/SMS/WA : 08112225788 (08-21.00 WIB) Untuk konsultasi, terapi, dan ruqyah dikenakan infaq seikhlasnya


Elektroda Las Listrik

Elektroda Las Listrik

Sahabat.. postingan mengenai elektroda las listrik ini saya tuliskan guna mendukung cara pengelasan yang masih banyak digunakan di Indonesia pada masa ini, yaitu las elektroda terbungkus yang merupakan salah satu klasifikasi dari las busur listrik selain klasifikasi lainnya, yakni las busur dengan pelindung gas dan las busur dengan pelindung bukan gas.

Pada pengelasan dengan las busur listrik dengan elektroda terbungkus atau Shield Metal Arc Welding (SMAW) ini digunakan kawat elektroda logam yang dibungkus oleh fluks, dan busur listrik terbentuk diantara logam induk dan ujung elektroda. Akibat panas dari busur listrik, maka logam induk dan ujung elektroda tersebut mencair dan kemudian membeku bersamaan, dimana terjadi pula proses pemindahan logam elektroda pada saat ujung elektroda mencair dan membentuk butir-butir yang terbawa oleh arus busur listrik yang terjadi.

Ilmu Kontak Batin Kontak Rasa telepati

Beberapa Hal Penting Dalam Memilih Elektroda Las Listrik (SMAW)

Dalam memilih elektroda terdapat banyak hal yang perlu diperhatikan agar hasil pengelasan sesuai dengan yang direncanakan, diantaranya seperti:

1. Kekuatan Logam Induk

Untuk menjamin tidak ada perbedaan mencolok antara sifat hasil lasan dengan logam induk, maka sebaiknya kekuatan logam pengisi hanya sedikit lebih tinggi dari kekuatan yang dimiliki logam induk.

2. Komposisi Logam Induk

Logam pengisi biasanya memiliki komposisi yang menghasilkan sifat yang lebih baik jika dibandingkan dengan logam induknya. Umpamanya logam pengisi lebih kuat, lebih ulet, dan lebih tahan korosi. Namun bila terjadi perbedaan komposisi yang menyolok diantara keduanya, maka hal ini dapat menyebabkan sifat ketahanan korosi logam lasan menjadi sangat buruk akibat timbulnya fenomena galvanik antara logam lasan dengan logam induk. Oleh karena itu, usahakan untuk memilih elektroda yang komposisinya mendekati komposisi logam induk.

3. Posisi Pengelasan

Dalam memilih elektroda las listrik usahakan untuk memilih elektroda yang direkomendasikan untuk posisi pengelasan yang sesuai dengan posisi yang direncanakan.

4. Arus Pengelasan dan Polaritas Elektroda

Perhatikan jenis sumber arus serta besaran arus yang disyaratkan oleh elektroda sesuai dengan mesin yang digunakan. Sumber arus dapat berupa AC atau DC. Apabila sumber arus DC yang digunakan, maka perhatikan polaritas yang digunakan dan disyaratkan, yaitu polaritas lurus atau polaritas balik. Polaritas lurus / straight polarity (polaritas negatif), bilamana benda kerja dihubungkan ke kutub positif, sedangkan elektroda dihubungkan ke kutub negatif. Polaritas balik / reverse polarity (polaritas positif), bilamana benda kerja dihubungkan ke kutub negatif, sedangkan elektroda dihubungkan ke kutub positif.

Pengaruh besaran arus di daerah lasan adalah sebagai berikut:

a. Arus pengelasan terlalu tinggi dapat mengakibatkan:

  • Pencairan logam induk dan logam pengisi terlalu banyak.
  • Menghasilkan manik las yang lebar tak beraturan.
  • Sangat banyak percikan logam cair.
  • Sebaiknya digunakan untuk pelat yang tebal.

b. Arus pengelasan terlalu rendah dapat mengakibatkan:

  • Pencairan logam induk dan pengisi terlalu sedikit.
  • Manik las sempit, menumpuk dan tidak teratur.
  • Tidak ada percikan logam cair di sekitar lasan.
  • Sesuai untuk digunakan pada pelat yang tipis.

Polaritas listrik ini hanya dikenal pada las busur listrik yang menggunakan sumber arus listrik DC, sementara bila sumber arus listriknya AC, maka tidak dikenal polaritas.

