Ilmu Tasawuf dalam Islam

May 31, 2013 oleh 2 Komentar
Kategori: Mengenal Tashawwuf 
Ilmu Tasawuf dalam Islam

Ilmu Tasawuf dalam Islam

Sahabat.. berbicara tentang tasawuf seolah membicarakan suatu perkara yang tidak ada habisnya untuk diperbincangkan, terlebih lagi untuk dituliskan dalam sebuah artikel di blog. Apalagi menurut ahlinya, tashawwuf ini bukan untuk dibicarakan, tapi untuk dipraktekkan. Untuk itu artikel yang saya tulis di halaman ini lebih tepat bila dikatakan, sedikit mengenal ilmu tasawuf dalam Islam menurut beberapa literatur yang bisa dipercaya, diantaranya Risalatul Qusyairiyah karya Imam Al-Qusyairi.

Di kalangan ummat Islam terdapat perbedaan faham tentang tashawuf ini. Ada yang menganggap bahwa ajaran tasawuf merupakan bagian internal dari ajaran Islam, namun ada pula yang berpendapat bahwa asal-usul tasawuf itu bukan bagian dari Islam, namun merupakan ajaran yang berasal dari kepercayaan lain, malah tak jarang pula ada yang memvonisnya sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan ‘tanpa terkecuali’.

Di negeri kita Indonesia ini, terlepas dari perbedaan pendapat yang biasa terjadi dalam masalah Furu’, dua organisasi keagamaan (Islam) terbesar, yakni Nahdlatul ‘Ulama (NU), dan Muhammadiyah memiliki tokoh-tokoh yang dikenal sebagai pembelajar dan pengamal ilmu tasawuf, diantaranya:

  • Dari Nahdlatul ‘Ulama: K.H. Abdul Wahab Hasbullah, Jombang, dan Dr. K.H. ldham Chalid, Pahlawan Nasional.
  • Dari Muhammadiyah: Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), yang menulis buku berjudul “Tasawuf Modern”, dan Drs. K.H. Muchtar Adam pimpinan pondok pesantren Al-Qur’an Babussalam, Ciburial, Bandung.

Dua organisasi terbesar di tanah air ini tidak memperdebatkannya selama sanad aliran tarekatnya tersambung kepada Baginda Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam (Thariqah Al-Mu’tabarah). Adapun untuk perbedaan dalam masalah furu’ yang sering menimbulkan pertikaian di kalangan warganya/akar rumput hanya tinggal dimusyawarahkan saja sebagaimana musyawarah yang biasa dilakukan oleh para wali pengamal tasauf yang dikenal dengan sebutan Wali Songo, dan insyaallah kehadiran Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyin yang dibidani oleh Mas Emha Ainun Najib (Cak Nun), dkk. akan berupaya untuk itu.

Menyikapi perbedaan pendapat tentu tidak akan ada habis-habisnya, malah hanya akan menimbulkan perdebatan, pertengkaran, permusuhan, dan perpecahan ummat, serta membuat orang-orang yang memusuhi Islam bersorak sorai kegirangan, dimana tentunya hal ini tak diinginkan dan harus dihindari. Jadi, dalam tulisan saya yang berkenaan dengan Ilmu Tasawuf dalam Islam ini pun sebisa mungkin saya akan menghindari perdebatan yang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam sendiri pun diperintahkan untuk dihindari.

Landasan Ilmu Tasawuf dalam Islam

Kalimat atau kata Tasawuf (Tashawwuf) sendiri tidak terdapat dalam nash Al-Qur’an dan Hadits, namun definisi atau pengertian Tasawuf bisa dikatakan sebagai sistema interpretasi terhadap ajaran Islam oleh para pelakunya (kaum sufi) berdasarkan cinta kasih kepada Allah ‘Azza wa Jalla bersumberkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan tujuan untuk memantapkan rasa tauhid, mengkhusu’kan ibadah, dan memperhalus akhlak, diiringi dengan kesungguhan (mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala konsentrasinya hanya tertuju pada-Nya, sampai Allah pun mencintai dan menjadikan kekasih-Nya.

