Cara Menghilangkan Was-was

Cara Menghilangkan Was-was Dalam Wudhu, Shalat, dsb.

Berwudhu’

Was-was merupakan lintasan-lintasan hati yang berlebihan dan tidak diinginkan. Bisa berkenaan dengan masalah aqidah seperti memikirkan tentang Dzat Allah atau membanding-bandingkan-Nya dengan makhluk. Bisa berkenaan dengan masalah syari’ah yang biasanya terkait masalah fiqh seperti pada saat menghilangkan najis terasa belum suci, saat berwudhu atau mandi besar (junub) seolah airnya belum lewat dengan sempurna, shalat merasa kurang pas dalam niat, kurang sempurna dalam bacaan, serta berniat membatalkan shalat yang tengah dilakukan. Bisa juga berkenaan dengan akhlaq seperti ucapan-ucapan hati yang kotor, hina, dan sebagainya yang sebetulnya itu semua itu sebenarnya ‘tidak diinginkan’ oleh penderitanya (karena hanya lintasan hati tadi), itulah ciri-cirinya.

Was-was sangat mengganggu penderitanya, mengakibatkan perasaan tersiksa dan sangat tertekan (stress berat), bahkan pernah didapati diantara penderitanya ada yang sampai masuk ke rumah sakit jiwa. Tak hanya bagi penderita, penyakit ini juga bisa mengganggu orang-orang yang berada di sekitarnya, misalnya di saat ia berlama-lama di kamar mandi akibat waswas-nya, maka orang lain yang ingin memakai kamar mandi tersebut juga merasa sangat terganggu karena harus menunggu lama dan membuat aktifitasnya pun terhambat.

Penyakit was-was membuat waktu yang sangat berharga terbuang percuma. Pernah ada satu cerita dimana seorang karyawan yang dikeluarkan oleh sang majikan dari tempat kerjanya gara-gara penyakit was-was ini akibat ia sering terlambat melakukan pekerjaan karena was-was yang dialaminya. Yang lebih parah dari itu, penderitanya bisa sampai enggan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama karena merasa stress dan capek saat menghadapi was-wasnya, padahal hati nuraninya tidak menghendaki. Ya, memang beragam cara syetan menggoda manusia dengan maksud menjerumuskannya.

Bila ada diantara kita yang melihat atau mengalami gejala penyakit ini, maka perlu untuk dikasihani, jangan malah seolah disudutkan. Obat was-was harus segera dicari, karena jika terlambat, bisa terus mengarah ke penyakit lain yang obat serta penyembuhannya lebih sulit lagi didapatkan, walaupun terkadang penyakit was-wasnya sendiri sudah sembuh. Salah satu penyakit tersebut adalah penyakit galat atau kaku dalam melafalkan bacaan sholat, dzikir dan do’a, karena lidah dan hatinya seolah-olah kaku atau galat untuk mengucapkan bacaan-bacaan tadi, akibat dari penyakit waswas yang dideritanya terdahulu. Jika sudah timbul penyakit seperti ini, maka seolah obatnya hanyalah ‘keajaiban’ saja.

Penyebab Timbulnya Was-was

Yang saya ketahui, penyakit was-was timbul akibat minimnya pengetahuan dan pemahaman kita tentang agama, terutama dalam masalah aqidah, seperti pengetahuan mengenai sifat-sifat Allah, dan juga pengetahuan tentang masalah fiqih (syari’at) seperti cara bersuci yang baik, rukun dan syarat sah sholat, dan sebagainya, dimana di saat yang sama pula keinginan untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah sangatlah kuat. Mungkin hal inilah yang mengakibatkan terbukanya celah sebagai pintu masuknya syetan untuk menggoda serta membisikkan perasaan ragu ke dalam hati, sehingga pada saat melakukan aktifitas ibadah rasa was-was pun menjangkiti.

Hal ini juga sejalan dengan pendapat al-Imam Abu Hamid al-Ghozali yang mengatakan, “Was-was itu penyebabnya ada dua. Pertama, bodoh terhadap syari’at. Kedua, adanya kekacauan dalam akal atau pikiran. Dan keduanya merupakan kekurangan dan aib yang paling besar dalam diri seseorang.”

