Fiqih Puasa Ramadhan

June 15, 2013 oleh 4 Komentar
Kategori: Materi Da'wah Islam 
Fiqih Puasa Ramadhan

Fiqih Ramadhan

Insyaallah bulan suci Ramadhan segera tiba. Semoga tepat kiranya artikel yang berkenaan dengan Fiqih Puasa Ramadhan ini saya tuliskan ya sahabat. Maksud saya tidak lain adalah supaya artikel puasa Ramadhan ini menjadi bahan belajar bersama, panduan, atau sekedar pengingat bagi yang lupa akan ilmunya, dengan alasan bahwa salah satu syarat diterimanya amal (perbuatan) itu harus berlandaskan ilmu, demikian pula halnya dengan puasa Ramadhan.

Sahabat-sahabat, untuk menghindari banyak kekeliruan, maka tulisan tentang Fiqih Puasa Ramadhan ini saya ambil melalui guru (‘ulama pewaris para Nabi) lewat kitab kepesantrenan ‘Safinatunnaja’ pada penjelasan pasal-pasal yang berkenaan dengan shaum (puasa), dan ‘Fathul Qarib Al-Mujib (Taqrib) berkenaan dengan hukum-hukum puasa, ditambah dengan kitab ‘Adda’watus Shalihah’ pada bab shaum (puasa) dan buku Al-Fiqhul Islami yang membahas Shiyam (Puasa).

Baik, penulisan kata-kata pembukaannya saya kira sudah cukup. Jadi segera saja kita mulai pembahasan tentang fiqih puasa di bulan Ramadhan ini. Bila terdapat kekeliruan, mohon kiranya untuk meluruskan dengan memberi saran dan masukkan. terimakasih…

Fiqih Puasa Ramadhan Berkenaan dengan Dalil, Syarat, Rukun, dsb.

Pengertian Puasa

Puasa atau shaum merupakan rukun Islam yang keempat. Lafad shiyamu dan lafad shaumun masdar keduanya dari shama. Makna keduanya menurut lughat atau bahasa Arab yaitu menahan (menahan diri dari segala perkara seperti menahan tidur, menahan dari bicara, menahan untuk makan, dsb.). Sedangkan shaum menurut istilah agama Islam atau syara’ adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkannya, dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari menurut cara-cara tertentu (niat dan berbagai persyaratan).

Alasan Wajibnya Puasa

Mulai diwajibkannya puasa yaitu pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam pun pernah mengalami berpuasa hanya 9 hari di bulan Ramadhan. Kewajiban puasa Ramadhan ditujukan bagi seluruh orang beriman sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Dalil Puasa ramadhan

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Dan wajibnya mengerjakan puasa yaitu pada saat dimana kita menemukan salah satu dari 5 perkara berikut:

1. Adanya istikmal, artinya menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari. Yaitu apabila bulan sudah diketahui tanggal 1-nya melalui ru’yat, maka untuk menentukan awal puasa bisa dengan cara menyempurnakan bulan Sya’ban sampai 30 hari apabila langit mendung yang mengakibatkan bulan di atas ufuk tidak terlihat. Hal ini berdasarkan sabda baginda Nabi:

“Shumu liru’yatihi wa aftiru liru’yatihi fain ghumma ‘alaikum faqmilu’iddata sya’bana tsalatsina yauman”

“Berpuasalah kamu sekalian karena melihat bulan (tanggal satu bulan Ramadhan), dan berbukalah kalian karena melihat bulan (tanggal satu(bulan Syawal). Maka seandainya datang mendung kepadamu sehingga tidak bisa terlihat bulan pada tanggal 30, maka harus menyempurnakan kamu sekalian terhadap bilangan Sya’ban (30 hari).”

2. Dengan melihat tanggal awal Ramadhan. Artinya jika pada tanggal 30 bulan Sya’ban ada seseorang yang melihat bulan, maka bagi orang yang dekat dengan orang tersebut harus melaksanakan puasa.

