Kampung Wisata Alam dan Rohani

November 19, 2013 oleh Kirimkan Komentar
Kategori: Ide & Peluang Usaha 
Kampung Wisata Alam dan Rohani

Kampung Wisata

Namanya juga manusia, melamun adalah hal yang wajar, karena manusia memang dibekali dengan kemampuan untuk itu, kemampuan untuk melamun, hehehe. Apalagi buat saya yang tidak bekerja di kantor, berdagang, atau bertani, melamun telah menjadi rutinitas sehari-hari, sehingga sangat wajar jika dibilang Tukang Ngelamun :D. Boleh kan? Yang penting jangan ngelamun di luar batas kewajaran, apalagi sampai tertawa-tawa sendirian, hahahahaha. Oups!!. Kampung Wisata Alam dan Rohani yang saya jadikan sebagai judul artikel ini pun merupakan salah satu diantara banyak hal yang saya lamunkan.

Saya ini orang kampung, yang lahir dan juga tinggal di perkampungan. Walaupun sesekali saya ingin jalan-jalan juga ke kota, namun saya tetap lebih menyukai perkampungan. Entahlah, rasanya nggak ada bosan-bosannya melihat perkampungan atau pedesaan. Jika saya bepergian ke luar daerah pun, saya lebih menyukai suasana perkampungan, namun tentunya perkampungan yang penuh dengan nuansa alam dan dedaunan hijau, disertai banyaknya air yang mengalir. Bukan perkampungan yang gersang, apalagi penuh sesak dengan banyaknya pabrik dan limbahnya, atau padatnya kendaraan yang menimbulkan berbagai polusi.

Nah, kembali bicara tentang lamunan dan Kampung Wisata Alam dan Rohani tadi. Sebetulnya jika saya ingat hal ini, yang ada hanya greget saja. Keinginan ada, peluangnya ada, namun kemampuan yang belum ada. Padahal di daerah saya sendiri, meskipun keadaan alamnya tidak begitu sempurna, namun cukup bagus untuk dijadikan sebuah perkampungan untuk tempat tujuan wisata, baik itu wisata alam maupun wisata ruhani. Euuhhh gregetlah..hehehe.

Kampung kami ini terletak tidak jauh dari kawasan PLTU Kamojang, berada di wilayah kabupaten Bandung sebelah selatan agak ke timur. Hampir berbatasan dengan kabupaten Garut sebelah barat. Pegunungan, bukit-bukit, pesawahan, kebun-kebun, kolam ikan, aliran air di parit sawah maupun aliran air sungai, merupakan pemandangan kampung yang bisa dijumpai. Bahkan sebenarnya kampung kami pun cukup terkenal ke beberapa daerah tetangga sebagai kampung tujuan wisata, karena di kampung kami terdapat sebuah ranca dan beberapa tempat lain yang cukup menarik untuk dikunjungi. Hari Jum’at siang dan hari Minggu pagi, merupakan pemandangan yang rutin jika terlihat banyak wisatawan lokal maupun orang-orang yang berolah raga lari atau sekedar jalan santai, lalu lalang di jalan utama kampung kami.

Potensi Sebagai Kampung Wisata Alam dan Rohani

Dalam lamunan saya, jelas terbayang seandainya kampung kami ditata sedemikian rupa, serta dijadikan sebagai sebuah kampung wisata melihat potensi alamnya tadi, bahkan tidak hanya itu, ada nilai plus-nya, yaitu ditambah pula dengan wisata ruhaninya. Kenapa? Karena selain nuansa alamnya, di kampung kami terdapat pondok pesantren yang diasuh oleh beberapa kyai dan ustadz yang selalu menanamkan nilai-nilai keagamaan dengan cara penyampaian yang menyejukkan, apalagi jika sudah mengarah kepada kajian tauhid dan ma’rifatullah (mengenal Allah). Pokoknya pulang berwisata, insyaAllah selain merasakan kesejukkan mata, wisatawan juga bisa mendapatkan ketenangan dan ketentraman bathin sekaligus. Juga tak ketinggalan, beberapa makam waliyullah dan makam orang-orang shaleh para penyebar agama Islam juga bisa ditemukan dan diziarahi di sini, sehingga bisa menambah nilai-nilai kemanfaatan bagi wisatawan.

