Kembali Mengenal Tentang Ajaran Tasawuf

Foto Abah Anom Suryalaya

Abah Anom, Seorang Mursyid

Untuk melengkapi artikel yang berjudul “Ilmu Tasawuf dalam Islam” yang pernah saya tulis beberapa waktu yang lalu, maka di halaman ini saya akan mengajak sahabat-sahabat untuk kembali mengenal tentang Ajaran Tasawuf. Sumber tulisan ini saya ambil dari kata pengantar seorang penterjemah kitab Futuh Al-Ghaib karya Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani, yakni Aftahuddin Ahmad, yang berasal dari India. Karena ke-‘alim-an sang penterjemah, maka insyaallah isinya pun bersesuaian dengan kajian-kajian ilmu / ajaran tasawuf yang biasa dituturkan oleh para ‘ulama di banyak pesantren di Indonesia. Berikut uraiannya….

Kata mysticism yang lazim digunakan untuk menunjukkan satu sisi yang Islami ini, agak menyesatkan, karena kata ini tidak muwakil baginya. Tasawuf adalah suatu ilmu yang beraturan, dengan hukum-hukumnya yang pasti dan petunjuk pelaksanaan yang terperinci. Sebagaimana ilmu-ilmu lain, ia juga bertumpu pada pengalaman-pengalaman inderawi yang dapat dimaujudkan kembali dalam keadaan-keadaan tertentu. Dalam perjalanan spiritualnya, setiap salik. melewati peringkat-peringkat tertentu, yang dapat dikenali lewat beberapa rinci pemerian, yang sama diberikan oleh semua mursyid. Petunjuk-petunjuk dan segala jebakan dilukiskan dengan sempurna.

Sebagai disiplin ilmu, tasawuf juga memiliki metode-metode untuk menguji kemajuan dan manfaat yang telah dicapai oleh murid. Sama halnya dengan disiplin ilmu lain, dalam tasawuf pun kita jumpai beberapa jenius perintis thariqah di dunia ini, sehingga seorang yang awam pun mampu mengembangkan cita ihsan di tengah-tengah perjuangan hidup materialistik. Mereka telah berhasil mengembangkan suatu kegairahan di dalam tradisi ini, dan juga minat yang besar dari para penempuh thariqah ini, sehingga mereka senantiasa dapat mengawasi dan mengendalikan hawa nafsu para murid terhadap segala hal yang bersifat duniawi.

Bagi kebanyakan murid, kecuali salik yang lebih cakap, Tuhan hanyalah hipotesis murni. Pengalaman di dalam thariqah inilah yang menjadikan Tuhan nyata dalam wujud dan kehadiran-Nya, juga menimbulkan keyakinan dan kesinambungan kehidupan sesudah mati. Mereka inilah pemancar nur keyakinan sejati, dan juga penyingkir ketakutan akan kematian, sehingga kita yang awam ini, mampu menghayati kehidupan ini dengan mudah.

Para mursyid ini telah mencapai derajat keyakinan yang tinggi tentang keesaan dan kemaujudan Allah berkat ber-munajat dengan-Nya, dan karenanya mereka benar-benar menjadi khalifah Rasulullah SAW, sebagaimana sabdanya, “Ulama pengikutku setara dengan para Nabi Bani Israil,” atau sabda beliau yang lain, “Ulama adalah ahli waris para Nabi.” Aturan ini dikukuhkan oleh Qur’an Suci, yang menandaskan ketiadaan dan memang tak perlu ada nabi sesudah Nabi Muhammad SAW. Karenanya mesti ada nur spiritual yang senantiasa mencerahkan keyakinan akan keesaan Allah, kebenaran Al-Qur’an, dan melestarikan Sunnah Nabi.