3. Dengan menetapkannya tanggal bulan Ramadhan menurut haknya orang yang tidak melihat bulan, namun adil kesaksiannya.

4. Karena mendengar kabar dari orang yang adil riwayatnya serta percaya mau meyakinkan dalam hatinya terhadap benar atau tidaknya meyakinkan atau mendengar dari orang yang tidak bisa dipercaya, namun kita meyakini di hati terhadap kebenarannya.

5. Dengan kabar mutawatir, yaitu kabar orang banyak, sehingga mustahil mereka bersepakat untuk berdusta atau sepakat dalam kabar yang dusta.

6. Dengan sangkaan telah masuknya bulan Ramadhan melalui perjalanan ijtihad bagi orang yang memiliki kekeliruan seperti orang yang berada di penjara.

Syarat Sah Puasa

Syarat-syarat sahnya puasa, apakah itu berkenaan dengan puasa fardhu maupun puasa sunnah, ada 4 perkara:

1. Islam. Maka tidak sah puasanya orang kafir asli, dan tidak sah pula puasanya orang murtad.

2. Punya akal, jelasnya Tamyiz. Maka tidak sah puasanya orang gila atau anak-anak. Yang dimaksud punya akal di sini ialah ‘akal gharibi bukan ‘akal thabi’i.

3. Suci dari semisal haid, nifas, dan melahirkan, walaupun hanya melahirkan darah kental atau sekepal daging. Dan haram bagi wanita yang haid dan bagi wanita yang sedang nifas menahan puasa.

4. Mengetahui, jelasnya meyakini akan waktu yang menerima (diperbolehkan) puasa. Sementara tentang waktu yang diharamkan untuk berpuasa ada 5:

  1. Hari lebaran fitrah / ‘idul fitri, yakni tanggal 1 bulan Syawal.
  2. Hari lebaran haji / lebaran kurban / ‘idul adha, yakni tanggal 10 bulan haji (Dzulhijjah)
  3. Hari tasyrik pertama, yaitu tanggal 11 Dzulhijjah.
  4. Hari tasyrik kedua, tanggal 12 Dzulhijjah.
  5. Hari tasyrik ketiga, tanggal 13 Dzulhijjah.

Dan tidak sah puasa di hari Syak, yaitu tanggal 30 bulan Sya’ban, atau dimakruhkan dengan makruh tahrim bilamana tidak ada sebab yang meminta untuk mengerjakan puasa di hari tersebut, seperti puasa Daud (sehari puasa, sehari buka) yang bertepatan dengan hari tersebut, atau puasa qadha dan puasa nadzar.

Syarat Wajib Puasa

Syarat-syarat sahnya puasa fardhu di bulan Ramadhan ada 5 perkara:

1. Islam. Maka tidak wajib puasa untuk orang kafir.

2. Baligh, punya akal. Maka tidak wajib puasa untuk anak-anak, orang gila, atau orang pingsan.

3. Kuat/sanggup, artinya mampu untuk menjalankan puasa. Maka tidak wajib puasa bagi orang yang tidak mampu seperti pikun atau sakit yang dibolehkan baginya tayamum.

4. Sehat. Maka tidak diwajibkan puasa kepada orang sakit, yang bilamana melaksanakan puasa akan menimbulkan mudharat.

5. Diam di kampung/wilayahnya. Artinya tidak sedang mengadakan perjalanan yang jauh. Sebab diperbolehkan bagi orang yang sedang bepergian jauh satu qashar (2 marhalah) berbuka puasa, dengan syarat berangkatnya sebelum terbit fajar. Adapun kalau berangkatnya setelah fajar, maka tidak sibolehkan buka puasa. Jika terjadi keraguan, apakah waktu berangkat sebelum terbit fajar  atau sesudahnya, maka dalam hal ini tidak diperbolehkan buka puasa.

Rukun Puasa

Rukun puasa ada 3, baik untuk puasa fardhu atau puasa sunnat.