“Barangsiapa yang memusuhi kekasih-Ku, Aku telah mengumumkan perang padanya. Tidak ada cara bertaqarrub (mendekatkan diri) seorang hamba kepada-Ku yang lebih Kusukai, melainkan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ku-fardhukan padanya. Namun senantiasa hamba-Ku itu berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan hal-hal yang sunat, sehingga aku pun mencintai (mengasihinya). Apabila ia telah Ku-cintai, Aku menjadi alat pendengarannya yang dengannya ia mendengar, alat penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memukul keras, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, sungguh akan Ku-kurniai dirinya, dan jika ia memohon perlindungan-Ku, Aku akan melindunginya. Dan tak penah Aku ragu-ragu pada sesuatu di saat Aku akan melakukannya seperti ragu-Ku untuk mengambil jiwa orang mu’min yang enggan mati, sedang Aku tidak suka mengganggunya.” (Hadits Qudsi).

Esensi Tasawuf dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

Sesungguhnya tasawuf adalah ruh Islam sebagaimana yang tergambar dalam beberapa ayat dari Al-Qur’an dan esensinya telah ada sejak kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikannya, dan sesungguhnya amat merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. Asy-Syams: 7-10)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia mendirikan shalat.” (Q.S. Al-A’la: 14-15)

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di (jalan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta dengan orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)

“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut serta tidak dengan mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai” (Q.S. Al-A’raf: 205)

“Dan bertakwalah kepada Allah. Allah mengajarimu dan Allah maha Mengetahui segala sesuatu” (Q.S. Al-Baqarah: 282)

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q. S. Al-Baqoroh: 115)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q. S. Al-Baqarah: 186)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q. S. Qof: 16)

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Q. S. Al-Kahfi: 65)

“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau belum mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu” (H.R. Muslim, Tirmidzi, Abu dawud, dan An-Nasai)

”Wahai Allah, Hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin” (HR. Tirmizi, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

“Pada suatu waktu Nabi SAW datang kerumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar as-Siddiq. Ternyata dirumahnya tidak ada makanan. Keadaan ini diterimanya dengan sabar, lalu ia menahan lapar dengan berpuasa” (HR.Abu Dawud, at-Tirmizi dan an-Nasa-i)

Dalam satu riwayat dari Siti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan, bahwa pada suatu malam baginda Nabi mengerjakan shalat malam. Di dalam shalat lutut beliau bergetar karena panjang bacaan dan banyak rakaat salatnya. Tatkala ruku’ dan sujud terdengar suara tangisnya, namun beliau tetap melaksanakan salat sampai suara adzan Bilal bin Rabah terdengar di waktu subuh. Melihat nabi SAW demikian tekun melakukan shalat, Aisyah bertanya, “Wahai Junjungan, bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang telah diampuni oleh Allah, mengapa engkau masih terlalu banyak melakukan shalat?” Baginda Nabi menjawab, “Aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur” (H.R. Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari tujuh puluh kali” (H.R. At-Tabrani). Dalam Hadits lain dikatakan bahwa baginda Nabi meminta ampun setiap hari sebanyak seratus kali (H.R. Muslim)

Sumber lain yang menjadi sumber acuan para sufi adalah kehidupan para sahabat yang berkaitan dengan keteguhan iman, ketakwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur mereka. Kehidupan para sahabat adalah kehidupan yang paling mirip dengan kehidupan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam karena mereka menyaksikan langsung apa yang diperbuat dan dituturkan oleh Nabi. “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah sediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Q.S. At Taubah: 100)

Abu Nasr as-Sarraj at-Tusi menulis didalam bukunya, Kitab al-Luma, tentang ucapan Abi Utbah al-Hilwani (salah seorang tabiin) tentang kehidupan para sahabat, “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kehidupan para sahabat Rasulullah? Pertama, bertemu kepada Allah lebih mereka sukai dari pada kehidupan duniawi. Kedua, mereka tidak takut terhadap musuh, baik musuh itu sedikit maupun banyak. Ketiga, mereka tidak jatuh miskin dalam hal duniawi, dan mereka demikian percaya kepada ketetapan rezeki dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Pengertian Tasawuf Menurut Beberapa Tokoh Sufi

