Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "
Ketika Orang Tua Tidak Merestui Hubungan Cinta Anaknya

Ketika Cinta Tidak Direstui

Judulnya mantappp bukan? Mantap tapi bermasalah, hehehe. “Ketika Orang Tua Tidak Merestui Hubungan Cinta Anaknya“. Ya, seperti biasa, artikel-artikel blog yang saya tulis belakangan ini banyak mengupas isi dari pesan-pesan yang masuk, seperti juga pada artikel kali ini.

Saya menuliskannya kembali di blog supaya bisa menjadi renungan, pelajaran, serta manfaat bagi semua. Dan insyaAllah saya tetap menjaga etika, dengan tidak menyebutkan nama atau data si pengirim, sehinga jika terdapat aib, maka tidak sampai membukakan aib seseorang.

Pesan yang saya terima di kotak masuk email atau surel tersebut merupakan curahan hati yang dikirim oleh seorang perempuan lajang dengan subjek: Bantuan untuk memecahkan masalah.

Isi pesan yang saya terima darinya mula-mula adalah sebagai berikut:

Assalamualaikum Pak, saya ingin curhat.. Saya berumur 22 tahun. Saya punya pacar, dan hubungan kami sudah berjalan 4,5 tahun. Namun selama 4,5 tahun itupun orang tua saya tidak merestui hubungan kami. Saya sangat menyayanginya dan dia juga menyayangi saya. Orang tua saya bilang, saya sayang dia karena dia memelet saya. Tapi saya tidak percaya itu, karena saya yakin dia bukan orang seperti itu, dan saya yang menjalani hubungan ini sangat mengerti akan sifat dia.

Ibuku pernah bilang, kalau beliau malu jika aku menikah dengan orang miskin. Padahal keluargaku pun bukan termasuk orang kaya, dan keluarga pacar saya biasa-biasa saja, bapaknya tukang becak, ibunya buruh bantu di rumah tetangga atau di tempat hajatan. Sebenarnya ibu malu karena pamanku seorang tentara, dan ibu bilang kalau pakde ingin sekali melihat keluarga saya jatuh, dan saya sebagai taruhannya karena saya anak tunggal. Jika saya mendapat suami yang dari keluarga miskin, orang-orang akan menertawakan saya.

Berbagai cara sudah dilakukan orang tua saya untuk memisahkan kami, tapi kami tetap bertahan dan berjanji akan tetap bersama. Sebenarnya saya sangat tersiksa di rumah, karena saya sama sekali tidak diizinkan keluar rumah, bahkan ke rumah tetangga pun saya selalu ditelpon-telpon suruh pulang. Jika ada teman saya datang ke rumah, ibu selalu memasang wajah yang tidak menyenangkan.

Di sisi lain, ibu saya sedang berencana menikahkan saya dengan seorang tentara yang ibu masukan lewat jalur belakang alias nyogok. Dan setelah masa pendidikan selesai saya akan dinikahkan, padahal saya sudah bilang tidak mau. Sekilas flashback, ibu saya pernah memukuli saya dan pacar saya karena ketahuan bertemu di belakang mereka. Mereka akan melakukan apapun untuk memisahkan kita tanpa mempedulikan perasaan saya. Yang mereka pikir hanya harta melimpah yang akan membuat saya bahagia. Saya ingin sekali mereka tau perasaan saya Pak, saya tidak ingin menjadi anak durhaka tapi di sisi lain saya tidak bisa menuruti keinginan mereka.

Apa yang harus saya lakukan Pak? Apa saya salah jika suatu saat saya sudah tidak tahan dengan perlakuan orang tua saya dan saya pergi dari rumah? Sempat terlintas di benak saya untuk menikah dengan wali hakim tapi saya takut salah langkah, karena saya ingin menikah seperti orang-orang lain yang berakhir bahagia. Tapi bagaimana caranya? Orang tua saya terlalu keras kepala dan terlalu mementingkan perasaan mereka? Tolong beri saya saran Pak, terimakasih banyak. Wassalamu’alaikum wr. wb.

