia.”

Berpakaian yang baik memang disyari’atkan, namun tanpa harus berlebih-lebihan, karena barangsiapa yang mengenakan pakaian bagus dengan maksud untuk membanggakan dan menyombongkan diri, maka yang diperoleh adalah dosa. Berbeda jika seandainya mengenakan pakaian bagus tersebut karena hendak memperlihatkan nikmat yang telah Allah berikan, maka yang demikian akan menuai pahala. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari Abu Darda, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kamu hendak datang kepada saudara-saudaramu, maka bersihkan dan indahkan kendaraanmu dan juga pakaianmu, sehingga kamu sekalian seakan-akan tahi lalat di kalangan orang-orang (indah dan menonjol). Karena sesungguhnya Allah itu tidak menyukai pakaian-pakaian kumal dan sengaja berpakaian kumal”

Syarat Pakaian Muslimah Yang Syar’i

Pakaian yang menutupi seluruh tubuh yang merupakan aurat wanita, kecuali wajah serta telapak tangan, sebenarnya itulah syarat pakaian muslimah yang syar’i. Maka, hendaknya para muslimah menutupkan pakaiannya untuk menutupi rambut, leher, kedua kuping, dada, serta bagian lain dari tubuhnya, sehingga yang nampak hanyalah wajah dan kedua telapak tangannya.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Pengertian jilbab yang banyak disepakati oleh para ‘ulama adalah sebagaimana yang telah juga dikatakan oleh Ibnu Arabi, yakni pakaian yang menutupi seluruh badan dari mulai kepala hingga mata kaki. Maka wajib bagi wanita atau perempuan Islam (muslimah) untuk mengenakannya.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita…” (Q.S. An-Nur: 31)

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Siti ‘Aisyah R.A. berkata, “Semoga Allah merahmati wanita Muhajirat pertama saat Allah menurunkan, “Mendaklah mereka menutupkan kerudung-kerudung mereka ke dada-dada mereka.” Maka mereka merobek gordeng-gordeng, lalu menjadikannya sebagai kerudung”

Perkaataan Siti A’isyah ini membuktikan bahwa wanita-wanita Muhajirat bersegera memakai kerudung ketika turun perintah Allah SWT tersebut. Mereka menyobek gordeng-gordeng dan menjadikannya sebagai kerudung yang dapat menutupi dada mereka. Begitu pula dengan wanita Anshar, yang segera mematuhi perintah Allah ketika suami-suami mereka membacakan ayatnya.

Perlu juga diingat, bahwa arti menutup berbeda dengan membalut. Menutup aurat, artinya tidak menampakkan aurat, sedangkan membalut aurat, bisa jadi ada kain yang menutupinya, namun lekuk tubuh yang merupakan auratnya sendiri masih terlihat dengan jelas. Contohnya, seperti yang masih sering kita lihat, ke atasnya pakai jilbab/kerudung, namun pakaian bawahnya hanya mengenakan legging, dan sebagainya. Namun ini pun sudah lumayan, karena mungkin ingin bertahap dulu untuk kemudian suatu menutup aurat dengan sempurna. Tulisan saya ini hanya mencoba mengingatkan, barangkali masih ada diantara Anda yang belum mengerti syarat-syarat berpakaian yang syar’i, padahal Anda sudah sangat menginginkannya..

Oh iya, sebagai sebuah catatan.. bahwa sebagai muslim atau muslimah yang baik, kita memang selayaknya sam’an wa tha’atan (mendengar dan patuh) jika mengetahui Allah dan Rasul-Nya telah membua ketetapan. Namun ternyata pada kenyataannya tidak setiap orang mengetahui ketetapan tersebut, atau mungkin telah mengetahui, namun masih mikir-mikir dan melaksanakannya secara bertahap. Demikian pula halnya dengan pakaian syar’i.

Selain jasa para da’i dan da’iyah yang terus menerus menggugah kesadaran muslimin untuk memakai pakaian yang syar’i, dalam semaraknya perkembangan pemakaian busana muslim, terutama kerudung, kita juga harus berterimakasih kepada para perancang busana dan penjual pakaian muslim. Saya masih ingat bagaimana dulu ciput-ciput banyak dibuat dan dijual di pasar-pasar (pengalaman di Tanah Abang ..hehe), sehingga para muslimah yang belum berkerudung banyak yang memakainya. Setelah musim ciput berhenti dan tergantikan dengan dijual aneka model kerudung, para muslimah itu pun turut mengikuti perkembangan, mereka berganti dari memakai ciput ke kerudung seperti yang tampak sekarang.