Tanpa mereka, mungkin segala keyakinan terhadap hal-hal mendasar ini akan berubah menjadi kepalsuan semata, yang hampa kekuatan spiritual, yang dapat mengarahkan tata-pikir dan tata-tindak manusia. Nasib semacam inilah yang telah menimpa semua agama selain Islam, yang kendati pun sering diperalat oleh para penguasa politik pada zaman tertentu, namun kekayaan tradisi spiritualnya terlestarikan di tangan para ‘ulama sufi. Tradisi inilah penyelamat ilmu kalam (teologi Islam) dari pendangkalan-pendangkalan sebagaimana yang dialami agama lain. Tradisi tasawuf sungguh bersih dari filsafat spekulatif dan teologi dogmatik. Ia merupakan ilmu eksperimental, dengan segala pesonanya.

Kerangka Ilmu / Ajaran Tasawuf

Untuk menggambarkan secara ringkas kerangka ilmu tasawuf, kesadaran manusia dibagi menjadi 3 jenjang, yaitu:

  1. Nafs Ammarah: kehewanan dan sukar dikendalikan.
  2. Nafs Lawwamah: keberjuangan melawan hawa nafsu.
  3. Nafs Muthmainnah: kebersadaran akan Tuhan.
Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Pada maqam pertama, nafs ammarah, manusia benar-benar hewani, menuruti segala dorongan hewaninya, tak mampu menahan diri, dan hampa nurani. Setelah melewati latihan-latihan sistematik keagamaan, yang pada pokoknya berisikan latihan ketaatan terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan, maka ia mampu mengembangkan cita kesatuan, kedukaan dan penyesalan, setelah berbuat kesalahan dan kejahatan. Dengan demikian ia telah berada pada maqam kedua, nafs lawwamah. Maqam kedua ini dimulai dengan terbitnya rasa malu pada diri,  dan diakhiri dengan ketundukkan penuh hewani. Inilah maqam ketiga dan tertinggi, nafs muthmainnah. Setan dan hawa nafsu telah ditundukkan, dan sang salik telah berada pada maqam kesucian, kejujuran dan kearifan sempurna.

Untuk menandai rangkaian pengalaman dalam memasuki maqam ini, para sufi memakai tiga istilah:

  1. Fana. Ketaklukan total hewani. Pada maqam ini manusia tak lagi terusik oleh dorongan hawa nafsu. yang maujud hanyalah penyarahan diri dan penuh harap kepada Allah SWT.
  2. Baqa. Kebangunan-kembali diri dalam kesadaran baru, dan dalam bentuk ruh-diri. Dorongan tak lagi berasal dari nafsu hewani yang mendorong manusia untuk melanggar hak dan merancukan masyarakat, tetapi berasal dari wilayah ruhani pengawasan Ilahi, sumber berlimpahnya tindakan yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan ciptaan.
  3. Liqa. Suatu maqam yang di dalamnya pengetahuan ruhani manusia telah sedemikian tinggi, sehingga ‘seolah-olah’ ia melihat dan berhadapan dengan-Nya. Hal itu dicapai berkat keimanan, kesucian, ketawakalan, dan pengalaman keseharian. Dengan demikian, terbebaslah ia dari rasa takut akan hari esok, dan segala keluh-kesah akan hari kemarin dan sekarang, dari rasa kebimbangan dan ketidakpastian. Dirinya telah sedemikian terwarnai oleh sifat-sifat Allah, bagai sepotong besi yang senantiasa memanjang apabila terpanasi. Dalam saat-saat kritis pun, citanya menyatu dengan kekuasaan Ilahi, sehingga keikhlasannya menyebabkan ridha dan rahmat Allah, dan murkanya menyebabkan murka dan laknat-Nya, walau kadangkala tampak berlawanan dengan hukum alam. Kekuasaan Ilahi telah melimpahi daya-cipta, yang memungkinkannya menciptakan suatu peristiwa yang menentukan arah sejarah.