Beberapa waktu kemudian, saya menerima curahan hatinya kembali seperti ini:

Assalamualaikum Pak. Saya mau curhat lagi karena saya sangat bingung.. Pacar saya tiba-tiba meninggalkan saya, saya sangat stres. Dia bilang ninggalin saya bukan dari hatinya, tapi disuruh ibu saya, karena ibu saya habis maki-maki ibunya dia Pak. Jadi dia gak mau ada apa-apa sama keluarganya.

Semakin hari ibuku semakin menjadi-jadi, kemarin saya habis adu pendapat, ibu saya marah gara-gara saya menolak dilamar oleh orang yang dijodohkan ke saya, saya gak punya perasaan apa-apa Pak ke anak itu. Kemarin saya menemui pacar saya, sepertinya ibu saya marah besar sampai-sampai tidak mau menyapa saya, setiap hari pasang wajah muram.

Apa yang harus saya lakukan pak? Saya sangat penat ditekan sana-sini. Saya tidak bisa berpendapat, setiap saya bicara, setiap apa yang saya lakukan, selalu salah di mata ibu dan bapak. Bahkan mereka mau mukul teman saya karena dianggap membantu saya dan pacar saya. Keluarga saya buta agama Pak, hanya saya yang shalat di rumah. Saya sudah mencoba mengingatkan agar ibu dan bapak mau shalat, tapi tetap saja gak ada hasilnya, jadi saya diam saja.

Andai saja ibu mengerti, saya ingin sekali menikah dengan pria pilihan saya Pak. Bukankah menikah itu ibadah? Tapi kenapa saya dilarang-larang?. Saya pernah tau, kalau anak wajib minta restu pada orang tua untuk menikah, dan orang tua wajib merestuinya. Menurut saya, gak ada salahnya menikah sama orang yang dari keluarga biasa-biasa saja, dan bukannya dalam Islam kita tidak boleh membedakan orang dari derajatnya? Apa yang harus saya lakukan Pak? Pikiran saya sudah tidak karuan, rasanya saya gak punya semangat hidup..

Cara Menghadapi Orang Tua Yang Tidak Merestui Hubungan Anaknya

Wahh, bukan perkara kecil memang. Andai saja kita sendiri yang mengalami masalah seperti yang dialami sahabat kita tersebut di atas, mungkin kita pun akan merasakan hal yang sama, kebingungan teramat sangat, hingga merasakan semangat hidup yang hilang. Namun sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, seberat apapun masalah, jangan sampai membuat kita putus asa, karena bagi Allah tidak ada masalah yang besar maupun kecil, mudah saja bagi-Nya jika Ia sudah berkehendak untuk memberikan jalan keluar.

Baik, bagi sahabat-sahabat yang membaca artikel ini, mari kita sama-sama analisa masalahnya dengan kembali membaca isi pesannya, serta mengambil poin-poinnya yang penting, dan saya senang senadainya nanti Anda juga urun rembug.

1. Pacaran telah berjalan 4,5 tahun

Pacaran alias berdua-duaan dengan yang bukan mahram sebelum terjadinya pernikahan termasuk pada kategori mendekati zina, dan merupakan perkara yang dilarang oleh agama, apalagi jika telah terjadi selama 4,5 tahun. Maka alangkah wajibnya hal ini dijauhi. Namun menjauhi zina tidak berarti sama dengan memutuskan tali cinta. Tetaplah mengusahakan terpadunya tali cinta tersebut menuju pernikahan dengan melakukan cara-cara yang lebih baik dan dibenarkan, jika memang laki-laki yang telah menjadi pilihan hati adalah seorang laki-laki yang baik untuk dijadikan sebagai imam di rumah tangga.

