Merawat Cinta Kasih Suami Istri

Merawat Cinta Kasih Suami Istri

Cinta Kasih Suami Istri

Merawat cinta kasih suami istri lebih dibutuhkan pengorbanan dan kesabaran dibandingkan pada saat menanam dan menumbuhkannya. Cinta bisa tumbuh hanya karena paras yang cantik menawan atau wajah tampan rupawan, cinta bisa tumbuh karena melihat kepribadian yang mengesankan, cinta bisa tumbuh karena seringnya perjumpaan, cinta bisa tumbuh hanya karena adanya kesamaan tujuan, dll. Itulah Cinta, yang bisa datang dengan mudahnya, bahkan cinta bisa terjadi pada pandangan pertama.

Namun, setelah cinta diwujudkan dalam ikatan pernikahan, hingga terwujudlah pasangan suami isteri, apakah semudah itu pula merawat cinta kasih yang telah terjalin? Bukankah tidak jarang kita dengar dan saksikan, banyak pasangan suami istri yang tadinya kita kenal sebagai pasangan yang begitu romantis serta harmonis, dan selalu menunjukkan cinta kasih dan kemesraan, pada akhirnya berujung di persidangan untuk mengajukan gugatan perceraian. “Ketentuan Allah”, mungkin hanya itu yang bisa kita katakan, dengan hati dan perasaan yang seolah ikut menyayangkan keputusan yang mereka ambil.

Sahabat Rumah Cahaya.. memang semua hal bisa terjadi dengan ketentuan-Nya, namun meskipun begitu, perlu juga kita bertanya, ketentuan yang manakah? Apakah ketentuan-Nya yang mutlak dan memang tidak bisa dihindarkan, ataukah ketentuan-Nya yang masih bisa diupayakan? Termasuk konteksnya dalam merawat dan membina cinta kasih dengan pasangan hidup kita. Aahh, mungkin jawabannya tergantung kepada kapasitas keilmuan kita masing-masing. Buat saya sendiri yang tidak banyak tahu ini hanya bisa berfikir, bahwa cinta kasih itu harus senantiasa dirawat, dibina dan dipertahankan, supaya pernikahan langgeng, walaupun saya pun tidak tahu bagaimana yang akan terjadi nanti, karena masa depan adalah hal yang ghaib.

Hehehe, terlalu serius mungkin ya.. padahal saya hanya ingin mempostingkan sebuah artikel di halaman ini, artikel yang sangat bagus berkenaan dengan bagaimana cara merawat cinta kasih suami istri, dengan mengambil teladan dari kehidupan rumah tangga sosok manusia yang paling utama, yakni Rasulullah Muhammad SAW. Penasaran dengan artikelnya? Yuk ikuti tulisan saya di bawah ini…

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab: 21)

Teladan Rasul dalam Merawat Cinta Kasih Suami Istri

Sangat banyak kemesraan baginda Nabi SAW kepada para istrinya yang patut diteladani. Keteladanan yang beliau praktekkan tiada lain untuk merawat cinta kasih serta mewujudkan pernikahan yang ideal. Berikut petikan beberapa kisah tentang bagaimana Rasulullah SAW merawat cinta kasih dalam rumah tangga beliau..

Rasulullah SAW Bercanda dengan Istri-istrinya

A’isyah R.A. salah seorang isteri Rasulullah SAW berkisah, “Aku mandi bersama Rasulullah SAW dalam satu bejana. Aku mendahului mengambil gayung, dan beliau mendahuluiku sambil bersabda, ‘Tinggalkan untukku’. Dan aku berkata, ‘Tinggalkan untukku. Sisakan untukku’.” Beliau menyiduk air sebelum A’isyah, dan A’isyah menyiduk air sebelum beliau.

Begitu mesra, romantis, penuh canda dan cinta kasih. Adegan mesra itu terkemas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i, Ahmad, Bukhari, dan Muslim. Ya, betapa mesra Rasulullah SAW terhadap istrinya. Dalam riwayat Ibnu Hibban menambahkan, “Dan tangan kami bersentuhan”. Di lain pihak, dalam sebuah kesempatan, sang istri meminyaki tubuh atau menyisir rambut beliau, dan sebagainya.

