/SMS/WA : 08112225788 (08-21.00 WIB) Untuk konsultasi, terapi, dan ruqyah dikenakan infaq seikhlasnya


Hukum Investasi Dalam Islam

Hukum Investasi Menurut Islam

Artikel Rumah Cahaya berjudul Hukum Investasi Dalam Islam ini saya tulis bukan untuk membahas hukum Islam secara terperinci. Tulisan ini dibuat atas dasar keprihatinan saya terhadap sesama saudara seagama (muslim), yang makin hari sepertinya makin banyak saja diantara mereka yang terjerumus ke dalam investasi ribawi, terlebih lagi investasi-investai online tidak halal yang makin marak saja ditawarkan di dunia maya ini.

Mungkin dengan latar belakang karena sulitnya mendapatkan pekerjaan, mungkin juga karena bingung mau usaha apa atau alasan-alasan lainnya yang terkait dengan masalah penghidupan, termasuk juga karena ingin mendapatkan harta yang berlebih, maka dengan mudahnya mereka ikut saja menjadi member aktif investasi-investasi online ribawi tadi serta menikmati hasil investasi yang mereka dapatkan.

Ilmu Kontak Batin Kontak Rasa telepati

Yang lebih memprihatinkan lagi, bila ternyata yang terjebak ke dalam investasi seperti ini adalah mereka orang-orang yang cukup mengerti ilmu agama, menjalankan shalat lima waktu, dan ibadah-ibadah lainnya, yang mungkin karena telah begitu asyiknya menikmati hasil investasi yang diperoleh dan sangat berat untuk meninggalkannya, bahkan saat dicoba diingatkan. Contohnya saja seperti ini..

Saya mempunyai seorang sahabat, yang karena kesibukan masing-masing kami jarang bertemu. Ia terlahir di keluarga yang cukup mengerti dan taat akan aturan agama. Ia juga pernah mondok sekitar 2 sampai 3 tahun di sebuah pesantren, dan dari semenjak mengenalnya setelah lulus SMP mungkin dia-lah yang paling rajin untuk menjalankan perintah agama, baik yang wajib maupun yang sunnah. Ia juga mempunyai usaha yang sudah cukup mapan sebagai jalan untuk menghidupi dirinya beserta keluarganya, termasuk telah tercukupi juga kebutuhan sandang dan papannya.

Suatu saat saya lewat di depan rumah dan tempat usahanya untuk suatu keperluan, dan sepulangnya dari keperluan saya mampir untuk menemuinya. Ternyata selain usaha lamanya, ia juga sudah punya bisnis baru yang telah berjalan sekitar 1 tahunan, yaitu investasi emas yang beberapa tahun terakhir ini sedang ramai diperbincangkan. Puluhan juta rupiah telah ia dapatkan dari hasil investasi tersebut, dan puluhan juta rupiah lagi pun sedang ia nantikan pencairannya.

Melihat kemudahan sistem, keberhasilan bisnis, dan juga investasinya adalah pada barang yang halal yakni emas, tentu saja saya tertarik, termasuk isteri saya yang hampir saja mengambil tabungannya dan juga tetangga saya yang sudah berencana menjual tanah kebunnya untuk diinvestasikan bareng dengan sahabat saya tadi (sebagai referral). Namun setiap akan mengambil keputusan usaha, saya selalu mempelajari ilmunya terlebih dahulu, apakah usaha tersebut dibolehkan, makruh, atau diharamkan oleh agama yang saya yakini.

Setelah saya pelajari sistem investasi emas tadi, dan juga mempelajari sistem-sistem investasi online lain yang ditawarkan, ternyata walaupun investasinya adalah pada barang yang jelas, suci, dan halal, serta adanya akad perjanjian dan kerelaan antara investor dan pihak yang menjalankan investasi, dan lain-lain yang bisa memenuhi rukun atau syarat investasi, tetapi ada beberapa kekurangan menonjol yang tidak terpenuhi, diantaranya pada pembagian keuntungan.

Persentase keuntungan yang diberikan mengacu kepada modal/investasi, bukan mengacu kepada keuntungan yang diperoleh, dan inilah yang membuatnya menjadi riba yang haram hukumnya. Misalnya keuntungan 20% dari besarnya investasi. Sedangkan yang halal adalah pembagian untung benar-benar mengacu kepada keuntungan/hasil investasi, misalnya 20% dari besarnya untung yang diperoleh.