  • Ahmad Al-Jariri pernah ditanya tentang tasawuf, maka jawabnya, “Memasuki dalam semua akhlaq Nabi, dan keluar dari semua akhlaq yang tidak terpuji”
  • Amr bis Utsman Al-Makki pernah ditanya tentang tashawuf, lalu dijawab, “Seorang hamba yang setiap waktu meningkat kebaikannya”
  • Ruwaim pernah ditanya tentang tasawwuf, jawabnya, “Jiwa yang menurut kepada Allah sesuai kehendak-Nya”
  • Al-Junaid berkata, “Tashawwuf merupakan sikap tunduk yang tidak ada kompromi sama sekali.”
  • Dzun Nun Al-Mishri pernah ditanya tentang orang-orang sufi, lalu dijawab, “Yaitu orang-orang yang mengutamakan Allah daripada selain-Nya, sehingga Allah lebih mengutamakan mereka daripada yang lainnya”
  • Sifat orang sufi adalah tenang jika miskin, dan lebih mengutamakan orang lain jika mempunyai sesuatu,” kata Ahmad An-Nuri.
  • Hujjatul Islam Imam Ghazali, ” Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi.
  • Dan uraian-uraian lainnya yang tak mungkin untuk disebutkan semua satu persatu.

Ungkapan 4 Imam madzhab fiqih terbesar dan terkemuka tentang Tasawuf

  • Imam Abu Hanifa, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Shadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar.”
  • Imam malik, “Dia yang sedang bertashawwuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya, sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan tasawuf rusaklah dia. Hanya yang memadukan keduanyalah terjamin benar .
  • Imam As-Syafi’i, “Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu: mereka mengajariku bagaimana berbicara, mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut, mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.” Ucapnya lagi, “Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasauf, dan janganlah engkau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah aku benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalankan tasawwuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelezatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tashawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
  •  Imam Ahmad bin Hanbal, “wahai anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi.” Ucapnya lagi, “Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka.”

Banyak dituduhkan, bahwa tasawuf dipinjam dari tradisi lain, dan sama sekali bukan dari ruh Islam. Tuduhan ini hanya berdasarkan prasangka. Fakta sejarah membuktikan, bahwa semua peristiwa pembentuk masyarakan dan peradaban Islami, bertumpu pada wahyu Allah kepada Rasulullah SAW, dan ilham-ilham Ilahiah kepada sahabat-sahabat beliau. Praktek-praktek peribadatan para sahabat yang disebut Ashab Suffah, termasuk fakta yang maujud di zaman Rasulullah SAW.

Menganggap Islam pada mulanya hanyalah suatu keyakinan dogmatik dan ritualistik, sedang tasawuf tumbuh kemudian, merupakan  suatu pengingkaran akan fakta sejarah yang demikian jelas. Sebenarnya, tasawuf adalah ruh Islam, sedangkan gerakan Islami adalah wujudnya. Tentu saja, pada kenyataannya banyak sekali hal yang dipandang orang sebagai  tashawuf, namun sebenarnya bukan tashawwuf. Bahkan tak diragukan lagi ada beberapa gagasan dan praktek yang asing bagi Islam yang berhasil masuk ke dalam gerakan ini. Terlebih selama beberapa abad terakhir ini, seirama dengan kemerosotan tata pikir dan sosial Islami. Akan tetapi penyakit tak membuktikan ketiadaan kesehatan, tak pula merusak ketakmaujudan tubuh. Meski ada pengaruh-pengaruh yang merusak dari luar, tasawwuf dalam bentuk aslinya senantiasa maujud dalam masyarakan muslim. Mata yang hanya melihat tarian dan pekik para darwis sebagai keteladanan tasawuf, harus menjalani operasi ruhaniah, agar bisa melihat tasawuf itu sendiri.