Kampung Sanding (Ranca Saladah), Sindangsari, Paseh - Majalaya, Bandung

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Selain karena kampung kami sudah dikenal sebagai tempat wisata lokal, untuk promosi atau pemasaran sepertinya tidaklah sulit. Berbagai promosi bisa langsung dilakukan dengan cara mendatangi berbagai lembaga terdekat hingga yang jauh, seperti promosi ke sekolah-sekolah, ke lembaga-lembaga milik pemerintah dan swasta, dan sebagainya. Atau promosi juga bisa dilakukan secara online, dan lain-lain. Itulah yang ada di pikiran saya seandainya kampung kami menjadi sebuah kampung wisata.

Terbayang pula bagaimana anak-anak sekolah disertai guru-gurunya, atau mungkin sekaligus beserta orang tuanya datang ke Kampung Wisata Alam dan Rohani kami. Mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat, melihat apa saja kegiatan sehari-hari orang-orang di desa, bahkan mereka pun dilibatkan dengan kegiatan masyarakat desa tersebut. Pagi-pagi mereka ikut terjun ke sawah untuk turut serta menanam padi, turut pergi ke kebun untuk menamam pohon, sayuran, atau bahkan mungkin memetik hasilnya. Mereka juga bisa ikut menggembalakan kambing, memandikannya, dan sebagainya, dimana bagi anak-anak kota, hal ini merupakan hal yang jarang atau tidak pernah mereka temui.

Pada siang harinya mereka bisa menjaring ikan, menanak nasi liwet bersama, menggoreng ikan dan bersantap menikmatinya bersama. Malahan mungkin bukan hanya ikan, tapi menikmati goreng belut hasil tangkapan (bahasa Sunda: ngurek) mereka di lubang-lubang belut yang terdapat di pinggiran pematang-pematang sawah. Hingga kegiatan-kegiatan lainnya yang biasa ditemui di perkampungan atau di pedesaan pada sore hari.

Malam hari selepas shalat ‘Isya para wisatawan bisa berziarah bersama ke pemakaman para auliya’ dan orang-orang shaleh, mendo’akan mereka, dan mengambil pelajaran dari mereka. Wisatawan dibimbing dan dikasih pencerahan tentang bagaimana kerasnya perjuangan mereka untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi, hingga akhirnya pada saat mereka wafat, orang-orang pun masih terus menziarahi serta mendo’akannya. Hal itu tiada lain, kecuali akibat perbuatan baik mereka semasa hidupnya, yang terus-menerus memberikan pahala kebaikan hingga setelah wafatnya.

Sepulang berziarah mereka bisa mendengarkan siraman rohani penyejuk kalbu dari para kyai dan ustadz, atau kalau tidak mungkin dilakukan di malam hari, mereka bisa mendapatkan siraman rohani di pagi hari selepas dari shalat Shubuh. Sehingga kegiatan wisata yang mereka lakukan tidak sekedar menghasilkan kesenangan lahiriah semata, tapi juga dapat memberikan bekal-bekal dan pelajaran hidup lainnya, yang tidak kalah menarik dan menyenangkan.

Setelah semua kegiatan selesai, dan tiba saatnya kepulangan mereka, bagi mereka yang ingin membawa oleh-oleh atau sekedar tanda mata, maka mereka bisa membeli dan membawa oleh-oleh khas daerah kami, seperti borondong garing, borondong enten, dan sebaginya. Namun yang terpenting, ada oleh-oleh yang lebih berkesan dari itu semua, yaitu rasa kedekatan dengan kampung kami, dengan para penduduk serta para kyai, ustadz, dan santrinya, yang insyaAllah tidak akan terlupakan, dan akan membawa mereka kembali ke Kampung Wisata Alam dan Rohani kami.

Aahh, serius juga nihh lamunan, hehehe. Yaa, siapa tahu kan menjadi kenyataan..? Kalau bukan saya mungkin anak-anak saya yang akan merealisasikannya, atau…..Anda mungkin? Siapa tahu dengan harta dan kedermawanan yang Anda miliki, lamunan saya bisa terwujud, sehingga Anda datang melihat kampung kami, lalu melakukan analisa investasi. Dan setelah dianalisa ternyata cukup menjanjikan, sehingga Anda pun berinvestasi, dan sayalah yang diangkat sebagai rekan investasi Anda, hahaha 😀 (ngareppp). Semoga bermanfaat… ~ Cepi Nugraha

Bagikan Artikel...
Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!