1. Niat. Jika yang akan dikerjakan puasa sunnah, maka berniat di pagi hari setelah keluarnya matahari pun mencukupi, sedangkan jika yang akan dikerjakan adalah puasa fardhu, maka disyaratkan niat yang ditentukan sejak malam harinya. Maka bila ada orang yang melaksanakan puasa fardhu sementara pada malam harinya tidak melakukan niat puasa, maka tidaklah jadi puasanya. Ia pun diharuskan menahan dari segala yang membatalkan, dan juga pada bulan Syawal ia tetap harus mengqadhanya, sebab terdapat sabda baginda Nabi sebagai berikut:

“Man lam yubayyitisshiyama qablalfajri fala shiayamalahu”

“Barangsiapa yang tidak memalamkan niat puasa pada saat sebelum fajar (tidak ada persiapan niat puasa sebelum fajar), maka puasanya tidak sah”

Dalam hal niat, menurut sebagian ‘ulama harus dilakukan setiap malam, namun ada pula ‘ulama yang berpendapat cukup berniat untuk satu bulan. Maka qaul (perkataan) ‘ulama yang dipilih sebaiknya keduanya-duanya harus dilaksanakan, yakni disamping berniat puasa tiap malam, niat puasa untuk satu bulan pun dilakukan. Niat yang dilakukan tiap malam adalah, “nawaitu shauma ghaddin ‘an ada-i fardhissyahri”, sedangkan niat untuk satu bulan adalah, “nawaitu shaumassyahri kullahu”. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk menjaga lupanya niat yang bisa tergantikan dengan niat satu bulan puasa.

2. Meninggalkan hal-hal yang mengakibatkan batalnya puasa (seperti: makan, minum, berjima’) secara sadar dan dengan kehendak sendiri (disengaja), serta bukan karena kebodohan ma’dzur seperti sampainya berbagai macam ‘ain ke dalam lubang-lubang terbuka atau yang dibuka, misalnya memasukkan suatu perkara ke dalam mulut, atau memasukkan sesuatu ke lubang telinga, dsb. dengan keaadaan sadar tengah berpuasa.

Dan disyaratkan guna sahnya puasa untuk menjaga dari muntah yang disengaja, atau sengaja mengeluarkan mani selain jima’. Maka akan batal puasa oleh sebab perbuatan menyengaja serta mengetahui keharamannya. Apakah keluarnya oleh sebab mencium istri, merabanya, atau bersentuhan kulit karena syahwat. Namun tidak batal puasa oleh sebab keluar mani sewaktu tidur atau karena bermimpi, sebab melihat, atau sebab mikir-mikir.

Furu’: Hal ini merupakan cabang-cabang, dan penting buat orang yang berpuasa berhati-hati saat bersuci atau saat membersihkan kotoran (cebok), kalau-kalau ada air yang masuk dubur atau qubul. Pokoknya harus menjaga dari segala hal yang membatalkan puasa.

3. Harus ada orang yang berpuasa.

Wajibnya Qadha + Kifarat Bagi Pelaku Jima’

Sesungguhnya orang yang berpuasa bila sampai merusak puasanya dengan jalan berjima’ di siang hari, maka wajib baginya mengqadha puasa disertai kifarat yang jumlahnya besar (kifaratul’uzhma) dan wajib dipermalukan. Berkenaan dengan kifarat ini ada 3 bagian. Kalau tidak mampu yang pertama, maka wajib yang kedua. Maka apabila tidak mampu yang pertama dan yang kedua, maka wajib yang ketiga. Jadi kalau mampu yang pertama, maka tidak boleh mengambil yang kedua. Kalau mampu yang kedua, tidak boleh mengambil yang ketiga. Yang merupakan 3 bagian tersebut adalah:

1. Memerdekakan ‘abid (budak/hamba sahaya) yang tidak memiliki cacat fisik supaya bisa diberdayakan.

2. Puasa selama 2 bulan berturut-turut, artinya tidak boleh diselingi dengan berbuka walaupun hanya sehari (kecuali malam hari).