Seorang ‘ulama bernama Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi An-Naisaburi atau yang lebih dikenal dengan Imam Qusyairi, membuat sebuah risalah dengan nama “Risalatul Qusyairiyah” yang sengaja ditujukan kepada kelompok masyarakat yang berkecimpung dalam dunia tasawuf secara taklid, suatu kelompok yang mempraktekkan ajaran tashawwuf tanpa pengetahuan tentang hakikat dasar-dasar thariqah. Mereka mengamalkan ritual sufistik di tengah kekeliruan-kekeliruan sebagian kaum yang mendakwakan diri sebagai kelompok sufi atau dalam kungkungan faham-faham sufistik yang seolah memiliki dasar keagamaan, tapi sebenarnya tidak memiliki landasan hukum (nash Al-Qur’an dan Hadits), akal, dan argumen.

Kehadiran Risalatul Qusyairiyah merupakan sebuah teriakan kebenaran yang murni, dan lahir dari hati yang diterangi cahaya cinta pada Allah dan rasul-Nya, suatu kebenaran yang menerangi jalan Islam dan orang-orang yang menyalahgunakan ajaran tasawuf atau memang tidak mengerti tentang tasawwuf, serta membukakan mata mereka tentang hakikat tashawwuf dari sisi amalan, ruh, halusinasi, dan praktek ritual dalam Islam.

Imam Qusyairi bermaksud memberitahu mereka bahwa kebenaran yang sebenarnya bukan seperti yang mereka ketahui, bahwa pengikut thariqah yang sesungguhnya adalah mereka yang berjalan di atas dasar Al-Qur’an dan Hadits, tidak keluar darinya meski seujung jari. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan ‘ulama salaf, baik dalam keimanan, akidah, maupun praktek ritual.

Risalah Qusyairiyah juga dihadapkan pada kaum sufi untuk menjelaskan hakikat thariqah sekaligus beberapa penyimpangan dan kekeliruan, mempertegas kebenaran thariqah hingga mereka tidak sesat dan disesatkan. Sesungguhnya tasawuf bukan sesuatu yang bersifat tambahan pengadaan kandungan Al-Qur’an dan Hadits, tetapi justru merupakan bentuk abstraksi konkrit tentang keagungan Islam yang selama itu tidak diperhatikan para ‘ulama fikih setelah periode ‘ulama salaf. Mereka sibuk dalam pertikaian perbedaan pendapat, terpecah-pecah dalam berbagai pendapat, sehingga kurang memperhatikan praktik ritual (dunia sufistik) yang pernah dipraktekkan pada periode sahabat dan ‘ulama salaf.

Generasi Islam dewasa ini seandainya mengikuti jejak para ‘ulama salaf yang shaleh yang hidup di kurun-kurun pertama, tentu kehidupan keagamaaan mereka berada di garis nilai kebenarannya meliputi aspek pendidikan, praktek ritual, dan pemahaman mereka tidak mungkin menafsirkan secara negatif bahwa kecendrungan kemunduran ummat Islam di abad ini (maksudnya: masa hidup Imam Qusyairi) disebabkan  oleh keberadaaan “madrasah sufi” yang terpisah dari “madrasah ‘ulama fiqih dan kaum teolog”. Asumsi ini didasarkan pada satu sebab bahwa generasi Islam pada periode pertama mengambil Islam secara utuh, menjadikan pemikiran pendidikan, ritual, dakwah, dan fiqih dalam satu kesatuan yang utuh, menggabungkan kejernihan hukum dan nilai ketakwaan dalam keutuhan dunia sufistik, dan memahami aspek hukum tanpa harus meninggalkan aspek lain. Inilah yang disebut Islam.

Diantara perkataan lainnya dari sang Imam tentang kamu Sufi:

“Allah benar-benar telah menjadikan kaum ini sebagai kelompok para waliyullah terpilih, mengutamakan mereka atas semua hamba-Nya setelah para Rasul dan Nabi-Nya. Semoga Allah memberi shalawat dan salam pada mereka, menjadikan hati mereka tambang berbagai rahasia-Nya, dan mengkhususkan mereka lebih dari ummat-Nya yang lain dengan pantulan cahaya-Nya. Mereka bagai hujan bagi makhluk-Nya yang selalu berputar dan berkeliling bersama Al-haqq dengan kehakikatan-Nya di tengah keumuman tingkah laku manusia.

