Memilih Jodoh Menurut Islam

June 23, 2013 oleh Kirimkan Komentar
Kategori: Mutiara Hikmah 
Memilih Jodoh Menurut Islam

Memilih Jodoh Menurut Islam

Cara memilih jodoh menurut Islam yang saya tuliskan sebagai salah satu artikel blog ini bersumberkan dari pembahasan yang berkenaan dengan hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih jodoh. Pembahasan ini terdapat dalam buah karyanya Syaikh Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi yang berjudul Mau’izhatul Mu’minin yang merupakan ringkasan dari Ihya’ ‘Ulumuddin, sebuah karya besarnya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali r.a.

Sahabat-sahabat, pembahasan ini jika dilihat sepintas sepertinya lebih ditujukan buat Anda kaum lelaki, namun sebenarnya tidak begitu, pembahasan ini pun bisa dijadikan rujukan bagi kaum perempuan. Sahabat perempuan pun jangan sampai berkecil hati, karena dengan mengetahui apa yang harus dipilih oleh seorang pria dari seorang wanita, maka sebagai perempuan atau wanita, Anda juga bisa lebih mengetahui apa-apa saja yang harus dipersiapkan supaya bisa menjadi ‘Wanita Terpilih’ atau ‘Wanita Pilihan’.. Siap?? Yuk sahabat, segera saja kita simak bahasan tentang cara memilih jodoh menurut Islam

Kriteria Memilih Jodoh Menurut Islam

Beberapa hal yang dapat menentramkan kehidupan yang harus diperhatikan dan yang ada hubungannya dengan persoalan wanita, dengan maksud agar ikatan pernikahan dengannya kekal dan tujuan-tujuan hidup dapat disempurnakan, maka setidaknya ada 8 macam, yaitu: agama, budi pekerti, kecantikan, ringan mahar/mas kawinnya, bisa beranak, gadis, keturunan yang baik, dan bukan termasuk keluarga dekat. Untuk perinciannya adalah sebagai berikut:

Pertama: Agamanya

Hendaknya wanita itu seorang yang shalih dan beragama kokoh. Ini adalah merupakan pokok yang paling utama, dan ini pulalah yang harus lebih diperhatikan serta diteliti benar-benar. Sebabnya ialah, apabila wanita itu lemah keagamaannya, juga apabila ia gegabah dalam menjaga harga diri serta kemaluannya, maka tentulah akan menyangkut pula nama dan kehormatan suaminya, memberikan noda hitam pada dahi dan muka suaminya, sementara hati sang suami akan tergoda terus menerus dengan perasaan cemburu, dan dengan demikian akan sempit dan selalu sukarlah kehidupan yang dihadapinya. Jikalau suami itu demikian keras sikapnya untuk membela kehormatan dan sangat cemburunya, maka berartilah bahwa hidupnya itu senantiasa dalam bahaya dan kesusahan, tetapi jikalau suami itu mempermudahdan menganggap ringan semua itu, maka sama halnya ia mempermain-mainkan agama dan kehormatannya, dan bisa dianggap memiliki sedikit kehormatan dan harga diri.

Demikian pula halnya wanita yang rusak agamanya, yang kesukaannya hanya membuang-buang percuma harta suaminya atau dengan jalan yang lainnya, maka kehidupan rumah tangga itupun akan menjadi terganggu dan tidak ada ketentramannya sama sekali. Jikalau suami itu hanya berdiam diri dan tidak mengingkari perbuatan isterinya, tentulah ini berarti bahwa ia telah berserikat dalam kemaksiatan dan benar-benar menyalahi firman Allah Ta’ala:

“Quu Anfusakum wa ahliikum naaraa”

“Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (Q.S. At-Tahrim: 6)

Tetapi Andaikata suaminya itu mengingkari perbuatan istrinya serta memperingatkannya, maka akan mempersempit kehidupan saja serta memperpendek usia akibat seringnya bertengkar.

Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam sangat menganjurkan apabila kita menghendaki perkawinan, maka haruslah mencari yang benar-benar kuat dan kokoh dalam menjalankan agamanya. hal ini ditekankan benar-benar sebagaimana sabda beliau:

“Tunkahulmar’atu limaa lihaa wa jamaa lihaa wa hasabihaa wa diinihaa. Fa’alaika bidzaatiddiini taribat yadaaka”

“Wanita itu boleh dinikahi karena hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan keagamaannya. hendaklah engkau mendapatkan yang kokoh agamanya, yang akan menenangkan kedua tangamu” (H.R. Bukhari, Muslim, dll.)

Kedua: Budi Pekertinya

Hendaklah diusahakan wanita yang baik budi pekertinya, sebab apabila wanita itu banyak omongannya lagi rendah sekali ucapannya, apalagi suka menutup-nutupi kenikmatan dan karunia Allah Ta’ala, maka sudah pastilah bahwa bahayanya akan lebih besar daripada manfaatnya.