Bodoh terhadap syari’at bisa menyebabkan melaksanakan ibadah dikira-kira sendiri, dan jika berhati-hati, cenderung berlebihan karena tidak didasari ilmu. Sedangkan kekacauan akal pikiran bisa menyebabkan kita mengulang-ulang perbuatan yang sama.

Cara Menghilangkan Was-was (Obat Was-was)

Cara menghilangkan was-was atau mengobati was-was adalah dengan melihat penyebabnya. Bila penyebabnya adalah karena ketidaktahuan masalah rukun dan syarat sah shalat misalnya, maka pelajarilah cara shalat yang benar sebagaimana Rasulullah SAW shalat. Datangilah para ‘alim ‘ulama (ahlinya) dalam hal ini, supaya tidak salah dalam belajar.

Senantiasa pula untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT, seperti dengan membaca salah satu ayat dari surah al-Mu’minun: “Wa qur rabbi a’udzubika min hamazatis syayathin” – Artinya: “Dan katakanlah: Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan Syaitan” (Q.S. al-Mu’minun: 97)

Atau dengan membaca surat an-Nas: “Qul a’udzubirabbinnasi Malikinnasi Ilahinnas. Min syaril-waswasil-khannas. Aladzi yuwaswisu fi sudurinnasi minal jinnati wannas.”Artinya: “Katakan (wahai Muhammad) aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Dzat yang memiliki semua manusia. Tuhan seluruh manusia. Dari kejelekan godaan syetan yang membisikkan kebimbangan di hati manusia, dari golongan jin dan manusia” (Q.S. an-Nas).

Di dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda, “A’udzubillahis sami’il ‘alimi minas syaithanirrajim min hamajihi wa nafkhihi wa naftsih” – “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari Syetan yang terkutuk, dari godaannya, dari tipuannya, dan bisikannya.”

Cara Menghilangkan Was-was Dalam Perkara Aqidah

Dalam hadits lain juga Rasulullah SAW bersabda, “Salah satu dari kalian bisa saja didatangi syetan seraya bertanya kepadanya, ‘Siapa yang menciptakan kamu?’ Maka dia menjawab, ‘Allah’. Lalu syetan bertanya lagi, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Apabila salah satu diantara kalian mendapati hal itu pada dirinya, hendaknya ia berkata, ‘Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’. Ucapan itu akan menghilangkan (was-was) tersebut.” (H.R. Ahmad)

Bila was-was membisikkan kata-kata keji da kotor, bahkan kata-kata yang dianggap murtad padahal kita tidak menginginkannya, maka caranya ialah dengan ‘mengacuhkannya’ sehingga was-was ini berangsur hilang.

Cara Menghilangkan Was-was Dalam Berwudhu’ dan Shalat

Dalam berwudhu, tak luput Syetan pun menebarkan waswas, seperti Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dalam wudhu itu ada syetan, yang dinamakan Walhan. Maka hati-hatilah terhadap was-was air.” (H.R. Ibnu Majah).

Ibnu Majah mengatakan, “Secara bahasa Walhan itu artinya yang hilang akalnya atau tamak untuk menguasai sesuatu. Syetan wudhu disebut Walhan, bisa jadi karena getolnya dia dalam menebar was-was pada orang yang berwudhu. Atau karena perbuatannya itu membuat orang yang wudhu jadi bingung dan linglung seperti orang yang hilang akalnya. Ia tidak tahu bagaimana syetan bisa ngerjain dia, sampai ia tidak tahu apakah air yang dituang sudah membasahi anggota wudhunya atau belum. Atau sudah berapa kali ia telah membasuh anggota wudhunya.”

Meneladani Rasulullah sebagai cara menghilangkan was-was. Amr bin Syueib bercerita dari kakeknya bahwa, “Ada seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah SAW, ia bertanya tentang wudhu. Lalu beliau memberinya contoh 3 kali 3 kali. Kemudian beliau bersabda, “Beginilah cara berwudhu, barang siapa yang melakukan lebih dari itu, berarti ia telah menyalahi (sunnahku), zhalim dan melampaui batas.” (H.R. Ibnu Majjah).