3. Memberikan makanan kepada 60 orang miskin. Setiap orang miskin mendapat 1 mud yang mencukupi dipakai zakat fitrah.

Syarat-syarat wajibnya kifarat ada 11:

1. Terhadap orang yang ‘awati (melakukan jima’) wajib kifarat, namun bagi yang diwati’ tidak diwajibkan.

2. Wati’ (pelaku jima’) yang menyengaja sementara ia sendiri sadar bahwa dirinya sedang puasa dan tahu akan haramnya ‘awati di bulan puasa.

3. Yang dirusak adalah puasa. Jika yang dirusak adalah shalat atau i’tikaf, maka tidak wajib kifarat.

4. Perusakan yang dilakukan shaim (orang yang berpuasa) adalah terhadap dirinya.

5. Jika hal ini dilakukan di bulan puasa.

6. Jika batalnya puasa tersebut disebabkan jima’, walaupun melalui dubur, menjima’ binatang, atau menjima’ mayyit, meskipun tidak sampai keluar mani.

7. Orang yang ‘awati telah baligh dan punya akal.

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

8. Dosa wati-nya karena dilakukan sewaktu puasa.

9. Jika merusak puasanya dilakukan di hari yang menerima wajibnya puasa.

10. Wati-nya bukan wati subhat.

11. Mewatinya yakin dilakukan di bulan puasa.

Puasa Yang Wajib Diqadha + Menahan Diri dari Berbuka

Puasa yang wajib diqadha sambil menahan diri (tidak boleh melanjutkan berbuka) ada 6 tempat.

1. Berlaku terhadap orang yang menyengaja berbuka di bulan Ramadhan, tidak selain bulan Ramadhan (seperti puasa nadzar, qadha, dan puasa kifarat).

2. Untuk orang yang meninggalkan niat pada malam hari pada puasa fardhu, baik dengan sengaja maupun karena lupa.

3. Untuk orang yang makan sahur kesiangan, dimana ia menyangka keadaan masih malam hari, padahal sudah siang (terbit fajar).

4. Untuk orang yang berbuka karena ia menyangka waktu telah masuk maghrib, padahal terbukti belum maghrib.

5. Untuk orang yang menyangka masih berada di tanggal 30 bulan Sya’ban (sehingga ia belum puasa), yang ternyata kemudian terbukti telah masuk tanggal 1 bulan Ramadhan.

6. Untuk orang yang berkumur-kumur atau menghisap air lewat hidung secara berlebihan sehingga air masuk ke dalam tubuhnya.

Hal-hal Menyebabkan Rusak/Batalnya Puasa

1. Makan dan minum dengan sengaja. Seandainya lupa, maka tidak membatalkan puasa.

2. Muntah yang disengaja. Jika muntahnya tidak disengaja, maka tidak batal puasa.

3. Menjima’ istri dengan sengaja. Apabila lupa, maka tidak membatalkan puasa.

4. Mengeluarkan mani dengan sengaja. Namun jika keluar maninya akibat mimpi, mengkhayal, atau hal yang tidak disengaja, maka tidak batal puasa.

5. Kedatangan haid (datang bulan/menstruasi).

6. Nifas karena melahirkan.

7. Gila atau hilang akal.

8. Murtad. Yaitu keluar dari agama Islam dan kembali kepada kekufuran.

Walaupun keadaan-keadaan tersebut di atas hanya dialami dalam waktu sekejap/singkat, namun tetap berakibat batalnya puasa.

Berbuka Puasa di Siang Hari Bulan Ramadhan dan Hukumnya

Menurut hukumnya, maka berbuka puasa pada siang hari di bulan Ramadhan ada 4 warna:

1. Wajib Berbuka. Contohnya seperti pada wanita yang kedatangan haid atau nifas, walaupun nifasnya hanya disebabkan oleh keluarnya darah kental atau sekepal daging.

