Keberadaan Para Wali Allah di Dunia

July 31, 2013 oleh 5 Komentar
Kategori: Mengenal Tashawwuf 
Foto Wali Allah / Gambar Wali Allah

Abuya Dimyati, Banten

Menyambung uraian sebelumnya tentang pengenalan ajaran tasawuf di artikel terdahulu, maka dalam postingan kali ini akan menuliskan sedikit uraian tentang keyakinan akan kemaujudan hirarki para wali Allah (waliyullah) di dalam tasawuf. Menurut para sufi, di dunia ini senantiasa ada wali. Melalui merekalah Allah SWT menurunkan rahmat-Nya ke dunia ini. Dalam masa-masa ketidak-hadiran Nabi, merekalah yang bertindak sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Mereka terbagi ke dalam tiga maqam, yaitu: badal, ghauts, dan quthb.

Secara bahasa, badal mermakna ‘pengganti’. Disebut badal, karena bila wali ini meninggal, maka Allah akan menggantinya dengan seorang wali baru. Berkat wali-wali Allah yang adil inilah, umat manusia tak pernah miskin akan nur ruhaniah. Pendapat yang lebih kuat mengatakan, mereka disebut badal karena keadaan ruhaniah mereka senantiasa berubah dan berkembang. Mereka selalu bergerak secara ruhaniah, dan tak pernah mukim pada maqam tertentu. Mereka selalu berupaya meningkatkan derajat ruhaniah mereka, demi mewujudkan rahmat Allah di muka bumi ini. Para sufi berbeda pendapat tentang jumlah dan kedudukan para badal ini. Yang sedikit disepakati adalah, tingkatan atau maqam para badal yang dianggap paling rendah.

Mengenai ghauts dan quthb, pendapat terkuat mengatakan bahwa mereka adalah maqam wali istimewa, yang dikaruniai kesucian dan berbagai karomah. Para quthb atau para ghauts ini hanya dikenal oleh aparat mereka, yaitu para badal.

Secara bahasa, quthb berarti ‘poros’, pusat peristiwa. Quthb adalah wali yang perhatian dan do’anya menentukan nasib suatu masyarakat. Secara bahasa, ghauts berarti ‘bantuan’, penyelamat di tengah-tengah badai kesulitan. Ghauts adalah wali yang menjadi perantara pada saat-sat kritis ketika dosa suatu bangsa akan dihukum. Tampaknya keistimewaan ini menyerupai pribadi baginda Nabi Muhammad SAW, dimana hati beliau ‘meleleh’ bila melihat bencana dan penderitaan yang menimpa umat manusia, dan do’anya menjadi sarana pencegah azab Allah. Berkat ke-maqbul-an do’a mereka, ampunan dan rahmat Allah melimpahi bangsa mereka. karenanya, seorang badal dapat dianggap sebagai pakar ruhaniah. Di atas badal adalah quthb, dan tingkatan wali Allah yang tertinggi adalah ghauts.

Pada saat tertentu, badal, qutb, dan ghauts sama mempertinggi kadar ruhani ummat manusia, atas nama Nabi SAW. badal, quthb, dan ghauts berbeda dengan mujaddid, yang tidak saja berwenang, tapi juga mesti menampilkan diri dan wewenangnya. Mereka secara diam-diam melayani umat manusia dengan ajaran dan keteladanan mereka, dan senantiasa memohonkan ampunan atas segala kesalahan umat manusia.

Gagasan serupa ini, kemaujudan para badal, quthb, dan ghauts, diragukan oleh sekelompok orang, yang bahkan menganggap gagasan ini bukan berasal dari ajaran Islam. Suatu penyigian atas surah Yasin ayat 20-27, akan menunjukkan kemaujudan mereka di dalam bangsa yang nyaris diazab karena kezhaliman.

“Dan dari ujung kota itu, datang terburu-buru seorang lelaki, katanya, “Wahai kaumku, ikutilah para Rasul itu” (Q.S. Yasin: 20)

Siapakah lelaki dalam kisah ini? Ia diyakini sebagai seorang ghauts atau quthb.

Gagasan tentang kehadiran seorang manusia luhur dan mulia, yang mampu mencegah turunnya azab atas suatu kaum, bisa disimpulkan dari kisah Nabi Luth A.S. yang termuat pada surah Hud. Kisah ini menunjukkan tertundanya azab atas suatu kaum yang durhaka, karena kemaujudan para suci di tengah-tengah mereka. Bahkan azab atas kaum Quraisy Makkah pun ditunda, sampai hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Ketentuan ini telah digariskan oleh Qur’an Suci,

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyiksa mereka selama engkau berada di antara mereka…..” (Q.S. Al-Anfal: 33)

Jelaslah bahwa ajaran sufi tersebut bisa dirunut asal-muasalnya dari Al-Qur’an Suci itu sendiri, lepas dari benar tidaknya keseragaman pengalaman para wali di sepanjang masa. Gagasan ini dikuatkan oleh sebuah Hadits Qudsi yang masyhur,

“Barangsiapa memusuhi wali-Ku, ia telah menerima pernyataan perang dari-Ku”.

Karena memusuhi seorang wali mengundang kemurkaan Allah, maka keprihatinan dan do’anya mendatangkan rahmat-Nya.

Istilah-istilah Yang Identik dengan Maqam Para Wali Allah

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Perlu pula diuraikan istilah-istilah lain yang banyak dijumpai di dalam wacana berikut, yaitu tiga istilah yang bukan berasal dari rekaan para sufi, tetapi dipetik dari ayat-ayat suci Al-Qur’an: shiddiqin, syuhada, dan shalihin.  Al-Qur’an membagi orang-orang yang memperoleh nikmat dan ridha Allah menjadi 4 macam: para Nabi, Shiddiqin, syuhada, dan shalihin, dimana yang tiga macam akan berkesinambungan hingga hari kiamat.

