Hukum-hukum Dalam Islam

Hukum-hukum Dalam Islam

Hukum Dalam Islam

Sahabat Rumah Cahaya, seringkali kita mendengar kata wajib, sunat, haram, makruh, dan mubah di keseharian kita, yang seolah telah menjadi rambu buat kita dalam melakukan setiap aktivitas apapun, manakah yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Kata-kata tersebut sebenarnya merupakan hukum-hukum dalam Islam.

Dalam tulisan saya kali ini kita akan belajar bersama mengenai hukum-hukum dalam Islam tadi. Seperti biasa saya akan ambilkan sumber tulisan dari ahlinya, dimana dalam hal ini akan saya tuliskan ulang buah karya dari Almarhum Ustadz H. Sulaiman Rasyid, yaitu buku Al-Fiqhul Islami’ atau Fiqih Islam yang pernah (mungkin masih) menjadi buku wajib pada banyak perguruan tinggi menengah dan tinggi Islam di Indonesia serta Malaysia.

Hukum-hukum Dalam Islam Ada 5 (Lima)

1. Wajib, yaitu perintah yang mesti dikerjakan. Dengan ketentuan, jika perintah tersebut dipatuhi (dikerjakan), maka yang mengerjakannya mendapat pahala, dan jika tidak dikerjakan (ditinggalkan), maka ia berdosa.

2. Sunat, yaitu perintah (suruhan), yang jika dikerjakan dapat pahala, dan jika tidak dikerjakan tidak berdosa.

3. Haram, yaitu larangan keras, dengan pengertian, kalau dikerjakan kita berdosa, dan jika tidak dikerjakan (ditinggalkan) kita mendapat pahala.

4. Makruh, yaitu larangan yang tidak keras, kalau dilanggar tidak dihukum (tidak berdosa), dan jika larangan ini ditinggalkan diberi pahala.

5. Mubah, yaitu sesuatu yang boleh dikerjakan dan boleh pula ditinggalkan. Yakni kalau dikerjakan tidak berpahala dan tidak pula berdosa, dan kalau ditinggalkan tidak berpahala dan tidak berdosa.

Dalil fiqih ialah: 1. Alqur’an, 2. Hadis, 3. Ijma mujtahidin, 4. Qias. Adapula setengah dari para ulama menambah selain dari keempat dalil tersebut yaitu istihsan, istihlal, ‘uruf, dan istishhab.

Hukum-hukum itu ditinjau dari pengambilannya menjadi 4 (empat) macam:

1. Hukum yang diambil dari nas yang tegas, yakin adanya, dan yakin pula akan maksudnya yang menunjukkan atas hukum itu.

Ahkamun mashadiruha nushushun sharihatun qath’iyyatun fi tsubutiha wa qath’iyyatun fi dalalatiha ‘ala ahkamiha.

Hukum seperti ini tetap tidak berubah dan wajib dijalankan oleh seluruh kaum muslimin, seorangpun tidak berhak membantahnya. Seperti wajibnya shalat yang 5 waktu, zakat, puasa, haji dan syarat sah jual beli dengan rela. Kata Imam Syafi’i, apabila ada ketentuan hukum dari Allah SWT pada suatu kejadian, wajiblah atas tiap-tiap muslimin mengikutinya.

2. Hukum yang diambil dari nash yang tidak yakin maksudnya terhadap hukum-hukum itu.

Ahkamun mashadiruha nushushun zhanniyyatun fiddalalati ‘ala ahkamiha.

Dalam hal yang seperti ini terbukalah bagi mujtahid untuk berijtihad dalam batas memahami nash itu saja, tidak boleh melampaui lingkungan nas itu. Para mujtahid boleh mewujudkan hukum atau menguatkan salah satu hukum dengan ijtihadnya, umpamanya bolehkah khiyar majlis bagi dua orang yang berjual beli atau tidak, dalam memahami hadits:

Albai’ani bilkhiyari ma lam yatafarraqa.

