Gamelan Degung Sunda

Gamelan Degung Sunda

Gamelan Degung Sunda (UNSIL)

Sahabat Rumah Cahaya, tulisan saya kali ini mengetengahkan artikel tentang Gamelan Degung Sunda. Bahan artikelnya saya peroleh dari pelajaran bahasa Sunda pada saat duduk di bangku SMP dulu. Sudah sekitar 25 tahunan yang lalu dari penulisan kembali artikelnya di blog ini. Wah.. kertas diktatnya pun sudah berwarna kuning kusam dan agak rusak, hehe. Namun alhamdulillah, semua isinya masih sangat jelas untuk dibaca. Ikuti yuk…

Degung adalah gamelan buhun Sunda sejenis waditra (alat-alat yang mengeluarkan bunyi/instrumen musik dalam kesenian tradisional) yang dipukul, terdiri dari 6 gong kecil, dan biasanya digantungkan pada alat yang disebut kakanco. Waditra ini biasa disebut bende renteng atau jengglong gayor. Dalam perkembangannya, waditra ini tidak selamanya digantung, namun terkadang diletakkan pada ancak sepertihalnya bonang, supaya lebih mudah memukul/membunyikannya. Selanjutnya nama alat musik tradisional ini menjadi nama gamelan yang disebut Gamelan Degung.

Menurut sejarahnya, dahulu gamelan degung hanya ditabuh atau dimainkan di lingkungan para bangsawan (ningrat). R.A.A. Wiranatakusumah IV, yang menjabat sebagai bupati Bandung sebelum Perang Dunia ke II, adalah salah seorang yang sangat mencintai gamelan degung. Salah satu lagu yang direkam dari gamelan degung Sunda miliknya, dulu selalu diputar di RRI Studio Bandung untuk memberi pertanda bahwa RRI akan menyiarkan berita daerah.

Pada zaman penjajahan Belanda, di kawasan kabupaten Bandung hanya ada 5 perangkat gamelan degung, diantaranya adalah miliknya R.A.A. Wiranatakusumah IV tadi. Di kabupaten lainnya, yakni di kabupaten Sumedang ada 7 perangkat, di kabupaten Ciamis ada 5 perangkat, dan di kabupaten Tasikmalaya ada 2 perangkat.

Karena gamelan degung sangat digemari oleh para pejabat, maka ada yang beranggapan bahwa kata degung tersebut berasal dari Ratu Agung atau Tumenggung, yaitu salah satu gelar priyayi pada zaman dulu. Oleh sebab itu, baik lagu-lagunya atau tabuhannya, selamanya menggambarkan hal-hal yang serba agung (memiliki kebesaran, ketinggian, atau kemegahan).

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Awal mulanya gamelan degung sangatlah sederhana, tidak memakai seruling, peking, juga gendang. Tidak seperti gamelan degung pada saat ini. Lagu-lagunya juga belum banyak, yang tercatat diantaranya lagu “Galatik Mangut”, “Bale Bandung”, dan “Ayun Ambing”.

Sewaktu pucuk pimpinan kabupaten Bandung dipegang oleh R.A.A. Wiranatakusumah IV, barulah susunan perangkat gamelan degung tersebut dilengkapi dengan seruling, peking dan gendang. Hal itu dirintis oleh Abah Iyan sekeluarga, yakni Abah Idi, Abah Oyo, dan Abah Atma. Lagu-lagunya juga terus bertambah, seperti lagu “Surung Dayung” “Gendre”, “Kintel Bueuk”, “Duda”, “Lambang”, “Rentang-rentang”, “Ujung Laut”, “Kurawul” dan “Palwa”.

Pada zaman kedudukan Jepang dan zaman Revolusi, gamelan degung hampir-hampir padam (sirna/tenggelam), terutama setelah wafatnya Abah Idi pada tahun 1945. Dengan jasa tokoh-tokoh (inohong) degung seperti Tarya, Ono Sukarna, dan Encar Carmedi, gamelan degung dibangkitkan kembali, serta mendapatkan dukungan dari pimpinan RRI Studio Bandung saat itu, sehingga gamelan degung bisa terus berkembang serta menyebar.

Setelah dilengkapi dengan Rebab, Gambang, Saron, Panerus, Kulanter, dan Kempul, gamelan degung bisa digunakan untuk mengiringi gending karesmen (drama yang dialog-dialognya dinyanyikan), seperti pada gending karesmen “Lutung Kasarung” (1952), dan gending karesmen “Galunggung Ngadeg Tumenggung” (1964). Selain itu gamelan degung bisa dipakai mengiringi sendratari, seperti pada Sendratari “Ramayana” Tingkat Nasional Versi Sunda (1971), dan Festival Sendratari “Ramayana” Internasional (1972). Pada tontonan Wayang Golek, gamelan degung tidak bisa digunakan sebagai pengiring, karena laras atau tangga nadanya bukan Salendro (Slendro).

Tiap-tiap waditra gamelan degung mempunyai fungsi dan kegunaan masing-masing, seperti bonang untuk jejer lagu, seruling sebagai penghias lagu, glong untuk memberikan wirahma, peking untuk ngemprangan, gendang untuk menghidupkan wirahma, dan gong guna mengatur wiletan (gaya yang memberi irama) lagu. Wah… kalau tidak banyak mengenal seni Sunda mah, susah juga untuk mengalihbahasakannya. Bagi sahabat yang mengerti, mohon bantuanya… 😀

Meskipun pada awal perkembangannya gamelan degung Sunda tidak pernah diiringi dengan nyanyian, namun pada masa sekarang sering juga dipakai untuk mengiringi para penyangi, baik itu anggana sekar maupun rampak sekar. Ternyata degung dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan (bahkan dipelajari oleh orang-orang dari mancanegara), namun hal ini tentunya tidak terlepas dari peran masyarakat yang melestarikan dan mencintainya. Semoga bermanfaat… ~ Cepi Nugraha

Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!