2. Jaiz atau boleh berbuka. Berlaku bagi orang yang bepergian jauh dengan ukuran atau jarak yang diperbolehkan baginya mengqashar shalat (2 marhalah). Juga bagi orang sakit yang membutuhkan keharusan untuk berbuka, sepertihalnya sakit yang diperbolehkan baginya tayamum, dan kalau dipaksakan juga, puasanya bisa memakruhkan.

Jika ada orang sakit yang melakukan puasa sehingga dengan puasanya bisa mengakibatkan hilangnya manfaat anggota badan, maka puasanya pun hukumnya haram. Dan kalau tetap saja melaksanakan puasa hingga menyebabkan kematian, maka kematiannya juga termasuk kematian yang berdosa. Adapun kalau sakitnya disebabkan oleh penyakit yang ringan seperti pusing kepala, sakit telinga, atau sakit gigi, maka dalam hal ini tidak diperbolehkan berbuka puasa.

Faidah: Dibolehkan berbuka puasa di bulan Ramadhan untuk 6 orang:

  1. Orang yang sedang bepergian/melakukan perjalanan jauhyang jaraknya 96 Km (dua marhalah) .
  2. Orang yang sakit.
  3. Orang tua yang sudah pikun atau sudah lemah fisiknya.
  4. Wanita hamil, walaupun hamilnya akibat hasil perzinaan atau akibat wati syubhat.
  5. Orang yang sangat kehausan sehingga diikuti kemasyakatan yang sangat.
  6. Wanita yang tengah menyusui anaknya.

3. Tidak wajib dan tidak jaiz. Seperti untuk orang gila.

4. Haram berbuka. Contohnya bagi orang yang mengakhirkan qadha bulan Ramadhan serta mampu mengerjakan qadhanya, misalnya dalam keadaan bermukim dan dalam kondisi sehat.

Pembagian Buka Puasa (Batal/Tidak Melaksanakan Puasa) dan Sanksi-nya

Mengenai pembagian buka puasa (maksudnya karena batal atau tidak melaksanakan puasa) ada 4:

1. Buka yang wajib baginya qadha dan fidyah. Terdapat 2 macam:

  1. Alasan berbuka puasa karena khawatir terhadap keadaan orang lain. Seperti wanita menyusui yang khawatir terhadap anaknya, atau wanita hamil khawatir terhadap kandungannya (anak yang ada dalam perutnya).
  2. Untuk orang yang mengakhirkan qadha bulan Ramadhan hingga datang kembali bulan Ramadhan berikutnya tanpa udzur.

2. Buka yang wajib baginya qadha namun tidak wajib fidyah. Seperti pada orang yang pingsan, atau orang yang tidak melakukan niat puasa di malam hari, atau orang yang menyengaja buka puasa bukan karena sebab jima’.

3. Buka yang wajib baginya fidyah namun tidak wajib qadha. Seperti terhadap orang tua yang sudah pikun yang tidak mampu berpuasa di semua kondisi zaman, atau seperti terhadap orang sakit yang sudah tidak ada harapan baginya untuk sembuh.

4. Buka yang tidak wajib baginya qadha dan tidak wajib fidyah. Seperti terhadap orang gila yang kegilaannya tidak disengaja, atau budak (hamba sahaya) dan kafir asli.

Perkara Yang Tidak membatalkan Puasa

Mengenai perkara yang masuk ke perut yang tidak menyebabkan batalnya puasa (berupa ‘ain dunya) ada 7 macam perkara:

1. Karena sebab lupa/tidak ingat bahwa dirinya sedang berpuasa. Maka dalam hal ini diteruskan saja puasanya, karena ada sabda baginda Nabi:

“Man nasiya wa huwa shaimun faakala wa syariba falyutimma shaumahu fainnama ath’amahullahu wa saqahu.”