Dalam sebuah hadits, ‘Umar bin Abi al-‘Ash pernah mengadukan keadaan dirinya kepada Rasulullah SAW tentang shalatnya. Maka Nabi SAW bersabda, “Itu Syetan yang bernama Khanzab. Jika kau merasa diganggunya, berlindunglah kepada Allah dari godaannya (A’udzubillahi minassyaithanirrajim), dan tiuplah ke arah kirimu 3 kali. Maka Utsman bin Ash melakukan hal tersebut dan ia tidak pernah lagi diganggu oleh waswas syetan.” (H.R. Muslim)

Jangan mempercayai segala bentuk gangguan atau perasaan yang menggiring terhadap sikap keragu-raguan. Seperti yang diriwayatkan oleh Abi Daud, Ahmad, dan Baihaqi bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada diantara kalian ketika shalat merasakan ada yang bergerak dalam duburnya, seperti berhadats atau tidak dan dia ragu, maka janganlah dibatalkan shalatnya, sehingga mendengarkan suaranya atau mencium baunya”

Dan dalam riwayat lain, Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian shalat, syetan akan datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat ia telah shalat. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal seperti itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi) saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru mengucapkan salam.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Imam Assya’bi berkata: “Bagiku, shalat dengan keadaan hadats besar lebih baik, daripada aku harus mengulangi wudhu untuk Syetan”

Ajaran agama Islam tidak pernah mempersulit ummatnya. Justru sebaliknya, Islam hadir di muka bumi untuk memberikan kemudahan dan jalan keluar dari berbagai kesulitan yang ada. Oleh sebab itu, segala sikap yang cenderung berlebih-lebihan dan mempersulit diri dalam beragama sangatlah tidak dibenarkan karena hal ini dapat menimbulkan sikap was-was.

Berprasangka baiklah terhadap Allah dan tanamkan keyakinan bahwa “Allah tidak membebani seorang hamba kecuali sesuai dengan kemampuannya”. Rasulullah Muhammad SAW pun bersabda: “Bila kalian diperintah untuk menjalankan suatu ajaran, maka lakukan semampumu dan apabila kamu dilarang dari suatu tindakan, maka tinggalkan ia secara total”.

Ketika kita berwudhu atau mendirikan salat, berarti kita menjalankan perintah Allah, maka kita lakukan itu semampu kita dengan meninggalkan rasa ragu yang ada dalam hati kita. Apakah wudhu dan salat kita diterima atau tidak, apakah wudhu dan salat kita sempurna atau tidak, kita serahkan itu semua kepada Allah dengan tanpa keraguan.

Menurut Imam al-Ghazali, cara menyembuhkan was-was di saat berwudhu dan shalat adalah dengan memantapkan hati bahwa wudhu dan shalat kita hanya untuk Allah Ta’ala.

Kita harus yakin bahwa Allah maha menerima akan semua ibadah kita baik yang sempurna maupun yang tidak. Kita juga harus berhusnuzhan (berbaik sangka) terhadap Allah, bahwa ibadah kita yang kurang sempurna akan diampuni oleh Allah karena kita telah berusaha sekuat tenaga.

Bagi yang was-was karena berkeyakinan bahwa melakukan niat harus bersamaan dengan membasuh muka ketika wudhu, atau bagi yang was-was karena keyakinan bahwa melafazkan dan melakukan niat shalat harus bersamaan dengan mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram (mengucapkan Allahu Akbar), dan akhirnya merasa kesulitan untuk melakukan niatnya secara bersamaan, baik yang membasuh mukanya ketika wudhu atau takbiratul ihram ketika sholat, maka ketahuilah:

Bahwa niat, baik dalam wudhu maupun salat sebenarnya masalah ringan dan cukup dengan sebersit rasa bahwa kita melakukan shalat atau wudhu karena Allah. Itu sudah cukup. Adapun melafalkan dan melakukannya secara bersamaan dengan membasuh muka atau dengan takbiratul ihram itu hukumnya sunnah, tidak wajib. Lakukanlah sekali saja, jangan mengulang-ulang. Jika masih saja ragu, tinggalkan perasaan itu dan percayalah bahwa ibadah Saudara SAH dan DITERIMA Allah SWT.

