Hukum Investasi Dalam Islam

April 11, 2013 oleh 23 Komentar
Kategori: Mutiara Hikmah 
Hukum Investasi Dalam Islam

Hukum Investasi Menurut Islam

Artikel Rumah Cahaya berjudul Hukum Investasi Dalam Islam ini saya tulis bukan untuk membahas hukum Islam secara terperinci. Tulisan ini dibuat atas dasar keprihatinan saya terhadap sesama saudara seagama (muslim), yang makin hari sepertinya makin banyak saja diantara mereka yang terjerumus ke dalam investasi ribawi, terlebih lagi investasi-investai online tidak halal yang makin marak saja ditawarkan di dunia maya ini.

Mungkin dengan latar belakang karena sulitnya mendapatkan pekerjaan, mungkin juga karena bingung mau usaha apa atau alasan-alasan lainnya yang terkait dengan masalah penghidupan, termasuk juga karena ingin mendapatkan harta yang berlebih, maka dengan mudahnya mereka ikut saja menjadi member aktif investasi-investasi online ribawi tadi serta menikmati hasil investasi yang mereka dapatkan.

Yang lebih memprihatinkan lagi, bila ternyata yang terjebak ke dalam investasi seperti ini adalah mereka orang-orang yang cukup mengerti ilmu agama, menjalankan shalat lima waktu, dan ibadah-ibadah lainnya, yang mungkin karena telah begitu asyiknya menikmati hasil investasi yang diperoleh dan sangat berat untuk meninggalkannya, bahkan saat dicoba diingatkan. Contohnya saja seperti ini..

Saya mempunyai seorang sahabat, yang karena kesibukan masing-masing kami jarang bertemu. Ia terlahir di keluarga yang cukup mengerti dan taat akan aturan agama. Ia juga pernah mondok sekitar 2 sampai 3 tahun di sebuah pesantren, dan dari semenjak mengenalnya setelah lulus SMP mungkin dia-lah yang paling rajin untuk menjalankan perintah agama, baik yang wajib maupun yang sunnah. Ia juga mempunyai usaha yang sudah cukup mapan sebagai jalan untuk menghidupi dirinya beserta keluarganya, termasuk telah tercukupi juga kebutuhan sandang dan papannya.

Suatu saat saya lewat di depan rumah dan tempat usahanya untuk suatu keperluan, dan sepulangnya dari keperluan saya mampir untuk menemuinya. Ternyata selain usaha lamanya, ia juga sudah punya bisnis baru yang telah berjalan sekitar 1 tahunan, yaitu investasi emas yang beberapa tahun terakhir ini sedang ramai diperbincangkan. Puluhan juta rupiah telah ia dapatkan dari hasil investasi tersebut, dan puluhan juta rupiah lagi pun sedang ia nantikan pencairannya.

Melihat kemudahan sistem, keberhasilan bisnis, dan juga investasinya adalah pada barang yang halal yakni emas, tentu saja saya tertarik, termasuk isteri saya yang hampir saja mengambil tabungannya dan juga tetangga saya yang sudah berencana menjual tanah kebunnya untuk diinvestasikan bareng dengan sahabat saya tadi (sebagai referral). Namun setiap akan mengambil keputusan usaha, saya selalu mempelajari ilmunya terlebih dahulu, apakah usaha tersebut dibolehkan, makruh, atau diharamkan oleh agama yang saya yakini.

Setelah saya pelajari sistem investasi emas tadi, dan juga mempelajari sistem-sistem investasi online lain yang ditawarkan, ternyata walaupun investasinya adalah pada barang yang jelas, suci, dan halal, serta adanya akad perjanjian dan kerelaan antara investor dan pihak yang menjalankan investasi, dan lain-lain yang bisa memenuhi rukun atau syarat investasi, tetapi ada beberapa kekurangan menonjol yang tidak terpenuhi, diantaranya pada pembagian keuntungan.