Yang terdekat derajatnya dengan para Nabi adalah shiddiqin. Berasal dari akar kata shidq, yang bermakna ‘kebenaran’, sedangkan shiddiq bermakna orang yang paling benar. Dengan kata lain, seorang shiddiq adalah penjelmaan kebenaran itu sendiri. Perkataannya senantiasa benar, tindakan dan ucapannya mesti selaras. Ia dituntut untuk senantiasa sedemikian cinta kepada kebenaran. Dengan demikian ia selalu mengenali kebenaran dalam wujudnya. Ia membenci segala kepalsuan, dan mencintai segala kebenaran.

Contoh orang dengan derajat shiddiqin adalah Hadhrat Abu Bakar Shiddiq R.A. Karena itulah beliau digelari As-Shiddiq. Beliau meyakini kebenaran Nabi Muhammad SAW tanpa meminta bukti, baik berupa hujjah maupun mu’jizat. Perjuangan beliau di sisi Rasulullah SAW dalam segala situasi dan kondisi, terutama kala beliau menemani baginda Nabi pada saat-saat kritis, yaitu kala hijrah dari Makkah ke Madinah. Semua ini menunjukkan bertapa keterikatan beliau pada kebenaran, tak saja dalam ucapan dan pikiran, tetapi juga dalam segenap urat syaraf dan pembuluh darahnya. Kegairahan akan kebenaran inilah yang telah memberinya keyakinan tak terguncangkan, sehingga beliau mampu melawan segala keragu-raguan, kala tersiar berita tentang isra mi’raj-nya Rasulullah SAW, yang bagi kebanyakan orang justru menyurutkan keimanan.

Yang kedua adalah syuhada. Berasal dari akar kata syahida, yang bermakna ‘mempersaksikan’. Seorang syahid berarti telah berhasil melihat kebesaran dan kekuasaan Allah dalam perjalanan ruhaniahnya. Ia merasakan ‘kehadiran’ Allah di dalam dirinya. Banyak nilai ruhaniah yang bagi kebanyakan salik masih berupa hipotesis kepercayaan semata, dan karenanya diperlukan upaya perwujudannya, yang bagi seorang syahid telah nyata. Dalam menegakkan kebenaran, ia rela berkorban diri. Kehendaknya hanyalah beramal shaleh. kebahagiannya hanyalah bila dirinya senantiasa berada di bawah naungan kebenaran. Maka untuk menjadi syahid, tidaklah mesti berkorban nyawa, tetapi mesti rela berkorban demi tegaknya kebenaran Allah.

Yang terakhir adalah shalihin. Berasal dari akar kata shalaha, yak bermakna ‘menjadi sehat’. Unsur asasi kesehatan ruhani manusia adalah kemampuannya menikmati praktek-praktek ibadah. Ia harus mampu menikmati tindakan-tindakan keagamaan. Untuk itu, ia harus bersih dari segala yang palsu, seperti: ketak-ikhlasan, ketamakan, iri, riya’, ujub, takabur, kekejaman, dan lain-lain. Ia harus mengejawantahkan ketakwaan dan akhlak luhur, suatu kualifikasi yang mesti dipunyai oleh rabbaniyyun.

*** Penjelasan beberapa istilah yang digunakan

Karamah: Kehormatan, kemuliaan. Adakalanya digunakan untuk sesuatu yang tidak biasa, yang terjadi terhadap atau dari seseorang saleh atau wali, sebagai anugerah kehormatan dari Allah SWT untuk menunjukkan ketinggian kedudukan orang tersebut di sisi-Nya, sepertihalnya mukjizat untuk para Nabi. Biasa disebut juga dengan ‘keramat’.

Makbul: Dikabulkan.

Riya’: Sifat ingin dipuji, sifat pamer.

Ujub: Bangga diri.

Rabbani: Orang yang sempurna ilmu dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Rabbaniyyun: Jamaknya dari Rabbani.

Sahabat Rumah Cahaya, uraian mengenai keyakinan akan kemaujudan hirarki para wali Allah (waliyullah) saya cukupkan dulu sampai di sini. Mudah-mudahan di kesempatan yang lain uraian-uraian terkait lainnya bisa saya sajikan kembali di blog ini. Semoga bermanfaat… ~ Cepi Nugraha

Komentar

5 tanggapan untuk “Keberadaan Para Wali Allah di Dunia”
  1. amir rasyidi says:

    Sangat berguna bagi orang yg cerdas ‘jiwa bathin ‘ nya… menambah wawasan pengetahuan keislaman kita dan dpt dgn mudah paham akan karunia Tuhan….

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Alhamdulillah.. Aamiin…
    Salam kenal dari saya Bang Amir Rasyidi.

    [balas komentar di sini]

  2. abdullah says:

    WAHAI ANAK CUCU ADAM YANG MENGENAL FOTO TERSEBUT MAKA ITULAH MANUSUIA YANG PALING BEAHAGIA HIDUP INI

    [balas komentar di sini]

  3. abdullah says:

    ALHAMDULILLAH SAYA ABDULLAH SANGAT SUKA JIKA ADA TERBITAN SEPERTI INI KARNA JIKA ANAK CUCU ADAM YANG HIDUP NYA DUIKUASAI DUNIA PERBANYAK LAH MEMAHI ARTI KATA TERSEBUT

    [balas komentar di sini]

  4. gery says:

    dunia fana hanya untuk singga sementara, hanya diwajibkan mencari pahala atau bekal diakhirat,jadi jangan sia-sia kan hidup ini, carilah pahala sebanyak-banyak nya.

    [balas komentar di sini]

Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!