Demikian juga pada saat menghilangkan hadats besar (mandi junub), cukup dengan membaca basmalah, membersitkan niat (tidak wajib dilafalkan), dan mengalirkan air ke seluruh anggota badan serta tidak perlu menggosoknya. Tidak usah kita teliti apakah seluruh badan kita telah tersiram air, namun cukuplah dengan prasangka bahwa kita telah menyiram seluruh anggota badan.

Adapun cara untuk membersihkan najis setelah buang air kecil atau besar, adalah dengan berdehem sebanyak 3 kali dan sedikit menekan pada jalan kemaluan dengan memerut ‘bagian’ laki-laki, lalu dibasuh dengan air dengan cara mengusapkan ujung jari ke tempat keluarnya najis. Jika kemudian dirasa ada yang keluar dari jalan kemaluan depan atau pun belakang, padahal tidak diyakini benar atau tidak keluarnya hadats itu, maka itu hanya sekedar perasaan dan jangan dihiraukan, anggaplah itu adalah air sisa basuhan tadi.

Al-Imam Abu Hasan Asy-Syadzili mengajar para muridnya cara menghilangkan was-was dan perasaan khawatir sebagai berikut, “Siapapun yang merasa waswas dan khawatir, letakkanlah tangan kanannya di dada sambil membaca 7 kali bacaan berikut: Subhanakallahumma wa bihamdika wa tabarakas-muka wa ta’ala jadduka wa la ilaha ghayruka.” Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, segala puji bagi-Mu, Maha Suci Nama-Mu, Maha Tinggi Kemuliaan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.”

Setelah itu lalu membaca firman Allah SWT berikut ini: “In yasya’ yudzhibkum wa ya’ti bikhalqin jadid.” Artinya: “Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kalian dan mengganti kalian dengan makhluk yang baru.” (Q.S. Ibrahim: 19)

Menanggapi bisikan syetan dan lintasan hati yang ditimbulkannya hanya akan membuat penderita makin stress saja, kepala seakan mau pecah jika terus melawannya dengan cara tersebut, dan was-was pun bukannya sembuh malahan semakin menjadi. Perlawanan yang paling baik adalah dengan cara tidak menanggapi atau mengacuhkannya terhadap apapun bentuk was-was ini, dan percayalah hal ini merupakan salah satu obat mujarab di samping pengetahuan agama dan bacaan-bacaan do’a tadi, sehingga penyakit was-was yang diderita akan berangsur sembuh. Insyaa Allah..

Semoga bermanfaat ~ Cepi Nugraha

Komentar

150 tanggapan untuk “Cara Menghilangkan Was-was”
  1. Nafisah says:

    Terimakasih postingan anda sangat membantu :”””)

    [balas komentar di sini]

  2. Diki Prabowo Atan says:

    assalamualaikum
    ustadz saya ingin bertanya,
    1. saya sangat ragu apakah di sprei saya terdapat najis hukmiyah atau tidak. hal ini bermula ketika saya habis mengalirkan air keran ke penggaris saya karena saya ragu apakah pada penggaris saya ada najis atau tidak. tapi saya yakini kena najis, dan saya memilih untuk mengalirkan air ke penggaris saya. pertanyaannya, apakah jika benar penggaris sya terkena najis cara menghilangkan najis yang saya lakukan sudah benar? kalau benar berarti ketika penggaris sehabis dicuci kan penggarisnya masih basah, itu saat basah sudah suci apa saat sudah kering baru suci?
    mohon jawabannya ustadz, karena saat penggaris masih basah saya letakkan penggaris dekat kresek obat saya, tidak bersentuhan memang, tapi karena letaknya yang sangat dekat saya jadi ragu apakah penggaris tersebut mengeluarkan air karena masih basah sehingga terkena kresek obat saya, soalnya habis nyuci penggaris, saya ambil kresek obat sya dan saya taruh kresek obat tadi ke kasur karna saya ingin minum obat. ini membuat saya ragu apakah sprei saya suci dari najis ‘stad.
    2. apakah celana yang kena najis kencing setelah kita cuci lalu kita jemur tetapi saat belum kering kita pakai celananya, apakah masih terdapat najis di celananya? saya juga sangat meragukan ini karena ketika masih basa saya meletakkan dompet dan hape di kanton celananya.