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Persentase keuntungan yang diberikan mengacu kepada modal/investasi, bukan mengacu kepada keuntungan yang diperoleh, dan inilah yang membuatnya menjadi riba yang haram hukumnya. Misalnya keuntungan 20% dari besarnya investasi. Sedangkan yang halal adalah pembagian untung benar-benar mengacu kepada keuntungan/hasil investasi, misalnya 20% dari besarnya untung yang diperoleh.

Itulah kesalahan yang banyak terjadi,  sehingga istri saya dan tetangga saya pun mengurungkan niatnya. Saya katakan juga alasan tersebut sama sahabat saya tadi, dan apa katanya, “Zaman sekarang sepertinya semua orang juga akan masuk neraka, dan diantara kita masing-masing memang mempunyai pendapat yang berbeda yang harus saling menghargai. Fungsinya zakat, infaq, dan shadaqah juga kan untuk membersihkan harta”

“Astaghfirullaah…”. Euhh, itulah kenikmatan dunia yang melenakan dan melalaikan. Alasan dibuat-buat sendiri.. padahal tidak ada perbedaan pendapat diantara ‘ulama untuk masalah ini. Benar, diantara fungsi zakat, infaq, dan sedekah itu untuk membersihkan harta, tapi saya kira fungsi membersihkan di sana adalah untuk membersihkan riba-riba yang tidak disengaja. Seperti di blog ini misalnya, saya tidak membidik iklan-iklan yang riba, tetapi kadang-kadang iklan yang tidak dikehendaki muncul saja secara otomatis, dan mungkin saya mendapatkan komisi dari klik iklan tadi. Nah, mungkin harta inilah yang masih bisa bersih dengan zakat, infaq, sedekah tadi. Wallahu ‘Alam.

Hukum Investasi Dalam Islam Jumlah Pencarinya Sedikit

Sebelum menuliskan artikel apapun biasanya saya melakukan riset kata kunci terlebih dulu, termasuk sebelum saya menuliskan artikel ini, yakni dengan melakukan riset terhadap kata kunci hukum investasi dalam Islam atau hukum investasi menurut Islam, dan lagi-lagi saya prihatin. Berdasarkan hasil riset, ternyata orang yang mengetikan kata kunci seperti tadi serta kata kunci terkait lainnya di google, ternyata jumlahnya sedikit. Artinya, boleh dibilang bahwa dari sekian banyak orang yang tertarik akan investasi, hanya segelintir orang-lah yang terlebih dulu mempelajari hukumnya, halal atau haramnya. Tapi walaupun begitu, semoga saja mereka mencarinya dengan cara yang lain, misalnya dengan membaca buku berkenaan dengan investasi menurut hukum Islam atau bertanya kepada ahlinya (‘ulama ahli hukum Islam).

Yaa, Alangkah baik seandainya sebagai seorang muslim, sebelum terjun kepada kegiatan apapun terlebih dulu harus mengetahui ilmunya, serta bertanya dalam hati, “Apakah Allah Ridha atau tidak dengan apa yang akan kujalani?”. Terlebih dalam masalah mencari penghidupan atau rezeki, harus sangat berhati-hati, karena rezeki yang didapat nantinya akan dimakan, baik oleh kita sendiri maupun oleh istri/suami dan anak-anak yang kita cintai. Karena jika rezeki tersebut termakan barang satu suap saja, 40 hari do’a/ibadah kita tidak diterima. Apalagi kalau terus menerus hingga mendarah daging, bukan hanya ibadah yang tidak diterima, tetapi cara berfikir dan berperilaku kita dan keluarga yang kita cintai pun akan berpengaruh dan cenderung ke arah negatif.

Memang banyak investasi online yang menggiurkan dan benar-benar sangat menggiurkan. Bagaimana tidak, dengan pendaftaran yang mudah, persyaratan yang mudah, bahkan untuk investasi awal pun kita dikasih atau dipinjami, misalnya $10,00 atau $20,00. Namun bila kita tidak berhati-hati, jangan terlalu salahkan keluarga kita bila cara berfikir dan sikap anak-anak dan istri/suami kita sangat jauh dari tuntunan agama, apalagi bila sampai melahirkan kejahatan, karena mungkin hal tersebut akibat kesalahan kita juga yang tidak berhati-hati dalam menjemput rezeki.

