Demensia Alzheimer (Penyakit Pikun)

Demensia Alzheimer (Penyakit Pikun)

Tua, Belum Tentu Pikun

Jika menemukan artikel yang cukup menarik dan sekiranya bermanfaat, pastinya saya selalu ingin berbagi dengan Anda sahabat-sahabat Rumah Cahaya. Seperti juga pada postingan saya kali ini yang mengambil tema Demensia Alzheimer (Penyakit Pikun), merupakan artikel yang saya temukan di salah satu surat kabar harian nasional ternama, dengan judul “Alzheimer, Biang Keladi Kepikunan”, yang isinya adalah sebagai berikut:

Sulit menyebut nama orang dan benda. Mau makan, minta kuas. Bukan karena lupa, namun memang karena lupa nama salah satu benda yang digunakan untuk makan, yakni sendok. Ya, itulah gejala pikun atau demensia.

Usia lanjut merupakan saat menikmati kehidupan yang lebih baik, tetap beraktivitas, mencipta/kreatif dan bijaksana membagikan pengalaman hidup. Hanya terkadang harapan hidup bahagia di usia senja tidak kesampaian, dan malah timbul penderitaan.

Lalu pada usia berapa seseorang masuk kategori lanjut dan beresiko mengalami gangguan yang dikenal dengan kepikunan? Perlu diingat, kepikunan atau demensia bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan, melainkan suatu gangguan yang terjadi di otak.

Merujuk Badan Kesehatan Dunia, WHO, usia lanjut didefinisikan sebagai mereka yang berumur 60-74 tahun. Antara 75-90 tahun disebut tua, dan diatas 9 tahun disebut sangat tua. Sejalan dengan pertambahan usia, seluruh fungsi seluruh fungsi sistem tubuh berangsur-angsur menurun. Umumnya fungsi kognitif-daya fikir, daya ingat, perilaku, dan kepribadian tetap bertahan sekalipun fisik sudah renta jika tidak mengalami kepikunan (demensia).

Proses penuaan dipengaruhi sifat bawaan atau keturunan dan paparan lingkungan, seperti zat-zat yang merusak sel-sel tubuh (radikal bebas, sinar uv, polusi, penyakit, dll.). Penurunan fungsi organ tubuh inilah yang kemudian membuat para lanjut usia (lansia) ini rentan terhadap berbagai penyakit, baik secara fisik maupun mental. Salah satu penyakit yang kerap dikaitkan dengan lansia adalah Alzheimer.

Alzheimer adalah suatu penyakit degeneratif otak yang progresif. Sel-sel otak rusak dan mati sehingga mengakibatkan gangguan kepikunan atau dimensia, yaitu tergangguanya fungsi-fungsi memori (daya ingat), berbahasa, berfikir, dan berprilaku. Sebagian besar gangguan kepikunan disebabkan penyakit alzheimer. Penyakit ini memberi kontribusi hingga 60% dari kasus demensia.

Siapa yang bisa terkena alzheimer? Semua orang berusia lebih dari 60 tahun mempunyai resiko terkena penyakit alzheimer. Resiko terbesar bisa dialami oleh siapapun. Tidak ada perbedaan antara wanita dan laki-laki, etnis, dan kelas ekonomi. Bahkan akhir-akhir ini dijumpai peningkatan jumlah kasus pada kelompok usia yang lebih muda (sekitar 40-50 tahun).

“Pada wanita mungkin bisa lebih awal karena pengaruh gangguan hormonal. Laki-laki mungkin lebih aktif yang ikut menentukan proses terjadinya demensia,” ungkap dokter spesialis saraf RS Islam Jakarta dr. Samino, SpS (K) dalam seminar awam demensia di Jakarta, beberapa tahun yang lalu.

Penyebab penyakit alzheimer saat ini belum diketahui pasti, hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi faktor pembawa sifat (genetik) dan lingkungan. Menurut para pakar, yang mempunyai resiko alzheimer adalah usia menua. Alzheimer dijumpai sebanyak 3% pada orang berusia 65-74 tahun, dan 30% pada usia di atas 85 tahun.

Keturunan/genetik, riwayat dimensia dalam keluarga, atau yang lainnya seperti cedera kepala, pendidikan kurang (hipoaktivitas otak), hipertensi, sindrom down, dan jumlah alel gen APO E4 dianggap menjadi faktor yang bisa memicu alzheimer. Namun suatu penelitian baru mengungkapkan bahwa resiko kepikunan relatif sama pada mereka yang membawa gen APO E4 maupun yang tidak.

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Kepala peneliti dari Departemen Psikiatri Universitas Melbourne, Australia, Antony Jorm mengatakan, seseorang akan mulai mengalami kehidupan fungsi kognitif tahap peralihan normal ke demensia lebih cepat 20 tahun. Hal ini terjadi baik terhadap mereka yang membawa gen APO E4 maupun yang tidak membawanya.

“Pembawa sifat menunjukkan gejala yang sama dengan bukan pembawa sifat. Orang denganAPO E4 tidak lebih cenderung memilikinya lebih cepat dibanding mereka yang tidak,” ungkap Jorm seperti dikutif Reuters.