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Diki,
    wa’alaikumussalam…

    1. Karena tidak diyakini betul ada najisnya, maka sudah cukup dengan mengalirkan air di atas penggarisnya. Setelah dialiri air, penggaris sudah suci meskipun masih basah, karena najisnya tadi sudah teralirkan oleh aliran air sebelumnya.

    Kresek tadi tidak najis. Jangankan berdekatan dengan penggaris yang sudah disucikan, berdekatan dengan kotoran yang najis sekalipun. kalau tidak terlihat pasti kena atau bersentuhan, maka kresek tidak najis. Sekali lagi, kresek tidak najis, dan sepreinya pun demikian.

    2. Demikian pula dengan celana, ibarat penggaris tadi, najisnya sudah teralirkan dan terbuang dengan aliran air sebelumnya, jadi celana yang masih basah itu sudah suci meskipun belum kering. Sebelum dijemur pun asal sudah dicuci dan najisnya teralirkan, maka sudah suci. Pasti akan terbayang repotnya kan, jika sesuatu yang pernah najis menunggu kering dulu untuk menjadi suci..

    [balas komentar di sini]

  3. deri says:

    assalamualaikum.
    ustadz saya ingin bertanya bagaimana cara mengobati penyakit was-was yang sudah bersarang di dalam pikiran. saya merasa setiap saat saya selalu melamun memikirkan was-was itu, saya sudah mencoba untuk tidak memikirkannya tapi sulit pak ustadz. saya benar-benar sangat terganggu dengan was-was di pikiran saya ini. was-was saya itu selalu mengucapkan kata-kata tidak pantas kepada allah. kadang ada keinginan kuat untuk mengucapkannya dengan mulut tetapi saya selalu menahanya. mohon pak ustadz bisa memberi solusi kepada saya, karena saya sudah 3 bulan seperti ini.
    terima kasih

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Deri,
    wa’alaikumussalam..

    Memang harus terus berlatih untuk mengucapkannya, meskipun mulanya sangat berat dan selalu merasa berdosa.

    Biarkan saja kata-kata tidak pantas kepada Allah itu terucap di hati bahkan jika sampai keluar dari mulut pun. Membiarkan dalam arti me’lulu’ atau ‘nyungkun’ (mengiyakan tapi hati tetap menolak) dengan maksud supaya nantinya penderitaan waswasnya sembuh. Karena dengan cara inilah waswas akan berkurang hingga sembuh.

    [balas komentar di sini]

  4. gusti nur abdi says:

    1. assalamualaikum ustad sya mau bertanya saya diresahkan dengan adnya bisikan kekufuran di dalam hati saya dan bahkan bisikn tsb seperti teryakini pdahal sya tidak meyakini nya dan sya bersikeras melawanya bisikn tsb, bisikn itu seperti sya yg mengucapkan ya pdhal sya sngat membenci bisikn tsb saya bingung ustad, sya takut klo sya menjadi orang yg keluar dari syariat islam
    2. sya brtanya bagaimna klo seseorang waktu kecil pernah mencuri dan melakukan dosa besar, dan pda saat dia besar dia baru menyadari dan thu bahwa perbuatanya pada masa kecil itu merupkan suatu dosa besar, jdi bagaimna hukum dosa yng dilakukan pada masa kecil yg tidak mengethui bahwa mna yg hram dan mna yg halal atas perhtian ustd sya ucapkn terimakasih

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Gusti Nur,
    wa’alaikumussaam..