“Dua orang yang melakukan jual-beli boleh memilih antara meneruskan jual-beli atau tidak, selama keduanya belum berpisah.”

Mungkin yang dimaksud dengan berpisah dalam hadits tersebut ialah berpisah badan atau berpisah pembicaraan, yang dimaksud ijab dan qabul, dan seperti wajib menyapu semua kepala atau sebagian saja ketika wudhu, dalam memahami ayat:

Wamsahu biru-usikum.

Surat Almaidah ayat 6, dan seperti tidak halal binatang yang disembelih dengan semata-mata tidak membaca bismillah dalam memahami hadis:

Ma anharaddama wa dzukirasmullahi ‘alaihi.

3. Hukum yang tidak ada nash, tetapi pada suatu masa telah sepakat (ijma’) mujtahidin atas hukum-hukumnya.

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Ahkamun lamtadulla ‘alaiha nushushun laqath’iyyatun walazhanniyyatun walakinin’aqada ‘alaiha ijma’ulmujtahidina fi ashri minal’ushuri.

Seperti pusaka datuk seperenam dan batalnya perkawinan seorang muslimah dengan laki-laki bukan muslim. Di sini tidak pulalah ada jalan untuk ijtihad bahkan wajib atas tiap-tiap muslim mengakui dan menjalankannya karena hukum yang disepakati oleh mujtahidin itu adalah hukum untuk umat seluruhnya, dan umat itu menurut sabda Rasulullah saw. tidak akan sepakat atas sesuatu yang sesat. Mujtahidin itu merupakan ulil-amri dalam mempertimbangkan, sedangkan Allah SWT menyuruh umatnya menaati ulil-amri tersebut. Sungguh pun begitu, kita wajib mengetahui betul-betul bahwa pada hukum itu telah terjadi ijma’ (sepakat) ulama mujtahidin, bukan hanya semata-mata didasarkan pada sangkaan yang tidak melalui penyelidikan yang teliti.

5. Hukum yang tidak dari nash, baik qath’i ataupun zhanni, dan tidak pula ada kesepakatan mujtahidin atas hukum itu.

Ahkamun lamtadulla ‘alaiha nushushun laqath’iyyatun walazhanniyyatun walam yan’aqid ijma’un ‘alaiha minalmujtahidina fi ‘ashri minal ‘ushuri.

Seperti yang menghiasi kitab-kitab fiqih madzhab yang kita lihat di waktu ini. Hukum seperti ini adalah buah dari pendapat salah seorang mujtahid menurut asas (cara) yang sesuai dengan akal pikirannya dan keadaan di lingkungan masing-masing di waktu terjadinya peristiwa itu. Hukum-hukum seperti ini tidak tetap, mungkin berubah dengan berubahnya keadaan atau tinjauan masing-masing. Maka mujtahid di masa itu atau sesudahnya berhak untuk membantah serta menetapkan hukum yang lain, sebagaimana mujtahid pertama telah memberi (menetapkan) hukum itu sebelumnya, dan ia pun dapat pula mengubah hukum itu dengan pendapatnya yang lain dengan tinjauan yang lain setelah diselidiki dan diteliti kembali pokok-pokok pertimbangannya. Buat ijtihad seperti ini tidak wajib atas seluruh muslimin menjalankannya, hanya wajib atas mujtahid itu sendiri dan atas orang yang minta fatwa kepadanya, selama pendapatnya itu belum diubahnya. Jadi, pengambilan hukum yang wajib diikuti oleh semua kaum muslimin hanya Qur’an, Hadis Mutawatir qath’i dilalah, dan ijma’ mujtahidin.