Baik sahabat, saya sudahi dulu artikel yang menyajikan tema tentang hukum investasi dalam Islam ini. Mohon maaf bila saya tidak menyajikan tulisan tentang hukum investasi dalam perspektif Islam secara gamblang dan menyeluruh, karena untuk itu ada ahlinya tersendiri yang memang lebih berhak, dan Anda bisa mencari dan mendapatkannya secara online atau pun secara offline. Semoga bermanfaat.. ~ Cepi Nugraha

Komentar

23 tanggapan untuk “Hukum Investasi Dalam Islam”
  1. fenni says:

    salam..
    artikel ini menarik dan sangat bermanfaat…
    saya juga ingin mengetahui bagaimana hukumnya karyawan yang bekerja di perusahaan investasi, karena kebetulan saya ada tawaran bekerja di perusahaan tersebut?

    lalu bagaimana hukumnya investasi dibidang properti?

    jazakumullah..
    wassalam

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mbak Fenni,
    wa’alaikumussalam, alhamdulillah ya kalau bisa bermanfaat..

    Barang investasinya sendiri, yakni properti, sudah jelas halalnya. Namun sistem investasinya yang menjadi persoalan.

    Mbak lihat saja, apakah investasinya merupakan investasi bagi hasil, yaitu si investor mendapatkan pembagian keuntungan sekian persen dari hasil penjualan properti, atau si investor mendapatkan pembagian untungnya sekian persen dari nilai yang diinvestasikan. Bila yang didapat dari cara pertama insyaallah investasinya halal, namun bila yang diperoleh dari cara kedua maka ini termasuk riba dan jelas keharamannya.

    Bagaimana dengan karyawan yang bekerja di investasi tersebut?

    Bila karyawan bekerja di perusahaan investasi yang menggunakan sistem investasi pertama (bagi hasil) tadi, maka ia telah bekerja di tempat yang halal dan gaji yang diperoleh pun halal.

    Sebaliknya, jika karyawan bekerja di perusahaan investasi yang menggunakan sistem investasi kedua (sistem bunga/riba), maka bisa jadi ia telah bekerja di tempat yang riba, sehingga gaji yang diperoleh pun bisa jadi haram.

    Saya mengacu kepada hadits berikut:

    Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, yang memberi, yang mencatat dan dua saksinya. Beliau bersabda : mereka semua sama. (HR. Muslim)

    Mungkin ibarat karyawan yang bekerja di bank, apakah ia bekerja di bank syari’ah (sistem bagi hasil) atau di bank konvensional (sistem bunga).

    Wallahu’alam, soalnya saya bukan ahli hukum Islam, hehe. Namun ada situs yang saya kira sangat bagus untuk dikunjungi berkenaan dengan hukum-hukum Islam ini, yaitu:

    http://www.rumahfiqih.com/ens/e2.php?id=64
    http://www.rumahfiqih.com

    Silahkan mbak Fenni kunjungi…

    [balas komentar di sini]

  2. munazar says:

    saya mau tanya. jika ada bisnis yang begini sistemnya
    saat kita bergabung kita diwajibkan invest denga dua pilihan
    lalu kita setiap hari di wajibkan untuk bekerja
    untuk mendapatkan pendapatan
    jika kita tidak kerja maka tidak ada pendapatan
    menurut logika saya, hasil ini dikira sebagai gaji kita
    mohon pendapatnya.

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Munazar,

    Yang penting nanti yang didapatkan mas merupakan prosentase bagi hasil dari hasil kerja mas sendiri dan perusahaan tempat dimana mas berinvestasi, namun bukan prosentase dari nilai investasinya, sehingga aman dari riba.