    1. Selama di hati ada kebencian akan bisikan tersebut, maka mas tetap seorang muslim yang tidak keluar dari syari’at Islam. Allah Maha Mengetahui bahwa hal tersebut hanyalah waswas dari syetan, maka jangan khawatir, dan acuhkanlah, supaya tidak semakin menjadi dan muncul bentuk-bentuk waswas lainnya.

    2. Seseorang dianggap berdosa jika ia telah mencapai masa akil baligh, jika belum di masa tersebut, maka ia terbebas dari dosa.

    [balas komentar di sini]

  5. Cinta Allah dan Rosul says:

    Assalamualaikum…

    Saya mau tanya tentang najis yang terkena air kencing orang yang sudah baligh…

    1.Kg Cepi saya ini kan beser nah jadi saya kadang2 celana dalam saya sering tertetes air kencing saya sendiri dan lalu saya buka celana dalam saya dan saya tidak memakai celana dalam lalu beberapa hari saya tertetes celana yg saya pakai .. akhirnya saya shalat dengan tidak memakai celana dan hanya memakai sarung saja untuk shalat … lalu sarung terkena najis juga .. saya ganti memakai sarung satu lagi beberapa hari tertetes lagi (tetesan air kencing hanya lah 1,3 tetes saja tapi biasanya hanya tertetes 1 tetesan saja) nah itu kan najis .. lalu saya belajar di sekolah cara menghilangkan najis air kencing yg sudah baligh adalah dengan mengalirkan air ke pakaian yang terkena najis itu yakni najis yang di sarung saya itu adalah najis sedang .Tapi saya tidak mengalirkan air ke sarung saya . kan katanya harus hilang bau,zat,rasa dan warnanya dulu , nah saya biarkan saja mungkin beberapa jam saja sudah kering lalu saya pakai lagi (tidak ganti sarung) dan seterusnya sampai sekarang saya pakai sarung itu untuk shalat dan ternyata seharusnya hilangkan dulu zat,rasa,warna,aroma najisnya dulu baru alirkan air lalu setelah itu tunggu kering baru suci bagaimana dengan shalat saya harus-kah saya mengqadha saya sering was-was apakah shalat saya sah? yang saya lakukan selama ini ? sungguh saya sangat bingung?

    2.kakak saya juga kadang2 sering pakai sarung yang saya pakai tetapi ia tidak tau kalau itu habis terkena air kencing saya sedikit beberapa tetes , dan saya tidak memberitahu kepada kaka saya jika itu terkena najis, karena saya kira hanya diamkan beberapa jam saja yang penting sudah tidak ada zat,rasa,aroma,warna nya berarti itu suci ? bagaimana shalatnya akan-kah saya yang berdosa pada Allah?

    padahal pakaian yg terkena kencing itukan harus diberi air yang mengalir apakaah ini dalam jumlah banyak ? atau sama saja?

    3.dan satu lagi katanya orang mabuk itu tidak diterima amal ibadahnya 40 hari apa maksud ini maksud tidak diterima amalnya itu apakah dia harus mengqadha shalat juga? ataukah shalatnya serta ibadah lainnya diterima hanya ia tidak dapat pahala sama sekali ?

    Terimakasih.. maaf bila pertanyaan kurang sopan ,, sungguh saya bingung sekali atas hal ini!

    [balas komentar di sini]

  6. Ulfa says:

    Saya slalu mngucapkn kata kata yg tdk pnts dlm hti sy. Tp saya sangt bnci dg kta kta tsb dan sy sll yakin bhwa sy tdk brniat utk mngucpkn ny.. Sy jugaa was2 dlm mlkukan mndi bsar smpai2 hrus mngulang mndi bbrp kli. Sy juga sll mrsa bhwa sy murtad. Tp sy sll brusahaa ykin bhwaa sya tdk murtad.. Srta bnyk mcam2 was was yg sy alami. Mohon bntuannya…

    [balas komentar di sini]

Page 7 of 7«1234567
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!