Kenali Gejala Demensia Alzheimer (Pikun) Sejak Dini

Badan Kesehatan Dunia, WHO, memasukkan 10 tanda utama demensia alzheimer (pikun akibat alzheimer) seperti di bawah ini:

  1. Lupa kejadian yang baru dialami. Lupa mengingat nama teman, nomer telepon rekan bisnis dan pekerjaan adalah hal yang biasa terjadi. Masih dapat dikatakan normal karena biasanya kita masih dapat mengingatnya lagi beberapa saat kemudian. Orang dengan kepikunan/demensia alzheimer mengalami kelupaan yang sangat sering sehingga mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari, dan mereka tidak dapat mengingat kembali kejadian yang baru dialaminya sekalipun telah dicoba mengingatnya kembali.
  2. Kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari. Seseorang yang penuh kesibukan bisa saja meninggalkan dapur dalam keadaan berantakan dan baru ingat untuk menghidangkan dan merapikan setelah hampir selesai makan. Seseorang dengan demensia alzheimer mungkin dapat menyiapkan makanan di dapur, tetapi kemudian bukan hanya tidak ingat untuk menghidangkannya di meja makan, bahkan ia juga lupa bahwa ia telah memasak makanan di dapur.
  3. Kesulitan dalam berbahasa. Bila orang normal kadang kesulitan mencari kata yang tepat untuk berbicara, tetapi orang alzheimer dapat lupa kata-kata yang sederhana atau menggantikannya dengan kata yang tidak sesuai.
  4. Selain itu, penderita juga mengalami disorientasi waktu dan tempat. Lupa nama hari atau tempat tujuan untuk sesaat masih termasuk normal. Akan tetapi jika terjadi lupa tempat dimana ia berada, tersesat di jalan yang biasa dikenalnya, tidak tahu bagaimana ia sampai di tempat tersebut dan tidak bisa mencari jalan pulang ke rumahnya sendiri, maka hal itu bisa diindikasikan sebagai gejala alzheimer.
  5. Tidak mampu membuat keputusan. Seorang ibu dapat terlarut, asyik dan tenggelam dalam aktivitasnya sementara waktu sampai lupa memperhatikan anak-anaknya. Namun orang dengan alzheimer akan lupa sama sekali bahwa ia tengah menjaga anak-anaknya.
  6. Kesulitan berfikir abstrak. Penderita kesulitan dalam hal menguasai tugas atau ide baru, serta menghindari situasi yang memerlukan pengobatan informasi baru atau kompleks. Tidak hanya itu, penderita juga melakukan pengukuran yang tidak realistik terhadap kemampuan, dan membuat rencana yang sesuai dengan tingkat kemampuannya.
  7. Salah menaruh barang-barang. Setiap orang bisa saja lupa dimana menaruh kunci atau dompet, tapi penderita alzheimer lupa menaruh barang-barang tidak pada tempatnya. Misalnya seketika di taruh di dalam lemari.
  8. Perubahan suasana perasaan dan perilaku. Kadang tampak normal, kemudian berubah tiba-tiba menjadi pemarah, curiga, agitasi, dan mudah tersinggung.
  9. Perubahan kepribadian. Meskipun usia dapat berubah terhadap perubahan kepribadian, namun seseorang dengan penyakit alzheimer menunjukkan perubahan kepribadian yang drastis, misalnya menjadi pencuriga, penakut, atau mudah bimbang dan kebingungan.
  10. Penderita mengalami kehilangan inisiatif.

Cara Mencegah dan Memperlambat Demensia Alzheimer (Penyakit Pikun)

Pola hidup sehat kembali menjadi solusi dalam penanganan masalah kesehatan, tidak terkecuali demensia. Masalah kepikunan yang sebagian besar diakibatkan penyakit alzheimer ini bisa dicegah atau diperlambat dengan hidup sehat. Merangsang otak agar terus berkembang merupakan salah satu cara untuk mencegah dan memperlambat demensia alzheimer (kepikunan).

Menurut spesialis saraf Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) dr. Wiwin Sundawiyani, SpS, kepikunan dapat diperlambat dengan cara memperbanyak aktivitas yang berhubungan dengan fungsi otak (olah raga, sosialisasi, berkarya). Makanan yang sehat dan bergizi, kesehatan mental dan fisik juga berperan dalam munculnya gangguan demensia.

Faktor lain yang bisa mencegah demensia adalah dengan mengatur pola atau menu makan, melakukan gerak atau olahraga teratur, serta mempergunakan otak. “Dengan bergerak, otot akan kuat dan otak pun kuat,” tandasnya. Beliau menambahkan, rangsangan terhadap fungsi otak yang diberikan terus-menerus dan terarah akan membuat intelegensia seseorang bisa terus berkembang hingga usia 80-90 tahun.

Lalu bagaimana jika mendapatkan diri kita mengalami gejala demensia, khususnya yang diakibatkan Alzheimer? Segera buat perjanjian untuk memeriksakan diri ke dokter. Diskusikan gejala yang Anda alami, yang menjadi masalah atau yang mengganggu tugas sehari-hari. Biasanya dokter yang memeriksa akan merujuk pasien kepada dokter spesialis (psikiater, neurolog, dan geriater) agar dilakukan pemeriksaan lebih teliti dan mendalam.

Disamping itu ada juga lembaga swadaya masyarakat seperti asosiasi alzheimer setempat yang dapat memberikan informasi dan bantuan yang diperlukan dalam menangani penderita alzheimer.

Sahabat Rumah Cahaya, itulah artikel tentang demensia alzheimer (penyakit pikun) yang bisa saya bagi untuk Anda. Insyaallah setelah membacanya, kita bisa mengetahui cara untuk mencegah atau memperlambatnya.

Dalam sebuah Hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza wajalla tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Allah menurunkan untuknya obat, kecuali satu penyakit”. Mereka bertanya: “Apa itu wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab: “Pikun”. (Al-Hadits)

Mari kita juga sama-sama berdo’a dan juga saling mendo’akan supaya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan penyakit ini kepada kita dan kepada orang-orang yang kita cintai, karena penyakit pikun tidak ada obatnya. Aamiin..  ~ Cepi Nugraha

Bagikan Artikel...
Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!