/SMS/WA : 08112225788 (08-21.00 WIB) Untuk konsultasi, terapi, dan ruqyah dikenakan infaq seikhlasnya


Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga

Kebahagiaan Keluarga

Seorang ‘alim pernah berkata, bahwa seninya mengarungi gelombang kehidupan demi mencapai pribadi maupun kebahagiaan dalam kehidupan berumah tangga, sedikitnya harus memiliki empat jurus atau empat kunci kebahagiaan rumah tangga sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW berikut,

“Ada empat perkara yang menjadi kebahagian seseorang, yaitu: mempunyai istri yang baik (shalihah), anak yang terdidik, bergaul di lingkungan yang baik, dan mempunyai rezeki di mana ia berada.” (H.R. Dailami dari ‘Ali R.A)

Saya juga mendapatkan hadits yang redaksinya hampir sama yang juga diriwayatkan oleh Dailami, yaitu:

“Bahwa kebahagiaan keluarga dapat tercapai apabila terpenuhi empat perkara, yakni: keserasian antar suami istri, mempunyai anak yang terdidik, bergaul dengan orang yang shaleh, dan memiliki ketrampilan yang dapat menambah penghasilan.” (H.R. Dailami)

Kemudian ia pun menjelaskan satu persatu tentang empat perkara yang dapat mengantarkan manusia hidup berbahagia.

Empat Kunci Kebahagiaan Rumah Tangga

Berikut ini empat kunci kebahagian rumah tangga yang telah beliau (orang ‘alim) sampaikan..

1. Mempunyai Istri Yang Shalihah

Seorang istri yang shalehah terlihat dalam gaya hidup rumah tangganya. Ia senantiasa taat dan patuh terhadap suaminya dalam hal kebenaran dan kebaikan, namun tidak dalam hal maksiat. Bila ia disuruh kepada perbuatan maksiat, ia mampu menolak dan tidak mentaatinya, bahkan ia menasehati suaminya secara halus dan bijaksana.

“…sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah Ta’ala, lagi memelihara diri dibalik pembelakangan suaminya oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…” (Q.S. An-Nisa: 34)

Istri yang shaleh dapat memberikan suri teladan yang baik dalam kehidupan berumah tangga, terhadap anak-anaknya, maupun terhadap lingkungan. Dengan demikian, baik buruknya rumah tangga serta lingkungannya tergantung kepada kepribadian seorang isteri.

Karena itu, agar bisa mencapai keluarga yang bahagia, syaratnya ialah mempunyai istri yang shaleh. Isteri yang mampu memberi dorongan semangat kepada suami dalam rangka menegakkan agama, seperti halnya apa yang telah diperbuat pleh istri Rasulullah, Siti Khadijah R.A. Seluruh kekayaannya ia korbankan untuk kepentingan syi’ar Islam dengan senantiasa mengharap ridha Allah SWT.

2. Anak Yang Terdidik.

Islam mewajibkan kepada orangtua untuk mendidik anak-anaknya dengan pendidikan yang baik. Pendidikan terhadap anak semestinya ditanamkan semenjak dini. Pendidikan itu terutama harus ditanamkan oleh ibu kandungnya. Seorang ibu yang dalam keadaan hamil, harus memperhatikan perilaku baik dalam kehidupan sehari-harinya. Karena gaya hidupnya selama hamil bukan tidak mungkin akan dicontoh oleh anaknya yang bakal lahir ke dunia. Bila saat hamilnya senang membaca al-Qur’an dan mengikuti pengajian-pengajian, maka insyaallah dengan sendirinya anak itu akan suka pula berbuat demikian. Seorang ibu yang hamil juga harus memperhatikan apa-apa yang dimakannya. Sebab makanan akan menentukan sikap seorang anak yang berada dalam kandungan.

Setelah anak lahir ke dunia, maka kedua orang tua mempunyai kewajiban yang sama terhadap kelanjutan pendidikan anak-anaknya. Orang tua hendaklah menjelaskan sesuatu yang belum dimengerti oleh anak. Setelah anak berumur 7 tahun misalnya, hendak ia disuruh shalat, diajarkan tatacara beribadah kepada Allah SWT. Setelah berumur 10 tahun, bila si anak tidak mau mengerjakannya, maka orang tua wajib memberi pelajaran dengan cara memukulnya dengan pukulan yang ringan dengan maksud mendidik. Kemudian setelah menginjak remaja ditekankan pengajaran tentang agama Islam sesuai dengan kadar pemahamannya. Demikian perhatian Islam terhadap anak pada setiap fase kehidupannya.

3. Bergaul di Lingkungan Yang Baik

Lingkungan merupakan hal penentu untuk membentuk rumah tangga yang baik. Kalaulah lingkungan itu baik, maka sebuah rumah tangga akan baik pula. Tetapi kalau lingkungan itu rusak, maka rumah tangga pun bisa ikut binasa.

Dalam hidup bermasyarakat, manusia kadang-kadang lupa meneliti dan memahami bagaimana keadaan seseorang yang menjadi temannya dalam bergaul, dan kadang-kadang mereka terbawa hanyut oleh arus pergaulan. Inilah yang sebenarnya akan merusak seseorang dalam kehidupan bermasyarakat.

Islam sudah mengatur sedemikian rupa tata cara hidup bermasyarakat. Seseorang yang akan kita rangkul untuk dijadikan teman hidup harus kita perhatikan kepribadiannya. Kalau kepribadiannya baik, itulah yang akan menjadi salah satu sumber kebahagiaan hidup rumah tangga.

4. Mempunyai Rezeki Dimana Ia Berada

Harta adalah salah satu hal yang pokok dalam kehidupan. Dengan harta manusia akan menjalankan roda kehidupan dalam rangka mencapai kebahagiaan. Namun, di sisi lain harta bisa membenamkan manusia ke jurang kebinasaan. Sudah berapa banyak manusia yang tenggelam dengan melupakan Allah, jauh dari agama. Karena terlalu disibukkan oleh harta benda, mereka ingin terus mengejar kejayaan, pangkat dan jabatan. Bagaimana supaya kita tidak terjerumus ke jurang kebinasaan, maka harus pandai-pandailah menggunakan harta itu dengan sebaik-baiknya.

Dalam kehidupan ini manusia bisa mencari nafkah dengan bermacam-macam usaha, sesuai menurut kadar kemampuan manusia itu sendiri. Untuk mencapai kebahagiaannya, manusia bebas memilih bentuk pekerjaannya, apakah menjadi pedagang, buruh, petani, membuka sebuah perusahaan atau pabrik, sepanjang mereka mencari rezeki dengan cara yang halal. Semuanya ini tentunya mereka lakukan untuk mengubah nasib mereka supaya menjadi manusia yang hidup dalam kebahagiaan, baik kebahagiaan di dunia maupun di kampung akhirat kelak.

Sahabat Rumah Cahaya, demikianlah apa yang telah disampaikannya mengenai empat jurus atau empat kunci kebahagiaan rumah tangga ini. Mudah-mudahan membawa manfaat buat kehidupan kita semua… ~ Cepi Nugraha