Itulah kesalahan yang banyak terjadi,  sehingga istri saya dan tetangga saya pun mengurungkan niatnya. Saya katakan juga alasan tersebut sama sahabat saya tadi, dan apa katanya, “Zaman sekarang sepertinya semua orang juga akan masuk neraka, dan diantara kita masing-masing memang mempunyai pendapat yang berbeda yang harus saling menghargai. Fungsinya zakat, infaq, dan shadaqah juga kan untuk membersihkan harta”

“Astaghfirullaah…”. Euhh, itulah kenikmatan dunia yang melenakan dan melalaikan. Alasan dibuat-buat sendiri.. padahal tidak ada perbedaan pendapat diantara ‘ulama untuk masalah ini. Benar, diantara fungsi zakat, infaq, dan sedekah itu untuk membersihkan harta, tapi saya kira fungsi membersihkan di sana adalah untuk membersihkan riba-riba yang tidak disengaja. Seperti di blog ini misalnya, saya tidak membidik iklan-iklan yang riba, tetapi kadang-kadang iklan yang tidak dikehendaki muncul saja secara otomatis, dan mungkin saya mendapatkan komisi dari klik iklan tadi. Nah, mungkin harta inilah yang masih bisa bersih dengan zakat, infaq, sedekah tadi. Wallahu ‘Alam.

Hukum Investasi Dalam Islam Jumlah Pencarinya Sedikit

Sebelum menuliskan artikel apapun biasanya saya melakukan riset kata kunci terlebih dulu, termasuk sebelum saya menuliskan artikel ini, yakni dengan melakukan riset terhadap kata kunci hukum investasi dalam Islam atau hukum investasi menurut Islam, dan lagi-lagi saya prihatin. Berdasarkan hasil riset, ternyata orang yang mengetikan kata kunci seperti tadi serta kata kunci terkait lainnya di google, ternyata jumlahnya sedikit. Artinya, boleh dibilang bahwa dari sekian banyak orang yang tertarik akan investasi, hanya segelintir orang-lah yang terlebih dulu mempelajari hukumnya, halal atau haramnya. Tapi walaupun begitu, semoga saja mereka mencarinya dengan cara yang lain, misalnya dengan membaca buku berkenaan dengan investasi menurut hukum Islam atau bertanya kepada ahlinya (‘ulama ahli hukum Islam).

Yaa, Alangkah baik seandainya sebagai seorang muslim, sebelum terjun kepada kegiatan apapun terlebih dulu harus mengetahui ilmunya, serta bertanya dalam hati, “Apakah Allah Ridha atau tidak dengan apa yang akan kujalani?”. Terlebih dalam masalah mencari penghidupan atau rezeki, harus sangat berhati-hati, karena rezeki yang didapat nantinya akan dimakan, baik oleh kita sendiri maupun oleh istri/suami dan anak-anak yang kita cintai. Karena jika rezeki tersebut termakan barang satu suap saja, 40 hari do’a/ibadah kita tidak diterima. Apalagi kalau terus menerus hingga mendarah daging, bukan hanya ibadah yang tidak diterima, tetapi cara berfikir dan berperilaku kita dan keluarga yang kita cintai pun akan berpengaruh dan cenderung ke arah negatif.

Memang banyak investasi online yang menggiurkan dan benar-benar sangat menggiurkan. Bagaimana tidak, dengan pendaftaran yang mudah, persyaratan yang mudah, bahkan untuk investasi awal pun kita dikasih atau dipinjami, misalnya $10,00 atau $20,00. Namun bila kita tidak berhati-hati, jangan terlalu salahkan keluarga kita bila cara berfikir dan sikap anak-anak dan istri/suami kita sangat jauh dari tuntunan agama, apalagi bila sampai melahirkan kejahatan, karena mungkin hal tersebut akibat kesalahan kita juga yang tidak berhati-hati dalam menjemput rezeki.

Baik sahabat, saya sudahi dulu artikel yang menyajikan tema tentang hukum investasi dalam Islam ini. Mohon maaf bila saya tidak menyajikan tulisan tentang hukum investasi dalam perspektif Islam secara gamblang dan menyeluruh, karena untuk itu ada ahlinya tersendiri yang memang lebih berhak, dan Anda bisa mencari dan mendapatkannya secara online atau pun secara offline. Semoga bermanfaat.. ~ Cepi Nugraha