Istri beliau yang lain, Ummu Salamah, juga biasa mandi bersama Rasulullah SAW dari satu bejana dan beliau suka menciumnya, padahal beliau sedang dalam keadaan berpuasa.

Pernah kedua istrinya, yaitu A’isyah dan Saudah R.A., mereka berdua asyik bercanda, saling membalas melumuri wajah madunya dengan sebuah makanan sejenis jenang. Rasulullah SAW tidak hanya tersenyum simpul, bahkan juga ikut menyemangati kedua istrinya.

Rasululullah SAW Memanggil Istrinya dengan Panggilan Yang Indah

Beliau juga biasa memanggil istri-istrinya dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah. Siti A’isyah biasa dipanggil dengan panggilan “Ya Humaira” (wahai yang pipinya kemerah-merahan). Sebuah panggilan yang benar-benar mampu membuat pipi A’isyah bersemu merah jambu, malu dan salah tingkah. Cara yang sederhana dan bersahaja.  Namun coba bayangkan, istri mana yang tidak tersanjung saat dipanggil oleh suaminya dengan panggilan seperti itu?

Rasulullah SAW Bermain dan Memanjakan Isterinya

A’isyah R.A. ingat persis ketika Rasulullah SAW menggendongnya mesra untuk melihat orang-orang Habsyi bermain-main di pekarangan masjid hingga ia merasa bosan. Di hari yang lain, suaminya tercinta malah mengajaknya berlomba lari dan mencuri kemenangan atasnya saat badannya bertambah subur.

Rasululullah SAW pun biasa memijit dan menjepit hidung A’isyah dengan penuh kasih sayang dan memanjakan jika ia sedang marah, dan beliau berkata, “Wahai A’isyah, bacalah do’a: ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’.” (HR. Ibnu Sunni).

Rasulullah SAW di pangkuan A’isyah R.A.

Dalam perang di kaki Bukit Uhud, sebelah timur laut madinah, mula-mula Rasulullah SAW tak mengizinkan seorang muslimah pun ikut serta. Tapi, Nasibah binti Ka’b, wanita bani Khazraj, merasa terpanggil mendampingi suaminya, Zaid bin Ashim, dan dua puteranya, Abdullah dan Habib yang berjihad.

Begitu pula A’isyah binti Abubakar, istri Rasulullah SAW, dan Ummu Sulaim, istri Abu Thalhah Al-Anshari. Mereka pun ingin pula berperan serta dalam perang besar itu. Mereka datang membawa beberapa kantung kulit penuh air untuk membantu prajurit muslim yang kelelahan atau terluka.

Artinya, peran kaum wanita dalam islam bukan hanya “di belakang”: mempersiapkan rumah tangga dan melayani suami serta mendidik anak-anak. Bahkan lebih dari itu, mereka juga boleh mendampingi suami dan anak-anaknya yang sedang berjihad fi sabilillah.

Suatu hari, Rasulullah SAW sedang dalam perjalanan bersama beberapa sahabat. Tak ketinggalan, salah seorang isteri beliau, A’isyah R.A. ikut serta dalam perjalanan tersebut. Ketika rombongan tiba di Al-Baidha atau Dzat Al-Jaisy, antara Madinah dan Khaibar, kalung A’isyah putus dan hilang. Mereka pun mencarinya, tapi tak menemukannya. Akhirnya mereka menghentikan pencarian dan istirahat.

Ternyata di sana tidak ada air, padahal persediaan air sudah habis. Orang-orang pun menemukan Abubakar Ash-Shiddiq R.A. “Apakah engkau tidak melihat apa yang dilakukan A’isyah? Dia menahan perjalanan Rasulullah dan rombongan, padahal di sini tidak ada air, dan persediaan air tinggal sedikit,” kata seorang di antara mereka.