Salah satu macam ujian yang diberikan oleh Allah Ta’ala kepada para kekasih-Nya (kaum auliya’ atau wali) itu ialah sabar dan tabah atas ucapan yang dikeluarkan oleh istri-isterinya.

Ketiga: Kecantikannya

Hendaklah pula diusahakan yang cantik roman mukanya. Persoalan ini memang dikehendaki demi untuk menenangkan hati suami, sehingga terhindar dari segala sesuatu yang kurang patut. Memang demikianlah kehendak hati itu, yakni biasanya merasa tidak atau kurang puas terhadap wajah yang kurang baik.

Jikalau di awal tadi disebutkan supaya lebih diutamakan untuk mencari yang kuat keagamaanya, hal itu bukanlah sekali-kali berarti bahwa tidak perlu lagi diperhatikan kecantikan roman muka, tetapi yang dimaksudkan ialah sebagai larangan untuk menikah semata-mata hanya karena menginginkan kecantikannya, sebab tidak akan ada manfaatnya sama sekali roman muka yang cantik molek itu apabila rusak agamanya.

Hanya dengan adanya kecantikan saja, maka menurut kebiasaan hal itu dapat menimbulkan keinginan untuk kawin, tetapi tanpa diperhatikan unsur keagamaannya, maka dapat melemahkan urusan keagamaannya itu sendiri. Jadi anjuran untuk mengambil istri yang cantik itu diartikan bahwa dengan kecantikan itu biasanya akan diperoleh kerukunan hidup dan keserasian dalam rumah tangga, serta saling cinta-mencintai antara suami dan isteri. Bahkan syari’at sendiri menganggap sunnah untuk memelihara sebab-sebab kerukunan dan ketenangan rumah tangga, dan oleh sebab itu disunnahkan melihat wajah wanita itu sebelum menikahinya, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“idzaa auqa’allaahu fii nafsi ahadikum¬† ilaihaa, fainnahu ahraa an yu’dama bainahumaa”

“Apabila Allah telah menjatuhkan cinta pada hati seseorang diantara kamu semua, maka hendaklah melihat wanita itu, sebab yang demikian ini lebih nyata dapat menyebabkan timbulnya kerukunan diantara keduanya” (H.R. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasa’i)

Sebagai ahli wara’ yang sangat taqwa kepada Allah Ta’ala, juga tidak suka menikahkan anak-anak dan keluarganya, melainkan tentu lebih dulu melihat calon sisihannya, dan ini dimaksudkan untuk menjaga dari adanya tipu daya atau hal-hal yang tidak diinginkan. A’masy berkata, “Suatu perkawinan yang terjadi tanpa melihat masing-masing pihaknya lebih dulu, pasti akan berakhir dengan kesusahan dan dukacita”

Ada suatu peristiwa yang terjadi pada zaman pemerintahan Sayyidina ‘Umar bin Khatthab, yaitu ada seorang laki-laki yang sebenarnya sudah banyak ubannya, tetapi rambut-rambutnya itu disemirnya atau disumbunya sehingga tidak tampaklah ubannya lagi. Setelah ia menikah, lalu keluarga wanitanya mengadukan hal tersebut kepada ‘Umar dan berkta, “Kami semua mengira bahwa ia masih muda”. Orang lelaki itu dipanggil dan dipukul hingga menyakitkan sekali. Ketika itu ‘Umar berkata, “Engkau telah menipu orang banyak”.

Penipuan itu dapat terjadi terkadang dalam persoalan yang berupa kecantikan atau ketampanan, dan kadang-kadang berupa budi pekerti. Oleh sebab itu diharuskan melenyapkan tipuan yang berupa kecantikan atau kegantengan itu dengan jalan melihat seteliti-telitinya. Sedangkan yang berhubungan dengan budi pekerti dan akhlak, tentulah dengan melihat keadaan atau menanyakannya pada orang lain. Tentunya tidak dapat memberikan keterangan mengenai tabiat seseorang itu ataupun akhlak dan budinya, melainkan orang yang benar-benar bijaksana, cerdik dan mengerti persoalan ini, mengetahui hal ihwalnya, baik yang lahiriah ataupun bathiniahnya. Jadi, orang yang dimintai petunjuk itu hendaknya dipilih-pilih dengan baik. Jangan sampai karena senangnya, ia lalu berlebih-lebihan memujinya. Jangan pula karena kedengkiannya, lalu ia melontarkan tuduhan yang tidak semestinya. Memang sedikitlah orang yang dapat dimintai tolong mengenai persoalan ini, jarang yang dapat dianggap benar kata-katanya, bahkan yang menjadi penipu dan menyesatkan saja yang banyak terdapat di sana sini. Oleh sebab memang demikian kebanyakannya di dunia ini, maka berhati-hati dalam pemilihan jodoh itu harus diutamakan sekali.