2. Orang tua yang egois dan jauh dari tuntunan agama

Jika apa yang dinyatakan dalam pesan itu benar, maka sikap egois orang tua dan jauhnya mereka dari tuntunan agama bisa kita lihat dari hal-hal berikut:

  • Menyangka putrinya telah dipelet tanpa bukti yang jelas termasuk kepada fitnah dan sikap yang suuzhan (buruk sangka) sehingga bisa menyebabkan dosa.
  • Malu jika putrinya sampai menikah dengan orang miskin merupakan sifat yang tidak terpuji, karena hartalah yang menjadi tolok ukur, bukannya amal shalih dan ketakwaan. Roda hidup terus berputar, miskin saat ini, namun belum tentu esok hari.
  • Menyangka saudaranya yang seorang tentara ingin melihat keluarganya jatuh, serta orang-orang akan menertawakan mereka jika putrinya menikah dengan orang miskin. Ini juga termasuk berburuk sangka.
  • Ingin menikahkan putrinya dengan seorang tentara yang diterima diketentaraannya dengan jalur menyogok (menyuap), padahal telah kita bersama ketahui bahwa suap menyuap adalah perkara yang diharamkan oleh agama.
  • Hanya memikirkan harta berlimpah. Seolah hartalah yang menjadi jaminan kebahagiaan. Hal ini tidaklah tepat, karena yang membuat kebahagiaan itu hanyalah keridhaan dari Allah yang bisa diikhtiarkan dengan ilmu dan amalan shaleh.
  • Mencaci-maki ibu dari laki-laki yang menjadi pujaan hati putrinya, serta hendak memukul teman dari putrinya merupakan perbuatan yang tidak terpuji, kecuali jika memang alasannya benar.
  • Tidak pernah mengerjakan shalat. Ya, kebayanglah, bagaimana gersangnya hati mereka, sehingga sikap-sikap dan tindakan-tindakannya menjadi seperti di atas tadi.

Saya sangat menyayangkan jika masih banyak orang tua bersikap seperti ini. Saya masih dapat memaklumi dan mungkin akan setuju seandainya calon pendamping yang dipilihkan untuk putrinya adalah laki-laki yang lebih baik daripada pria yang telah membuat putrinya tersebut jatuh hati. Namun bila ternyata seperti apa yang disebutkan di atas, hanyalah keduniawian semata, tidak nampak sedikit pun untuk perkara akhirat, maka apakah itu yang terbaik buat putrinya?

Tapi tetap berbaik sangka kepada mereka insyaAllah lebih baik, karena ketidaktahuannya akan agama-lah yang mungkin membuat mereka menyangka dengan cara seperti itulah anaknya bisa hidup berbahagia. Dan walau bagaimana pun, orang tua adalah yang mengandung, melahirkan, membesarkan, menyekolahkan kita, dan sebagainya. Keridhaan Allah pun ada pada keridhaan mereka, bukan pada si Cinta yang baru beberapa tahun dikenal. Jadi dalam hal ini, meskipun sikap orang tua banyak bertolak belakang dengan apa yang menjadi keinginan kita, tetaplah bersikap baik-baik kepada mereka.

3. Pergi meninggalkan rumah dan menikah dengan wali hakim

Andaikan bapaknya yang akan menjadi wali, maka tidak akan sah pernikahan putrinya tersebut, jika bapaknya tidak bertaubat terlebih dahulu dari dosa-dosa besar sepertihalnya meninggalkan shalat lima waktu. Alasannya, seorang wali itu haruslah yang adil, dan diantara tanda keadilannya adalah tidak terbiasa melakukan dosa-dosa besar. Jika bapaknya tidak mau bertaubat, maka walinya bisa digantikan dengan yang lain, seperti paman, kakek, atau orang-orang yang berhak menjadi wali nikahnya, dengan syarat harus adil itu tadi. Maka jika tidak ditemukan wali yang adil diantara keluarganya, maka wali nikah bisa dengan wali hakim. Akan tetapi penggantian wali ini tetap harus seizin Bapaknya, dan sebaiknya tidak sampai harus meninggalkan rumah yang membuat permasalahan akan semakin besar, sehingga mengundang kemurkaan orang tua.