Mendengar itu Abubakar pun mendatangi puterinya yang sedang bersama sang suami. saat itu Rasulullah SAW sedang tidur-tiduran dengan meletakkan kepala beliau di pangkuan A’isyah R.A. “Engkau telah menahan perjalanan Rasulullah dan rombongan di tempat yang tidak ada air. Mereka tidak punya persediaan air sama sekali,” kata Abubakar marah sambil mencubit putrinya itu.

Tapi meskipun merasa kesakitan, A’isyah tidak bergerak sama sekali, menjaga agar Rasulullah SAW tidak terganggu, karena kepala beliau tergolek di pangkuannya. Sang suami tercinta yang berperawakan sedang, berambut tak terlalu ikal, dengan bola mata bundar, dan berkulit putih kemerahan itu, sedang nyenyak tidur di pangkuan istri tercinta. Baru esok paginya beliau bangun, sementara rombongan kafilah itu tidak mendapatkan air.

Ketika itulah Allah SWT mewahyukan sebuah ayat tentang dibolehkannya bertayamum, sebagaimana terabadikan dalam surah Al-Maidah ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak shalat, basuhlah muka dan tangan kalian sampai siku, dan sapulah kepala dan kaki kalian sampai kedua mata kaki. Dan jika kalian junub, mandilah. Dan jika kalian sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci). Sapulah muka dan tangan kalian dengan debu. Allah tidak menyulitkan, tetapi Dia membersihkan kalian dan menyempurnakan nikmat-Nya bagi kalian, supaya kalian bersyukur.”

Maka rombongan itu pun melakukan tayamum. Dan ketika mereka membangunkan unta yang diduduki oleh A’isyah R.A., ternyata kalung yang hilang itu berada di bawah perut unta.

Rasululullah SAW Makan & Minum Sewadah Berdua dengan Istrinya

Nabi SAW  pernah minum di gelas yang digunakan ‘Aisyah. Beliau juga pernah makan daging yang pernah digigit A’isyah. (H.R. Muslim)

Dari A’isyah R.A., ia berkata: “Saya dulu biasa makan his (sejenis bubur) bersama Nabi SAW.” (H.R. Bukhori)

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Aisyah R.A. juga berkata: “Aku biasa minum dari gelas yang sama ketika haidh, lalu Nabi SAW mengambil gelas tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat aku meletakkan mulut, lalu beliau minum.” (H.R. Abdurrozaq, Said bin Manshur dan Muslim dalam riwayat yang senada)

Rasulullah SAW Mengundi di Antara Isteri-isterinya

Ketika Rasulullah SAW menikahi Hafshah, putri sahabat ‘Umar bin Khatthab R.A., tentu saja A’isyah bingung menentukan sikap. Sebab pernikahan tersebut sangat mengembirakan ‘Umar dan direstui kaum muslimin. Maka ia pun diam meskipun sangat cemburu, sampai datang istri-istri Rasulullah SAW yang lain.

Ia berusaha menempatkan Hafshah sebagai tetangga bilik terdekat, dan yang paling tepat mendampinginya dalam menghadapi berbagai persoalan. Sebaliknya Hafshah merasa, kalaupun ia boleh memprotes istri-istri Rasulullah SAW, protes tersebut tidak tepat dialamatkan kepada A’isyah yang sudah lebih dulu dinikahi oleh Rasulullah SAW.

Perasaannya memang terluka ketika tahu betapa besar cinta Rasulullah SAW kepada A’isyah. Namun, ketika para istri Nabi yang lain berturut-turut datang, tanpa ragu ia pun datang menghampiri A’isyah. Selain itu, karena watak yang suka protes, Hafshah menutupi kecemburuannya terhadap A’isyah dan berusaha berteman dengannya.

Suatu hari Rasulullah SAW bermaksud melakukan perjalanan. Maka beliau pun mengundi di antara istri-istri beliau. Ternyata undian itu dimenangkan oleh A’isyah dan Hafshah. Maka mereka pun berangkat bersama.