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Instansi pemerintahan pun tak kurang jasanya, banyak dinas yang menganjurkan/mewajibkan para pegawai muslimah di instansinya mengenakan kerudung saat berdinas, sehingga hampir seluruh muslimah yang bekerja di instansi pemerintahan saat ini mengenakan kerudung, bahkan karena banyaknya keinginan dari para polwannya yang ingin berpakaian secara syar’i dan juga karena desakan masyarakat, Kapolri pun kini sudah membuka hati buat para polwannya untuk menggunakan kerudung dan pakaian yang lebih menutup aurat. Alhamdulillah..

Beberapa Hal Terkait dengan Pakaian Muslimah Yang Syar’i

Warna pakaian

Hukum asal dari warna-warna yang ada pada pakaian menurut ‘ulama adalah mubah, kecuali bila ada dalil-dalil syar’i yang melarangnya. Diantara warna pakaian yang pernah dikenakan di zaman Rasulullah SAW adalah:

1. Warna Putih

Hadits riwayat Imam Bukhari dari Abu Dzar, ia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah SAW, sementara beliau mengenakan baju putih dalam keadaan tidur.” Di sini jelas menunjukkan bahwa Rasulullah pernah memakai pakaian yang berwarna putih. Maka warna putih dibolehkan untuk laki-laki dan perempuan.

2. Warna Hitam

Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ummu Khalid. Nabi SAW dikirimi sejumlah pakaian wanita berwarna hitam. Rasulullah SAW bersabda, “Menurut kalian siapa yang layak memakai pakaian ini?” Maka orang-orang terdiam. Kemudian Rasulullah mengatakan, “Panggilah Ummu Khalid.” Lalu dipanggillah Ummu Khalid. Maka Rasulullah SAW mengambil pakaian itu dan memakaikannya kepada Ummu Khalid. Hadits ini menjelaskan dibolehkannya wanita memakai pakaian berwarna hitam.

3. Warna Hijau

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, bahwa Rafa’ah mentalaq isterinya, kemudian setelah habis masa iddah mantan istrinya tersebut dinikahi oleh ‘Abdurrahman bin Zubair al-Qurazi. Maka ‘Aisyah berkata, “Dan dia mengenakan kerudung hijau seraya mengadu kepadanya, dan ia (wanita itu) memperlihatkan hijau (pakaian) di kulitnya.” Hal ini menjelaskan tentang kebolehannya bagi para wanita untuk memakai kerudung berwarna hijau.

4. Warna Kuning Keemasan

Hadits dari Amer bin Syu’aib menyebutkan, bahwa kakek Amer bin Syu’aib dilarang Rasulullah memakai warna celupan kuning (kuning keemasan), lalu ia melemparkannya ke dalam tungku api. Keesokan harinya Rasulullah SAW mengkritik perbuatan tersebut, kenapa tidak diberikan kepada istrinya saja, karena warna celupan kuning itu diperbolehkan untuk wanita. Artinya, warna kuning keemasan tidak diperbolehkan buat laki-laki, namun diperbolehkan untuk wanita.

Celana Panjang

Celana panjang adalah pakaian yang menutupi pinggang serta kedua kaki. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Daruqutni dan Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah merahmati para wanita yang mengenakan celana panjang.” Sebagian ‘ulama mengatakan bahwa merupakan sunnah muakkadah bagi wanita yang memakai celana panjang dengan tujuan untuk menutupi auratnya.

Dalam hadits lain riwayat Baihaqi dan ‘Ali R.A., ketika ‘Ali sedang duduk bersama Nabi SAW di Baqi’, ketika itu hari agak hujan, lewatlah seorang wanita yang sedang mengendarai keledai. Tiba-tiba kaki keledai tersebut terpeleset di jalan yang agak jelek, sehingga wanita tersebut ikut terjatuh. Nabi SAW memalingkan pandangannya dari wanita tersebut. Sahabat-sahabat yang hadir pada saat itu segera berkata, “Wahai Rasul Allah, wanita itu memakai celana panjang.” Maka Nabi SAW memohon kepada Allah SWT supaya mengampuni wanita yang memakai celana panjang dari ummatnya. Beliau kemudian memerintahkan orang-orang agar memakai celana panjang karena dapat menutupi pakaian, dan wanita-wanita terpelihara olehnya jika keluar rumah.

Pakaian berupa celana panjang yang dikenakan oleh para muslimah bukanlah celana panjang yang banyak dikenakan wanita-wanita yang menyebabkannya menyerupai laki-laki, atau juga bukan yang menyebabkan tampaknya aurat, namun celana panjang tersebut dikenakan di dalam baju panjangnya. Wallahu A’lam, dan semoga artikel mengenai pakaian muslimah yang syar’i ini bermanfaat… ~Cepi Nugraha

Bagikan Artikel...
Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!