Allah menjernihkan mereka dari segala kotoran dan sifat manusia, melembutkan hati dan nurani mereka pada pencapaian tempat-tempat musyahadah (persaksian rohani pada kebesaran dan rahasia kegaiban Allah) dengan penampakan Al-haqq dari segala hakikat keesaan-Nya, menempatkan mereka untuk tetap tegak dengan sikap penyembahan dan mempersaksikan pada mereka saluran-saluran hukum ketuhanan. Karena itu mereka mampu menunaikan segala bentuk kewajiban yang dibebankan pada mereka, mampu menghakikati segala yang dianugerahkan-Nya berupa perubahan-perubahan dan berbagai putaran hidup, kemudian kembali pada Allah dengan kebenaran iftiqar (butuh dan menggantung pada kehadiran peran serta Allah) dan hati yang remuk redam karena Allah.

Sesungguhnya Allah adalah dzat Yang maha Luhur dan Tinggi, bebas berbuat apa yang dikehendaki-Nya, bebas memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya, tidak ada yang memberikan ketentuan hukum kepada-Nya, tidak ada kebenaran bagi makhluk yang mengharuskan pada Allah, sebab pahala-Nya adalah awal keutamaan, dan siksa-Nya adalah hukum keadilan-Nya, perintah-Nya adalah ketentuan yang mutlak dari Allah.”

Tahapan-tahapan Pendakian Rohani Para Sufi

Istilah yang diberikan oleh guru sufi untuk menyebut berbagai kedudukan pendakian rohani yang harus ditempuh seorang salik (penempuh jalan tasawuf) agar bisa wushul (sampai) kepada Allah dinamakan dengan “Maqamat”, yaitu jamaknya dari kata maqam, yang berarti tempat, kedudukan, dan derajat. Sebagian guru lain menyebutnya sebagai “Hal” (keadaan tertentu).

Para guru sufi memberikan jumlah yang berbeda dalam maqamat. Al-Kalabadzi menyebutkan ada 7 maqamat. Abu Thalib al-Makki menyebutkan ada 9, Al-Ghazali menyebutkan ada 10, dan sebagainya. Perbedaan ini dapat dijumpai dalam berbagai tarekat dan literatur sufi. Perbedaan ini biasanya tergantung dari pengalaman pendakian sang sufi dan pencapaian yang diraihnya yang merupakan anugrah dari Allah, dimana masing-masing salik memiliki kedudukan yang berbeda, sehingga menyebabkan perbedaan dalam menteorisasikan maqamat.

Tahapan-tahapan yang banyak disebut oleh para guru sufi di antaranya ada tujuh, yaitu:

  1. Taubat, adalah penyucian diri dari semua dosa dan permohonan ampun kepada Allah. Tahapan taubat ini juga mempunyai sub-sub tahapan. Seorang calon sufi harus taubat dari semua dosa besar, lalu bertaubat dari dosa-dosa kecil, kemudian bertaubat dari perbuatan makruh dan selanjutnya bertaubat dari perbuatan syubhat. Taubat yang dimaksud adalah taubat yang sebenarnya (taubah nasuha), yaitu penyesalan atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul bertekad untuk tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun.
  2. Zuhud, adalah tidak terbelenggu oleh dunia materi dan keramaian, meski dia mungkin pemilik dunia dan ada di keramaian.
  3. Wara’, adalah menjauhkan diri dari makanan dan perbuatan yang shubhat atau tidak jelas kebaikannya, atau tidak jelas halal dan haramnya.
  4. Faqir, adalah selalu membutuhkan Allah dalam kondisi apa pun. Seorang salik tidak menunjukkan kekurangan apapun yang sifatnya materi, karena yang dibutuhkan hanyalah Allah.
  5. Sabar, adalah meneguhkan hati dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dalam menerima cobaan-cobaan berat dalam hidupnya.
  6. Tawakkal, adalah berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah. Tidak memikirkan apa yang akan terjadi esok hari pada dirinya, baginya cukup apa yang ada untuk hari ini.
  7. Ridha, adalah menerima apapun yang menimpa dirinya di dunia ini. Senang, susah, sehat, sakit, dll. sejatinya berasal dari Allah. Rela terhadap pencapaian pendakian rohani dimana Allah mendudukkannya. Tidak ada rasa benci dan kecewa, yang ada hanyalah perasaan senang dan gembira. Ketika bencana menimpanya, cintanya kepada Allah semakin menjadi karena merasa diperhatikan. Pada tahap ini ia merasa telah sangat dekat dengan Allah, dan berada di ambang pintu untuk mencapai keintiman dengan Tuhan.