Ketika malam tiba, Rasulullah SAW selalu berjalan bersama A’isyah sambil ngobrol. Melihat itu, diam-diam cemburu Hafshah membara. Tak lama kemudian ia pun menemui A’isyah, katanya, “Wahai adinda, bagaimana kalau malam ini engkau sebaiknya naik untaku dan aku naik untamu? Lalu kita perhatikan apa yang terjadi nanti.”

“Baiklah”, jawab A’isyah yang merasa yakin Rasulullah SAW akan tetap mencarinya manakala beliau tahu yang naik untanya adalah istri yang suka membantah manakala Rasulullah SAW mengutarakan sesuatu yang tidak disukainya.

Ketika A’isyah dan Hafshah bertukar unta, ternyata Rasulullah SAW mendatangi unta A’isyah, meskipun tahu benar yang naik unta itu adalah Hafshah. Beliau tetap berjalan bersama Hafshah hingga tiba di tempat persinggahan. Menyadari perkiraannya salah, A’isyah kala itu pergi menjauh dari tenda Rasulullah SAW dan bernaung di bawah pohon, menyesali diri dan kecewa suaminya tidak mencarinya.

Rasulullah SAW Menuntun Para Isterinya Untuk Teguh Beragama

Suatu pagi di hari Jum’at, Rasulullah SAW mendapati Juwairiyyah salah seorang isteri beliau sedang bertasbih. Rasululullah SAW pun pergi untuk suatu urusan. Menjelang tengah hari Rasulullah SAW kembali pulang, dan beliau mendapati Juwairiyyah masih bertasbih di tempat yang sama. “Engkau masih duduk di situ?” tanya Rasulullah SAW.

“Benar, ya Rasulullah,” jawab sang istri. “Bukankah aku telah mengajarkan kepadamu beberapa kalimat? Jika engkau timbang pahalanya, akan sama dengan tasbih yang engkau panjatkan itu. Kalimat itu adalah Subhanallah ‘adadi khalqihi (Maha Suci Allah sebanyak makhluk-Nya) tiga kali; Subhanallah zinata ‘arsyihi (Maha Suci Allah sesuai berat arsy-Nya) tiga kali; Subhanallah midada kalimatihi (Maha Suci Allah seberat kalimat-Nya) tiga kali.”

Begitulah Rasulullah SAW mengarahkan Juwairiyyah, juga para isteri beliau yang lain tentang cara beribadah yang terbaik. Di hari yang lain, RAsulullah SAW mendapatkan istrinya itu berpuasa pada hari Jum’at. “Apakah engkau kemarin berpuasa?” tanya Rasul. “Tidak,” jawab Juwairiyyah. “Apakah besok engkau ingin berpuasa?” tanya beliau lagi. “Tidak,” jawab Juwairiyyah. “Kalau begitu, berbukalah,” sabda Rasulullah SAW. Maka Juwairiyyah pun mengikuti tuntunan ibadah yang diajarkan Rasulullah SAW.

Dalam sebuah hadits, A’isyah R.A. bercerita, “ketika memasuki hari kesepuluh Ramadhan, Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam harinya dengan shalat dan membangunkan keluarganya.”

Ummu Salamah isteri Rasulullah SAW yang lain juga meriwayatkan, suatu malam tiba-tiba beliau bangun dan berkata, “Subhanallah, fitnah apa yang diturunkan malam ini… wahai penghuni kamar (maksudnya membangunkan para istri untuk shalat), betapa banyak kemuliaan di dunia, tapi ia tercela di akhirat.”

Begitulah cara Rasulullah SAW merawat cinta kasih dan menjaga rumah tangganya. Beliau mencintai para istri dengan mengajak untuk teguh dalam beragama, menasihati dan mengajar mereka, membantu agar lebih taat dan dekat kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW Menghapus Air Mata Isterinya

Suatu malam Rasulullah SAW keluar dari bilik Maimunah binti Harits, salah seorang isterinya, lalu Maimunah menutup pintu. Tak lama kemudian Rasulullah SAW datang kembali dan meminta agar isterinya membukakan pintu. Tapi rupanya maimunah enggan membukanya.