Sekilas Mengenai Sejarah & Perkembangan Ilmu Fiqih

Pada masa Rasulullah saw. masih hidup, segala sesuatunya beliau pimpin sendiri. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu itu langsung mendapatkan putusan dari beliau. Para sahabat senantiasa beliau beri petunjuk, ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan Allah kepada beliau dengan perantaraan Jibril selalu beliau ajarkan dan beliau suruh hafalkan, beliau juga menyuruh para sahabat untuk menuliskannya. Terkadang, sewaktu dikemukakan kepada beliau suatu peristiwa, beliau termenung (tidak menjawab) karena beliau menunggu turunnya wahyu dari Allah. Setelah beliau menerima wahyu mengenai persoalan yang sedang dihadapkan kepada beliau tersebut, kemudian beliau berikan kepastian serta beliau jelaskan kepada para sahabat. Seringkali wahyu itu berupa jawaban atas pertanyaan atau peristiwa yang terjadi, serta membawa hukum-hukum yang lain.

Rasulullah saw. menerima wahyu sekitar 23 tahun lamanya. Dalam masa itu, selesailah sudah turunnya kitab suci Al-Qur’an yang cukup mengandung segala petunjuk bagi manusia untuk kemaslahatan dunia dan akhirat. Walaupun tidak secara tafshil (rincian) satu per satu, bahkan banyak ayat yang berupa mujmal (umum), tetapi kemudian dijelaskan oleh Rasulullah saw., ada yang dengan lisan, ada yang dengan perbuatan, dan ada pula yang dengan jalan membiarkannya saja. Umpama suatu perbuatan yang diperbuat orang di depan beliau, beliau melihat dan mengetahui sifat-sifat perbuatan itu, tetapi beliau diam saja tidak memberi keterangan atas hukum perbuatan itu. Diamnya baginda Nabi ini menjadi penjelasan bahwa perbuatan tersebut hukumnya “mubah” boleh.

Rasulullah saw. berpindah dari alam fana ke alam baqa meninggalkan sahabat-sahabat yang banyak merupakan ‘alim ‘ulama cerdik pandai. Mereka diserahi menggantikan beliau untuk memimpin negara dan rakyat, memajukan agama, menghukum segala sesuatu dengan adil. Dengan sendirinya pengetahuan mereka tentu tidak sama, sebagian dari mereka merupakan ‘alim mutakhashshish (spesialis) dalam suatu ilmu, ada yang mutakhashshish dalam ilmu hukum, ada yang mutakhashshish dalam ilmu kenegaraan dan politik, dan ada pula yang mutakhashshish dalam ilmu ekonomi, perdagangan, dst.

Yang menjadi pokok bagi mereka dalam menghadapi segala persoalan, mereka memeriksanya dalam kitab suci Al-Qur’an dan Hadits yang mereka hapal. Tetapi kadang-kadang yang mereka hadapi tidak dapat dicari nashnya dalam Al-Qur’an atau hadits. Ketika itu mereka saling bertanya, mungkin ada hadits yang diketahui oleh yang lain, sedangkan yang menghadapi peristiwa itu tidak mengetahuinya. Apabila ada diantara mereka yang mengetahui hadits mengenai peristiwa tersebut, mereka hukumlah peristiwa itu menurut nash hadis. Sungguh pun begitu kadang-kadang tidak dijumpai nash yang jelas, dalam hal seperti ini mereka berijtihad untuk mencari hukum dengan memperbandingkan dan meneliti ayat-ayat dan hadits yang umum, serta mempertimbangkan dan menyesuaikan dengan peristiwa yang terjadi, diqiaskan dengan hukum yang sudah ada, yang berdekatan dengan peristiwa yang baru terjadi itu.

Dalam soal-soal yang penting mereka bermusyawarah, bertukar pikiran, sedangkan dalam permusyawaratan itu semua didasarkan pada dua pokok, yaitu Al-Qur’an dan Hadits, sehingga permusyawaratan itu dapat menghasilkan keputusanan. Demikianlah cara mereka bekerja, seorang yang mempunyai kedudukan tinggi tak segan-segan bertanya kepada siapa pun, walau kepada yang lebih rendah kedudukannya.