Maqamat di atas merupakan pintu masuk untuk menjadi sufi sejati guna mencapai tahapan selanjutnya. Ada yang bermuara pada mahabah (cinta), ma’rifat (mengenal), ittihad, musyahadah, dll. Juga ada yang dikembalikan untuk membimbing masyarakat sebagai imam, faqih, da’i, dsb., dimana pengembalian semacam inilah yang oleh Syaikh Ahmad Sirhindi dianggap telah melampaui puncak pencapaian yang tinggi dalam thariqah (abdiyah/penghambaan). Namun ada pula yang ditarik Allah menjadi majdzub, yang membuat perilakunya banyak dilihat ganjil oleh awam, serta berbagai jenis muara sufi sesuai anugrah yang Allah berikan.

Diantara Jasa-jasa ‘Ulama Tasawuf dalam Penyebaran Agama Islam

Sejarah telah membuktikan bahwa berkembangnya agama Islam di berbagai belahan dunia tak lepas dari jasa para ‘ulama tasawuf yang kemudian dikenal sebagai Wali Allah, seperti di India, Afrika Utara dan Selatan, juga di Indonesia. Dimanapun mereka berada, walaupun berbeda adat, budaya dan bahasa, mereka senantiasa berbaur dengan masyarakat dengan hati dan jiwa yang suci sehingga dengan mudahnya ajaran Allah dan Rasul-Nya difahami dan diterima masyarakat.

Dalam dunia tashawwuf, jumlah aliran-aliran tarekat (thariqah) sangat banyak. Oleh sebab itu, maka untuk menghindari penyimpangan sufisme dari garis lurus yang telah diletakkan para sufi terdahulu, maka kaum sufi mengelompokkan tarekat menjadi dua jenis, yaitu tarekat mu’tabar (thariqoh yang mutashil/tersambung sanadnya hingga kepada baginda Nabi, dan tarekat ghairu mu’tabar (thoriqoh yang munfashil/tidak tersambung sanadnya kepada baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sahabat-sahabat, demikian artikel tentang pengenalan ilmu tasawuf dalam Islam. Untuk lebih menambah wawasan Anda, silahkan pelajari (disertai guru) berbagai buku atau kitab Tasawuf yang ada, seperti Risyalatul Qusyairiyah karya Imam Qusyairi, Al-Hikam karya Syaikh Ibnu Athailah, Futuhul Ghaib karya Syaikh ‘Abdul Qadir Jailani, Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, dan lain-lain. (Wallahu A’lam)

Semoga tulisan ini bermanfaat… ~ Cepi Nugraha

Komentar

2 tanggapan untuk “Ilmu Tasawuf dalam Islam”
  1. vania says:

    miskin dari rasa memiliki,bahwa kita hanya memiliki dan dimiliki Allah saja,meskipun bergelimang harta,dunia tak membuat hati ini sesak tapi tetap kosong hanya ada ALLAH saja,meski berbagai masalah mendera tapi hati tetap gembira karena bersama NYA,INNALILLAHI WAINNAILAHI ROOJI`UUN,kemudian LAAHAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH. terimakasih artikelnya mascepi

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mbak Vania,
    terimakasih atas kunjungannya…

    Terimakasih juga atas tambahan ilmu dari mbak, yang menurut beberapa orang masih merupakan definisi dari ilmu hakikat (tasawuf), dan insyaallah demikian juga menurut mbak ya..

    [balas komentar di sini]

Page 1 of 11
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!