    [balas komentar di sini]

    munazar Reply:

    terimakasih banyak inspirasi nya mas

    [balas komentar di sini]

  3. sanni iskandar says:

    assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    yang ingin saya tanyakan adalah :

    saya mempunyai usaha perdagangan yang dikreditkan selama 1 bulan 1 kali pembayaran. saya menawarkan pesanan konsumen kepada investor sebanyak pesanan dari konsumen dan mendapatkan keuntungan 5-10% untuk investor.

    yang mau saya tanyakan apakah saya melanggar aturan secara islam atau hukum syariah?karena saya juga masih punya marketing yang sama harus saya bayar…

    terima kasih..

    wasalammualaikum. warahmatullahi wabarakatuh.

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Pak Sanni,
    wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh waridhwanuh.

    Jika 5-10% tadi dihitung dari nilai investasi, maka telah melanggar hukum. Namun jika 5-10% tersebut dihitung dari laba atau untung, maka hal itu tidak melanggar hukum Islam.

    [balas komentar di sini]

  4. ilfa lailiyah says:

    punten saya mau tanya…
    kalau sistem y seperti mmm itu termasuk riba bukan
    terima kasih

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Ilfa,

    Punten oge.. Saya tidak mengetahui sistem mmm itu seperti apa. Jadi saya tidak bisa menganggapnya riba atau bukan.

    [balas komentar di sini]

  5. SUSAN says:

    ASS..SYA MAU TNYA
    BULAN LALU TEMAN SYA MENAWARKAN INVESTASI (UANGDIPUTAR DI JUAL BELI EMAS)DAN PROFIT YG DIJANJIKAN ADLH 2,5% DR NILAI INVESTASI STLH 45HARI

    YG K2 ARISAN 1X BAYAR MISALKN 100RB NAHH SETELH 5BLN CAIR 500RB
    APAKAH 22NYA ITU TERMASK HALAL/HARAM YAH ??TERIMAKASIH

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Ibu Susan,
    wa’alaikum.

    Memang jual beli emasnya bisa saja halal, tapi keuntungan sekian persen dari nilai investasi itulah yang tidak halal atau riba’. Yang dihalalkan adalah keuntungan yang dijanjikan adalah sekian persen dari keuntungan jual-beli.

    Mengenai arisan juga sepertinya riba’ juga. Kenapa? Karena pihak pengelola menetapkan pencairan 500 ribu, padahal jika berdasarkan bagi hasil, dimana uang yang 100 rubu itu ia putar di usaha yang halal, maka nanti pembagian hasilnya tidak mungkin tetap di 500 ribu, karena keuntungan usaha biasanya tidak selalu sama.

    [balas komentar di sini]

  6. susi says:

    Asalamualaikum
    Saya susi
    Saya ikut infestasi 100 rb dlm waktu 3 bln jdi 300rbu apakah investasi saya itu halal dan saya tidak tau uang saya di kelola di nidang usaha apa mohon penjelasanya

    Terimakasih wasalamualaikum

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Ibu Susi,
    wa’alaikumussalam…

    Hasil yang ditetapkan dari 100 menjadi 300 itu sudah jelas riba’ karena itu sama dengan bunga, berbeda dengan bagi hasil, dimana nilainya tidak selalu tetap, namun tergantung besar atau kecilnya laba usaha.

    Jangan asal kerjasama atau investasi tanpa kita tau uang kita dikelola dalam usaha apa ya, bagaimana coba kalau dipakai untuk mengelola usaha yang tidak halal. Selain masuk ke wilayah samar-samar dan mendekati ke haram, kan akad kerjasamanya usahanya juga tidak jelas kalau seperti itu.

    Tinggalkan investasi tersebut, supaya hidup kita berkah dan selamat ya..

    [balas komentar di sini]

  7. sancoLgates says:

    hukum investasi dalam islam nya mana gan ?

    thanks penjelasannya, saya nggak jadi investasi emas, butuh referensi cara investasi menurut islam.