Setelah mencapai keadaan fana, yang oleh Al-Qur’an disebut istiqamah, maka keadaan baqa dan liqa datang dengan sendirinya. Sebab, begitu tidak terikat lagi dengan nafsu atau kedirian, maka ia pun memasuki keadaan baqa. Selama belum kukuh dalam keadaan peniadaan-diri, maka penyerahan dirinya kepada Allah SWT begitu spontan, berarti ia belum memasuki keadaan baqa. keadaan baqa akan terjadi apabila secara alami kedirian menyerah kepada kehendak Allah. Dalam keadaan seperti ini, segala miliknya telah menjadi milik Allah. Sementara yang lain menikmati pemuasan hawa nafsu, sang salik menikmati kelezatan beribadah dan berdzikir kepada-Nya.

Jadi, bila seorang salik telah berada dalam keadaan baqa, dan ini telah menjadi sikap dan busana keseharian, maka turunlah kepadanya cahaya surgawi, yang melenyapkan segala kebimbangan dari relung hatinya. Sungguh, manisnya cinta yang belum pernah direguk, melebihi manisnya dua kekasih yang berjumpa setelah lama berpisah. Cinta ini terlestarikan dalam keakraban dengan Allah, begitu melenakan, bagai sepoi angin di musim semi. Pada maqam ini, sang salik merasakan kenikmatan mengorbankan segala sesuatu demi memperoleh ridha Allah. Hatinya telah dirasuki Nur Ilahi, seolah-olah Allah memenuhi relung-relung hatinya dengan segala kebesaran-Nya. Inilah gambaran tentang seorang salik yang telah berada pada maqam liqa.

Penting untuk dicatat, keadaan fana tercapai berkat usaha manusiawi, sedang baqa dan liqa yang merupakan augerah Ilahi, adalah rahmat-Nya semata. Jadi, upaya ruhani si salik hanya mengantarkannya kepada gerbang fana, dan kemurahan Ilahi-lah pembawa ia ke maqam yang lebih tinggi.

*** Penjelasan beberapa istilah yang digunakan

‘Alim: Orang yang berilmu, tertama ilmu agama.
Salik:
Orang yang menempuh dan menjalani suluk.
Suluk: Sebutan yang lazim digunakan bagi jalan menuju kesempurnaan jiwa.
Mursyid: Sebutan bagi seorang guru, pengajar, penunjuk jalan, yang memberi teladan tentang pelaksanaan Tasawuf kepada murid.
Murid: Pengikut suatu tarekat (thariqah), atau orang yang gigih dalam mempelajari dan mencari hakikat dan ma’rifat di bawah bimbingan seorang guru sufi.
Thariqah: Jalan untuk melaksanakan syari’at, menuju keridhaan Allah semata-mata. Lazim digunakan untuk mencirikan organisasi kekeluargaan yang mengikat penganut-penganut sufi yang spaham dan sealiran.
Ihsan: Kebajikan. Baginda Nabi SAW menjelaskan, “Ihsan ialah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Dan bila engkau tidak melihat-Nya, ia tetap melihatmu.”
Munajat: Mengeluh. Yang dimaksud ialah mengeluh dan mengadu kepada Allah, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi Ya’kub A.S.
Khalifah: Pengganti. Setiap mursyid bertugas menggantikan rasulullah SAW dalam membimbing para murid.
Maqam: Derajat atau peringkat kehidupan ruhani, yang diperoleh lewat upaya sendiri. Maqam ini semata-mata hasil kesungguhan latihan (riyadhah), dan perjuangan (mujahadah).

Baik sahabat Rumah Cahaya, uraian tentang tasawuf di halaman ini saya cukupkan sampai di sini dulu. Namun bukan berarti uraian dari penterjemah kitab tadi telah selesai sampai di sini. Tapi insyaallah akan saya lanjutkan di artikel mengenai uraian tentang keyakinan akan kemaujudan hirarki para Wali di dalam Tasawuf, sehinggga insyaallah kita bisa mengenal apa itu ajaran tasawuf lebih jauh lagi. Semoga bermanfaat… ~ Cepi Nugraha

Bagikan Artikel...
Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!