5. Tegangan Pengelasan

Pada umumnya, tegangan pada las busur listrik sekitar 20-40 Volt.

a. Bila tegangan terlalu tinggi dapat menyebabkan:

  • Busur terlalu panjang.
  • Banyak percikan logam cair yang menyebar ke samping kanan dan kiri daerah las.
  • Manik las lebar dan tak teratur.
  • Sambungan las kurang baik.

b. Bila tegangan terlalu rendah dapat mengakibatkan:

  • Panjang busur terlalu pendek.
  • Elektroda menempel pada logam induk.
  • panas tidak cukup untuk mencairkan logam induk.
  • Penetrasi logam cair sangat dangkal.
  • Manik las tinggi dan tidak teratur.

6. Kecepatan pengelasan

Kecepatan pengelasan sangat menentukan masukan panas ke daerah lasan. Kecepatan normal pada proses pengelasan manual adalah sekitar 8 cm/menit.

a. Bila kecepatan terlalu tinggi bisa mengakibatkan:

  • Masukkan panas terlalu rendah.
  • Volume logam cair sedikit.
  • Logam cair cepat membeku, laju pendinginan tinggi.
  • Pengotor dan gas mudah terperangkap di dalam logam las.
  • Manik las sempit dengan riak mengarah ke arah pengelasan.

b. Bila kecepatan pengelasan terlalu lambat bisa menyebabkan:

  • Masukan panas tinggi.
  • Volume pencairan logam naik.
  • Pendinginan logam cair lambat.
  • Manik las lebar.

7. Sudut Elektroda

Untuk sistem sambungan fillet, pengaturan sudut elektroda sangatlah penting. Saat proses pengelasan, usahakan posisi elektroda membagi sudut yang dibentuk oleh pelat yang disambung sama besar.

8. Perancangan Sambungan

Perancangan sambungan akan sangat menentukan penetrasi logam pengisi ke dalam celah sambungan serta menentukan besarnya tegangan sisa yang timbul di daerah lasan. Pilihlah karakter penetrasi yang diinginkan. Sambungan dengan celah sempit digunakan elektroda dengan kemampuan penetrasi tinggi atau menggunakan elektroda dengan diameter relatif kecil.

Spesifikasi / Jenis Elektroda Las Busur Listrik Elektroda terbungkus (SMAW)

Standar Asosiasi las Amerika atau American Welding  Society  (AWS) mengelompokkan elektroda las busur listrik berdasarkan kode yang disusun secara sistematis sebagai berikut:

E = (X)XXXX

E = Elektroda

(X)XX = Kekuatan tarik minimum dari logam las sebelum dilakukan proses pembebasan tegangan dalam 1000 Psi (45, 60, 70, 80, 90, 100, 120 = kekuatan tarik setelah pengelasan).

X = Posisi pengelasan

1. Segala posisi
2. Datar dan harus horizontal3. Mendatar

X = Jenis Fluks

0. Selulosa1. Selulosa + Ca + K
2. Titania
3. High Titania + Kalium
4. Titania + Serbuk besi
5. Hidrogen rendah
6. HIdrogen rendah + Potassium
7. Selulosa + Serbuk besi
8. Hidrogen rendah + Serbuk besi

Contoh: elektroda untuk mengelas baja karbon adalah E7018, artinya:

E = Elektroda.
70 = Kekuatan tarik minimum dari logam las sebelum dilakukan proses pembebasan tegangan adalah 70.000 Psi.
1 = Untuk segala posisi.
8 = Jenis pembungkusnya berkadar hidrogen rendah.

Kode tersebut di atas biasanya bisa dilihat pada kemasan pembungkus yang berada di pasaran. Jadi diharapkan setelah kita mengetahui arti dari kodenya, kita bisa tepat memilih elektroda las yang tepat untuk digunakan untuk pekerjaan las yang akan kita lakukan, sehingga hasil sambungannya bisa jauh lebih baik daripada hasil las yang hanya sekedar diraba-raba atau karena kebiasaan dan pengalaman yang salah.

Demikianlah sahabat-sahabat Rumah Cahaya, semoga postingan saya mengenai elektroda las listrik ini bermanfaat bagi Anda semua para pengunjung blog yang sederhana ini.. ~ Cepi Nugraha