“Apakah engkau mendatangi istri-istrimu pada malam giliranku?” tanya Maimunah. “Tidak. Tapi ada sumbatan dalam air kencingku,” jawab rasulullah SAW dengan tenang. Kalau dalam bahasa lugasnya, beliau kebelet pipis.

Setelah pintu dibuka dan Rasulullah SAW masuk, dengan lembut dan santun beliau berdialog dengan isterinya itu di tengah malam, mampu mengendalikan emosi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Beliau tidak marah, tidak meninggalkan, tidak mengancam, dan tidak berteriak-teriak minta dibukakan pintu.

Suatu hari Rasulullah SAW menunaikan ibadah haji bersama isteri-isterinya. Tiba di suatu tempat, seseorang turun menuntun unta yang dikendarai isteri-isteri beliau dengan cepat sekali. Rasulullah SAW agak gusar, lalu menegurnya, “Seperti itukah kamu menuntun unta yang mereka kendarai?”

Mendadak unta yang dikendarai Shafiyah, istri Nabi mendekam. Shafiyah pun menangis. Maka Rasulullah SAW pun mendatanginya, dan menghapus air mata istrinya itu dengan telapak tangan beliau yang mulia.

Karena tangisan Shafiyah semakin menjadi-jadi, beliau pun memerintahkan agar kafilah jamaah haji itu berhenti dan mendirikan tenda. Kebetulan hari itu giliran Rasulullah SAW bersama Shafiyah. Tapi Shafiyah tidak tahu bagaimana cara menemui Rasulullah SAW di tendanya. Ia khawatir Rasulullah SAW tak berkenan setelah tahu ia barusan menangis.

Akhirnya ia menemui A’isyah. “Engkau tahu, aku tidak akan pernah menggantikan hari giliranku bersama Rasulullah dengan sesuatu apapun. Namun hari ini aku berikan giliranku kepadamu, asal engkau dapat membuat Rasulullah ridha kepadaku.”

“Baiklah,” jawab A’isyah. Lalu A’isyah mengambil kain penutup muka yang telah disiapkan Shafiyah dengan wewangian Za’faran, mengenakannya, lalu menemui Rasulullah SAW. Begitu ia membuka pintu tenda, Rasulullah SAW menyapanya, “A’isyah, ada apa? Hari ini kan bukan hari giliranmu”. “Karunia Allah dianugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya,” jawab A’isyah.

Betapa indah pergaulan sehari-hari keluarga Rasulullah SAW. Meskipun Shafiyah menangis gara-gara hal sepele, Rasulullah SAW tidak menganggapnya remeh. Dengan mesra beliau menghapus air mata istrinya dengan telapak tangan beliau. Bahkan beliau memerintahkan kafilah jamaah haji itu berhenti, hanya gara-gara Shafiyah menangis.

Dalam perjalanan yang lainnya pun, Anas R.A., berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku melihat Nabi SAW menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau diperuntukkan bagi Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau, dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga ia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)

Masih banyak lagi kisah kemesraan baginda Nabi SAW kepada para istrinya yang tidak mungkin untuk dicatatkan seluruhnya di halaman ini. Seperti, bersikap lemah lembut ketika istrinya sedang sakit, memperhatikan perasaan mereka, dsb. Hal ini menggambarkan bahwa agama Islam yang dibawanya benar-benar mengajarkan kelembutan dan kasih sayang terhadap pasangan, bahkan Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban)

Sahabat Rumah Cahaya, alhamdulillah selesai sudah artikel yang membahas tema merawat cinta kasih suami istri ini. Cinta kasih menurut syariat Islam yang rahmatan lil’alamin. Semoga kita semua bisa meneladaninya, sehingga kehidupan pernikahan kita pun bisa langgeng disertai ridha-Nya. Aamiin.. ~ Cepi Nugraha

Bagikan Artikel...
Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!