Agama Islam makin tersiar, negeri-negeri di Jazirah Arab menggabungkan diri dengan pemerintahan Islam. Pada tahun 17 Hijriyah daerah Syam dan Irak ditaklukan pula. Tahun 20 – 21 Hijriyah Mesir dan Persi dikalahkan, dan negara Islam meluas ke timur dan ke barat.

Untuk kepentingan negara dan agama, maka ‘alim ‘ulama cerdik pandai perlu berpindah dari tempat kelahiran mereka menuju daerah-daerah yang baru. Di sana mereka dapati adat, pergaulan, peraturan, dan peristiwa-peristiwa yang sungguh berbeda dari apa yang mereka alami di daerah kelahiran mereka. Tiap-tiap daerah mempunyai adat, pergaulan, dan peraturan sendiri. daerah Parsi mempunyai undang-undang dan peraturan sendiri sebagai hasil kemajuan ilmu pengetahuan di sana. Mesir dan Syam mempunyai cara sendiri pula akibat peraturan dan undang-undang yang diwarisinya dari peninggalan pemerintahan Romawi. Ringkasnya, keadaan di daerah-daerah baru itu berbeda-beda dengan keadaan daerah yang lama (asal). Bahkan keadaan di daerah baru itu ada yang lebih maju daripada di Jazirah Arab.

Dalam menghadapi kejadian itu, perbedaan-perbedaan antara daerah-daerah baru dengan daerah-daerah lama, atau antara sesama daerah baru, ‘alim ‘ulama cerdik pandai perlu berusaha agar semua persoalan yang mereka hadapi dapat disesuaikan dengan agama Islam, karena mereka mengetahui bahwa Islam bukan untuk meruntuhkan atau membuang segala yang ada dan menggantinya dengan yang baru, tetapi ia memperhatikan serta menimbang segala sesuatu dengan dasar yang baik, serta melihat manfaat dan mudharatnya.

Tiap-tiap yang baik atau maslahat dijadikan syari’at, dan tiap-tiap yang buruk atau merusak dibuang dan dilarang mendekatinya. Sesuatu yang hanya perlu diperbaiki, ditambah atau dikurangi, diperbaikinya sehingga menjadi baik dan berfaedah untuk manusia. Sesudah diperbaiki dijadikan “syari’at”.

Islam telah menetapkan haji menjadi salah satu rukun Islam yang lima sesudah dibersihkan dari sifat-sifat berhala. Islam telah menetapkan hukum perkawinan (pernikahan), perceraian, hukum jual-beli dan beberapa urusan mu’amalah setelah diatur dan diperbaiki menurut kemaslahatan. Juga Islam telah mengharamkan minuman keras dan berjudi karena kerusakan yang ditimbulkan oleh keduanya lebih banyak daripada manfaatnya. Pun Islam telah memberikan beberapa hak bagi perempuan yang di waktu sebelum Islam (zaman jahiliyah) tidak ada.

Demikianlah Allah SWT dan Rasul-Nya memberi petunjuk tentang beberapa peristiwa dan adat-adat yang ada di zaman jahiliyah, sehingga dengan segera akal pikiran kita dapat memahami bahwa peristiwa-peristiwa dan soal-soal yang dikemukakan kepada mujtahidin (‘alim ‘ulama cerdik pandai) apabila tidak ada nash (dari Kitab Suci dan Hadits) mereka ada hak mempertimbangkannya, serta memberi putusan yang sesuai dengan pokok syari’at, tidak bertentangan dengan nash Al-Qur’an atau Hadits.