4. Restu orang tua

Orang tua boleh memilihkan jodoh bagi anak gadisnya tanpa seijinnya, apabila anak gadinya belum dewasa, dan segalanya masih bergantung kepada orang tua. namun apabila anak gadisnya sudah dewasa, maka orang tua tidak boleh menikahkannya tanpa persetujuannya. Artinya, orang tua harus meminta persetujuan anak gadisnya yang sudah dewasa untuk menentukan pendamping hidupnya. Sebagai tanda persetujuannya, minimal adalah diamnya si anak gadis.

Faktor cinta kasih merupakan tiang utama untuk menegakkan bahtera rumah tangga. Cinta dan kebahagiaan tidak bisa dipaksakan oleh siapapun, termasuk oleh orang tua. Bahkan ada yang bilang bahwa cinta-kasih tidak bisa dikaitkan dengan persoalan durhaka kepada kedua orang tua, sehingga jika orang tua sakit hati karena tidak cocok dengan yang menjadi pilihan anaknya, maka hal ini bukan merupakan dosa bagi si anak. Tapi hati-hati dalam hal ini, karena sekali lagi, mereka adalah tetap orang tua yang telah mengandung, melahirkan, membesarkan, dan sebagainya. Berusahalah bijak saat menghadapi mereka. Bila ada seseorang yang mereka segani dan bisa dijadikan penengah, jadikanlah beliau sebagai penengah dalam urusan ini.

5. Islam tidak membedakan derajat seseorang dari yang lain

Benar, Islam tidak membedakan seseorang dari suku, harta, pangkat, jabatan, jenis kelamin, dan sebagainya, kecuali hanya satu yang membedakan seseorang dari yang lainnya, yaitu ketakwaan. Karena sesungguhnya manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah manusia yang paling bertakwa. Pelajaran bagi orang tua, jangan sampai demi gengsi, demi harga diri, dan alih-alih demi kebahagiaan anaknya, tapi yang mereka pilih buat anaknya justru bukan orang shaleh, yang pada suatu saat justru bukan kebahagiaan yang akan dirasakan oleh anaknya melalui pasangannya tersebut, namun kesengsaraan.

Kesimpulan

Tidak ada kejadian yang besar ataupun kecil, termasuk dedaunan yang bergerak perlahan tertiup angin, kecuali Dia-lah Allah dibaliknya. Demikian pula dengan ujian berat yg dialami oleh sahabat kita tadi, sepintas memang seolah orang tuanya-lah yang menjadi pokok permasalahan. Namun jauh dibalik itu, semua tidak terlepas dari Kehendak Allah Azza wa Jalla. Dalam hal ini bukan berarti Allah tidak mengasihinya, malahan Ia sangat mengasihinya dengan memberikan masalah seperti ini.Allah ingin mengangkat derajatnya.

Berat memang mengucapkan ini, namun siapapun memang harus ridha dan sabar atas ketentuan-Nya. Berdzikirlah terus, berdo’alah terus, pasrahkanlah segala urusan kita kepada-Nya, dan yakinlah bahwa Allah akan segera memberikan jalan keluar terbaik menurut-Nya yang tidak kita sangka-sangka.

Saya pun memberikan beberapa amalan kepadanya, seperti shalat sunnah, wirid, dan do’a yang harus dibaca untuk meluluhkan hati orang tuanya yang keras, ditambah dengan dzikir serta do’a lainnya. Karena ketika kita telah merasa gelap gulita menghadapi permasalahan, dan sulit untuk menemukan jalan keluarnya, maka tiada lagi yang harus diperbuat, kecuali hanya mengingat-Nya dan memohon jalan keluar terbaik kepada-Nya, di samping ridha, sabar, serta ikhtiar semaksimal dan sebaik mungkin. Wallahu a’lam.

Akhir kata, mari kita do’akan bersama, semoga Allah sesegera mungkin meluluskan ujian yang tengah ia hadapi serta menggembirakan hatinya. Seandainya sahabat-sahabat Rumah Cahaya yang membaca artikel ini ada saran dan masukkan, dengan senang hati saya persilahkan. Terimakasih.. Semoga Allah membalas kebaikan sahabat-sahabat sekalian dengan balasan yang lebih baik. Aamiin ya Rabbal’aalamiin. ~ Cepi Nugraha

Postingan di Situs Iklan;