    [balas komentar di sini]

  8. zulham says:

    mas jika ikutan klik iklan di internet trus nanti setiap x klik dibayar $ 0,0001 apakah halal atau haram mas

    [balas komentar di sini]

  9. ocad says:

    Saya pernah mendengar guru ngaji tentang detail riba,ada dua keadaan soal pinjam meminjam keadaan satu:sipeminjam uang minjam 100 rb dan si peminjam memberikan pinjaman. Tp dilebihkan,keadaan ke ²:orang yang meminjamkan uang misal 100 rb tp dia meminta balik 200 rb dikemudian hari,hukum pertama tentu halal dan ke dua haram,kira2 menurut se pemilik artikel ini bener ga ilmu itu,,,krna ada kata2 anda yang sepertinya ada kekeliruan,

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Ocad,

    Coba diperjelas, maksud dilebihkan itu bagaimana pada contoh keadaan 1 tersebut?

    Kata-kata saya yang mana yang menurut Mas sepertinya keliru? Dan mohon bantu jelaskan..

    Terimakasih..

    [balas komentar di sini]

  10. Fajar says:

    Gimana kalau si pengelolah modal rugi atau bangkrut??? Apakah wajib mengganti uang investor????

    [balas komentar di sini]

  11. Rifqi says:

    Terimakasih mas…
    Sebelumnya saya tergiur menyimak berita dari internet terkait investasi online namun sebelumnya saya belum paham betul apa itu investasi dan bagaimana sistem kelolanya oleh sebab itu coba saya searching di mesin pencarian apa sebenarnya investasi, bagaimana hukumnya dalam islam, lalu bagaimana menjalankan investasi yang benar saya mulai paham setelah membaca artikel ini.

    [balas komentar di sini]

  12. Ani says:

    Assalam mualaikum
    Sya ani
    Mau menanyakan investasi online.mgkin Mas dengar soal CSG compact500.
    Menanam 500rb dan tiap bulan terima 125rb seumur hidup..bagi saya itu bnyk,bank pun ga akan mmberikan sbanyak itu.
    Sy pun mnjelaskan padanya Kali itu haram..
    Bisa di bilang riba
    Bagaimana menurut and a Mas ??..
    Kasihan bnyak teman2 sya yg sdah ikutan.
    To long balas..mgkn bisa balas di email saya.
    Trims kasih banyak sebelom nya
    Wassalam
    Teman sy brusaha mngajak sy utk iku

    [balas komentar di sini]

  13. Tempe says:

    Bagaimana dengan Lara 3% system baru dunia internet depo 1 kali dibayar 3% perhari

    Apakah itu haram juga ?

    [balas komentar di sini]

  14. Athi ummu Raffa says:

    Assalamualaikum akhy / pak…

    Saya ingin bertanya juga mengenai investasi.
    Semisal kita investasi di sebuah PT yg bergerak dalam perusahaan Air mineral, helm, rumah makan, dll…tergolong usaha halal.
    Akad perjanjian nya kita mendapatkan keuntungan setiap bulan sebesar 25% dari modal yg kita investasi kan.
    misalkan kita investasi 10 juta…maka setiap bulan kita mendapatkan keuntungan sebesar 2.500.000
    Dan keuntungan tersebut berlaku selama perusahaan terus berjalan dan berkembang..
    Bagaimana hukum uang 25% yg kita terima setiap bulan tsb akhy / pak ?

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Wa’alaikumussalam Ummu Raffa,

    Sepengetahuan saya uang yang 25% tersebut merupakan uang riba. Karena apa? Karena yang 25% tersebut diperoleh dari besarnya nilai investasi, bukan dari hasil atau keuntungan bisnis, jadi semisal bunga bank konvensional. Sementara yang syar’i, 25% tersebut harusnya diambil dari besar kecilnya keuntungan usaha.. Usaha untungnya besar ikut dapat besar, usaha untung kecil dapatnya juga kecil dengan 25% tersebut (Wallahu A’lam).

    [balas komentar di sini]

Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!