Dengan demikian dapatlah dipahami hubungan antara undang-undang negara yang ditaklukan oleh muslimin dengan fiqh Islam. Umpamanya, peraturan-peraturan dan hukum-hukum pemerintahan Romawi di Mesir dahulu banyak yang berhampiran atau sama dengan pendapat ahli fiqih di Mesir setelah Mesir diperintah oleh pemerintah Islam. Sehingga ada orang yang mengatakan bahwa undang-undang dan peraturan pemerintah Romawi banyak yang diambil dan dicontoh oleh ‘ulama Islam dalam buku fiqih mereka, begitu juga undang-undang dan peraturan negara lain yang telah ditaklukan oleh kaum muslimin, sampai ada yang mengatakan, “sesungguhnya fiqh Islam itu adalah pendapat ‘ulama-‘ulama Islam dengan mempergunakan peraturan-peraturan atau undang-undang negara-negara yang ditaklukan”.

Sangkaan tersebut adalah sangkaan yang tidak sehat, kurang teliti, atau karena tidak mempelajari agama Islam lebih jauh. Ia tidak mempelajari cara-cara ‘ulama Islam menetapkan hukum fiqih. Kalau dipelajari riwayat tumbuhnya hukum fiqh dan cara-cara ‘ulama menyusun hukum-hukum itu, serta darimana diambil dasar-dasar pokoknya, tentu ia tidak akan berkata demikian.

‘Ulama di zaman sahabat sampai kepada zaman tabi’in dan seterusnya mengambil hukum-hukum fiqh bukan semata-mata dari pendapat mereka dengan melihat dan meneliti peristiwa yang ada di tengah-tengah mereka saja, tetapi sebagaimana yang telah diterangkan di atas, mereka mengambil hukum-hukum itu dari pokoknya, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Qa’idah yang menjadi dasar dan pegangan mereka ialah: Allah SWT menurunkan hukum yang sesuai untuk segala masa dan semua tempat, hanya sebagian hukum diambil dari nash (secara rincian), dan sebagian lagi diambil dari ayat atau hadits yang umum. Mereka sesuaikan ayat atau hadis umum itu dengan keadaan kemaslahatan, kemanfaatan, dan kebaikannya, baik yang bersangkut dengan diri sendiri ataupun yang berhubungan dengan umum. Sekali-kali tidaklah diizinkan mereka mengambil hukum dan undang-undang yang bukan Islam atau undang-undang yang semata-mata bikinan manusia saja.

Pusat ‘alim ‘ulama dan cerdik pandai di masa sahabat tempat mengembangkan dan mempraktekkan hukum Islam dan ilmu pengetahuan terhadap muslimin khususnya dan terhadap umat manusia umumnya ialah daerah-daerah Makkah, Madinah, Kufah, Basrah, syam, dan Mesir.

Di bawah ini kita cantumkan sebagian nama-nama ‘ulama dari sahabat Rasulullah saw. yang sungguh berjasa besar dalam menjalankan dan menyiarkan hukum-hukum fiqih, yaitu: Mu’adz, Abdullah bin ‘Umar, Abdullah bin ‘Abbas, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari, Abu Darda’, ‘Ubadah bin Shamit, serta Abdullah bin Amr bin ‘Ash. Mereka itu tersebar di daerah-daerah tersebut, dibawa oleh kepentingan agama dan negara, didorong oleh rasa cinta dan taat kepada perintah Allah. Selain mereka bekerja sebagai pemerintah, mengatur keadaan negeri, menyusun dan merencanakan undang-undang dan peraturan-peraturan, mereka juga berperan sebagai pendidik yang mengajari dan menidik anak-anak dan teman-teman mereka, menghapal dan memahamkan Al-Qur’an dan Hadits. Demikian perkembangan ilmu fiqh dari zaman tabi’in serta zaman kemudiannya yang disebut zaman tabi’it tabi’in dan seterusnya.

Baiklah sahabat Rumah Cahaya, semoga artikel mengenai hukum-hukum dalam Islam serta sejarah dan perkembangan ilmu fiqih yang telah saya tuliskan ulang ini bermanfaat bagi semua.. ~ Cepi Nugraha

Bagikan Artikel...
Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!