Keempat: Ringan Mahar/Mas Kawinnya

Hendaklah ringan mahar atau mas kawinnya. Rasulullah sendiri melarang memahal-mahalkan dalam persoalan mas kawin ini. Sebagian sahabat ada yang menikah dengan memberikan mahar berupa emas sebutir yang harganya ditaksir hanya 5 dirham saja. Sa’id bin Muayyab menikahkan puterinya dengan Abu Hurairah r.a. dengan mahar hanya 2 dirham. Putrinya itu dibawanya ke tempat calon suaminya di waktu malam, kemudian dimasukkannya dari pintu muka, dan setelah itu ditinggalkannya. Kemudian setekah seminggu lamanya datang pulalah ayah wanita ini dan memberikan salam padanya. Dalam sebuah hadits disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

“Min barakatilmar’ati sur’atu tazwiijihaa wa sur’atu rahmihaa (ayilwilaadah) wa yusri mahrihaa”

“Salah satu tanda keberkahan wanita ialah cepat perkawinannya, cepat pula mengandungnya (yakni melahirkan anaknya), dan ringan maharnya”. (H.R. Ahmad dan Baihaqi)

Sebagaimana dimakruhkannya memahal-mahalkan dalam soal maskawin bagi wanita, maka dimakruhkan pulalah menanyakan harta milik wanita itu bagi lelaki yang hendak mengawininya. Maka dari itu janganlah pernikahan itu terjadi atas dasar loba (tamak) pada harta wanita tadi. Selain itu, apabila lelaki itu diberi hadiah, maka jangan sekali-kali pemberian hadiahnya itu dimaksudkan untuk memperoleh pengembalian hadiah yang lebih besar daripada yang dihadiahkan tadi. Oleh sebab itu, apabila ada suatu hadiah diberikan dengan tujuan atau niat untuk memperoleh tambahan, maka niat yang sedemikian itu adalah buruk dan rusak sama sekali, dan hal itu dapat dimasukkan dalam larangan yang difirmankan oleh Allah ‘Azza wa Jalla:

“Wa laa tamnun tastaktir”

“Janganlah kamu memberikan untuk memperoleh yang lebih banyak” (Q.S. Al-Mudattsir: 6)

Jadi maksud niatnya ialah memberi agar nantinya mendapat pengembalian yang lebih banyak dari yang diberikan tersebut.

Kelima: Bisa Beranak (Tidak Mandul)

Hendaklah diusahakan bahwa wanita itu dapat melahirkan anak yang banyak. Oleh karenanya, maka apabila seorang lelaki itu telah mengetahui bahwa calon istrinya adalah seorang wanita yang mandul, sebaiknya diurungkan saja niat menikahinya.

Keenam: Masih Gadis (Perawan)

Hendaklah wanita itu masih gadis dan bukan janda. Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda kepada salah seorang sahabat beliau yakni Jabir r.a. karena ia mengawini seorang perempuan janda, yaitu:

“Hallaa bikran tulaa’ibuhaa wa tulaa’ibuka”

“Alangkah baiknya jikalau istrimu itu seorang gadis yang engkau dapat bermain-main dengannya, dan ia dapat bermain-main denganmu” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ketujuh: Keturunan Yang Baik

Hendaklah wanita tersebut dari golongan keturunan yang baik, dan ini dimaksudkan bahwa wanita itu dari asal usul ayah dan ibu atau hidup dalam keluarga yang bercorak keagamaan dan ahli kebaikan. Sebab wanita dari keturunan yang demikian inilah yang akan dapat mendidik serta mengasuh putera-puterinya dengan budi kesopanan yang terpuji. Kita tentu memaklumi, bahwa apabila wanita bukan seorang yang baik didikannya, tentunya tidak dapat pula mendidik dan mengasuh anak-anaknya dengan baik. Pendidikan serta ajaran yang diberikan pada anak-anaknya itupun berupa didikan dan ajaran yang tidak baik pula. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

“Takhayyaruu lituthfikum fainnal’irqa nizaa’u”

“Pilih-pilihlah untuk meletakkan air manimu itu, sebab urat itu dapat beradu (bertentangan)”. (H.R. Ibnu Majah)

Kedelapan: Bukan Keluarga Dekat

Hendaklah wanita itu bukan dari keluarga yang sangat dekat hubungannya, sebab hal itu mungkin dapat mengurangi timbulnya kesyahwatan.

Delapan persoalan di atas itulah yang merupakan hal-hal yang sangat dianjurkan untuk dimiliki kaum wanita dan dianjurkan pula untuk memilihnya dalam perkawinan/pernikahan.

Demikianlah sahabat-sahabat pembahasan yang saya tulis ulang ini. Kedelapan kriteria memilih jodoh di atas bisa kita anggap pula sebagai tips memilih jodoh menurut Islam yang bisa kita jadikan rujukan untuk memilih pasangan hidup yang akan mendampingi kita di kehidupan ini dan insyaallah hingga kehidupan nanti di akhirat. Semoga bermanfaat..
~ Cepi Nugraha

Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!