2. Karena kebodohan.

3. Karena dipaksa.

4. Memperjalankan ludah diantara gigi serta tidak mungkin untuk meludahkannya akibat adanya ‘udzur (halangan).

5. Debu jalanan. Apakah terbukti perkara tersebut suci atau najis, walaupun najis mughallazhah, maka tidak mengakibatkan batal puasa. Jika orang yang berpuasa dengan sengaja membuka mulutnya, maka wajib ia mencucinya. Sebaliknya, kalau tidak sengaja membukakan mulutnya, maka ia tidak wajib mencucinya.

6. Debu tepung yang susah dihindari.

7. Lalat terbang dan sejenisnya yang juga susah untuk dihindari, maka hal ini dimaafkan dan tidak menjadikan batalnya puasa.

Perkara Yang Disunnatkan bagi Orang Yang Berpuasa

Hal-hal yang sunnah dikerjakan bagi orang yang berpuasa ada 3 perkara:

1. Menyegerakan untuk berbuka bila telah diketahui matahari telah terbenam (masuk waktu maghrib).

2. Disunatkan  berbuka dengan buah kurma. Namun jika tidak ada maka berbuka dengan sesuatu yang manis atau dengan air.

3. Berdo’a sewaktu berbuka puasa.

4. Mengakhirkan waktu makan sahur dengan makan minum yang sedikit.

5. Meninggalkan perbuatan yang buruk. Seperti menjaga lisan dari omongan yang jelek semisal berbicara bohong, mengumpat (ghibah), marah, bertengkar, dan semacamnya.

6. Memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, dan memperbanyak sedekah selama bulan puasa.

7. Memperbanyak membaca Al-Qur’an serta mempelajarinya (belajar atau mengajarkannya).

Alhamdulillah.. artikel mengenai Fiqih Puasa Ramadhan ini bisa saya selesaikan. Belum lengkap tentunya, namun Anda masih bisa mempelajarinya di situs web yang lain, atau alangkah baiknya lagi jika Anda mempelajarinya langsung melalui guru Anda (‘ulama). Hal-hal lainnya berkenaan dengan puasa di bulan Ramadhan ini insyaallah akan saya tuliskan pada artikel dan pada kesempatan yang lain. Semoga bermanfaat.. ~ Cepi Nugraha

Bagikan Artikel...

Komentar

4 tanggapan untuk “Fiqih Puasa Ramadhan”
  1. hanto says:

    berbagi ilmu jangan pelit-pelit…kalau manfaat harusnya di copy ga masalah

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Hanto,
    terimakasih atas kunjungannya..

    Duuh, jangan galak begitulah.. 🙂 Namun mohon dilihat kembali dengan seksama alasan saya berbuat seperti itu.

    Alasan saya adalah karena banyaknya bloger yang kurang kreatif, sering mengcopy paste artikel di situs/blog lain (termasuk blog ini) tanpa mengubahnya kembali artikel tersebut menjadi artikel yang unik/berbeda untuk ditempatkan di blog mereka, sehingga hal tersebut bisa menyebabkan situs/blog sumber artikel yang asli peringkatnya turun di mesin pencarian seperti Google, yahoo, Bing, dsb. Dan hal ini tentunya sangat merugikan situs/blog sumber tersebut…

    Sebenarnya cara saya juga tidak mengurangi akan keberbagian dan kemanfaatan ilmu kok. Artikel-artikel yang saya tulis ini masih bisa dibaca dan disalin ulang dengan cara diketik. Seandainya menyalinnya dengan cara mengetik ulang membuat capek, bisa dibayangkan kan.. bagaimana saya lebih capek lagi untuk menguras pikiran, tenaga, mengumpulkan bahan, dsb. dalam membuat artikel-artikel.

    Jadi mohon untuk belajar menghargai. Terimakasih… 😉

    [balas komentar di sini]

  2. anas says:

    artikelnya bagus,semoga membawa manfaat bagi semua
    terimakasih

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Anas,

    Terimakasih juga telah berkenan membaca artikelnya. Aamiin… Jazakallaahu khairan katsiiraa.

    [balas komentar di sini]

Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!