Cara Menghilangkan Was-was

Cara Menghilangkan Was-was Dalam Wudhu, Shalat, dsb.

Berwudhu’

Was-was merupakan lintasan-lintasan hati yang berlebihan dan tidak diinginkan. Bisa berkenaan dengan masalah aqidah seperti memikirkan tentang Dzat Allah atau membanding-bandingkan-Nya dengan makhluk. Bisa berkenaan dengan masalah syari’ah yang biasanya terkait masalah fiqh seperti pada saat menghilangkan najis terasa belum suci, saat berwudhu atau mandi besar (junub) seolah airnya belum lewat dengan sempurna, shalat merasa kurang pas dalam niat, kurang sempurna dalam bacaan, serta berniat membatalkan shalat yang tengah dilakukan. Bisa juga berkenaan dengan akhlaq seperti ucapan-ucapan hati yang kotor, hina, dan sebagainya yang sebetulnya itu semua itu sebenarnya ‘tidak diinginkan’ oleh penderitanya (karena hanya lintasan hati tadi), itulah ciri-cirinya.

Was-was sangat mengganggu penderitanya, mengakibatkan perasaan tersiksa dan sangat tertekan (stress berat), bahkan pernah didapati diantara penderitanya ada yang sampai masuk ke rumah sakit jiwa. Tak hanya bagi penderita, penyakit ini juga bisa mengganggu orang-orang yang berada di sekitarnya, misalnya di saat ia berlama-lama di kamar mandi akibat waswas-nya, maka orang lain yang ingin memakai kamar mandi tersebut juga merasa sangat terganggu karena harus menunggu lama dan membuat aktifitasnya pun terhambat.

Penyakit was-was membuat waktu yang sangat berharga terbuang percuma. Pernah ada satu cerita dimana seorang karyawan yang dikeluarkan oleh sang majikan dari tempat kerjanya gara-gara penyakit was-was ini akibat ia sering terlambat melakukan pekerjaan karena was-was yang dialaminya. Yang lebih parah dari itu, penderitanya bisa sampai enggan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama karena merasa stress dan capek saat menghadapi was-wasnya, padahal hati nuraninya tidak menghendaki. Ya, memang beragam cara syetan menggoda manusia dengan maksud menjerumuskannya.

Bila ada diantara kita yang melihat atau mengalami gejala penyakit ini, maka perlu untuk dikasihani, jangan malah seolah disudutkan. Obat was-was harus segera dicari, karena jika terlambat, bisa terus mengarah ke penyakit lain yang obat serta penyembuhannya lebih sulit lagi didapatkan, walaupun terkadang penyakit was-wasnya sendiri sudah sembuh. Salah satu penyakit tersebut adalah penyakit galat atau kaku dalam melafalkan bacaan sholat, dzikir dan do’a, karena lidah dan hatinya seolah-olah kaku atau galat untuk mengucapkan bacaan-bacaan tadi, akibat dari penyakit waswas yang dideritanya terdahulu. Jika sudah timbul penyakit seperti ini, maka seolah obatnya hanyalah ‘keajaiban’ saja.

Penyebab Timbulnya Was-was

Yang saya ketahui, penyakit was-was timbul akibat minimnya pengetahuan dan pemahaman kita tentang agama, terutama dalam masalah aqidah, seperti pengetahuan mengenai sifat-sifat Allah, dan juga pengetahuan tentang masalah fiqih (syari’at) seperti cara bersuci yang baik, rukun dan syarat sah sholat, dan sebagainya, dimana di saat yang sama pula keinginan untuk menyempurnakan ibadah kepada Allah sangatlah kuat. Mungkin hal inilah yang mengakibatkan terbukanya celah sebagai pintu masuknya syetan untuk menggoda serta membisikkan perasaan ragu ke dalam hati, sehingga pada saat melakukan aktifitas ibadah rasa was-was pun menjangkiti.

Hal ini juga sejalan dengan pendapat al-Imam Abu Hamid al-Ghozali yang mengatakan, “Was-was itu penyebabnya ada dua. Pertama, bodoh terhadap syari’at. Kedua, adanya kekacauan dalam akal atau pikiran. Dan keduanya merupakan kekurangan dan aib yang paling besar dalam diri seseorang.”

Bodoh terhadap syari’at bisa menyebabkan melaksanakan ibadah dikira-kira sendiri, dan jika berhati-hati, cenderung berlebihan karena tidak didasari ilmu. Sedangkan kekacauan akal pikiran bisa menyebabkan kita mengulang-ulang perbuatan yang sama.

Cara Menghilangkan Was-was (Obat Was-was)

Cara menghilangkan was-was atau mengobati was-was adalah dengan melihat penyebabnya. Bila penyebabnya adalah karena ketidaktahuan masalah rukun dan syarat sah shalat misalnya, maka pelajarilah cara shalat yang benar sebagaimana Rasulullah SAW shalat. Datangilah para ‘alim ‘ulama (ahlinya) dalam hal ini, supaya tidak salah dalam belajar.

Senantiasa pula untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT, seperti dengan membaca salah satu ayat dari surah al-Mu’minun: “Wa qur rabbi a’udzubika min hamazatis syayathin” – Artinya: “Dan katakanlah: Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan Syaitan” (Q.S. al-Mu’minun: 97)

Atau dengan membaca surat an-Nas: “Qul a’udzubirabbinnasi Malikinnasi Ilahinnas. Min syaril-waswasil-khannas. Aladzi yuwaswisu fi sudurinnasi minal jinnati wannas.”Artinya: “Katakan (wahai Muhammad) aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Dzat yang memiliki semua manusia. Tuhan seluruh manusia. Dari kejelekan godaan syetan yang membisikkan kebimbangan di hati manusia, dari golongan jin dan manusia” (Q.S. an-Nas).

Di dalam sebuah hadits, Nabi SAW bersabda, “A’udzubillahis sami’il ‘alimi minas syaithanirrajim min hamajihi wa nafkhihi wa naftsih” – “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari Syetan yang terkutuk, dari godaannya, dari tipuannya, dan bisikannya.”

Cara Menghilangkan Was-was Dalam Perkara Aqidah

Dalam hadits lain juga Rasulullah SAW bersabda, “Salah satu dari kalian bisa saja didatangi syetan seraya bertanya kepadanya, ‘Siapa yang menciptakan kamu?’ Maka dia menjawab, ‘Allah’. Lalu syetan bertanya lagi, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Apabila salah satu diantara kalian mendapati hal itu pada dirinya, hendaknya ia berkata, ‘Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’. Ucapan itu akan menghilangkan (was-was) tersebut.” (H.R. Ahmad)

Bila was-was membisikkan kata-kata keji da kotor, bahkan kata-kata yang dianggap murtad padahal kita tidak menginginkannya, maka caranya ialah dengan ‘mengacuhkannya’ sehingga was-was ini berangsur hilang.

Cara Menghilangkan Was-was Dalam Berwudhu’ dan Shalat

Dalam berwudhu, tak luput Syetan pun menebarkan waswas, seperti Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dalam wudhu itu ada syetan, yang dinamakan Walhan. Maka hati-hatilah terhadap was-was air.” (H.R. Ibnu Majah).

Ibnu Majah mengatakan, “Secara bahasa Walhan itu artinya yang hilang akalnya atau tamak untuk menguasai sesuatu. Syetan wudhu disebut Walhan, bisa jadi karena getolnya dia dalam menebar was-was pada orang yang berwudhu. Atau karena perbuatannya itu membuat orang yang wudhu jadi bingung dan linglung seperti orang yang hilang akalnya. Ia tidak tahu bagaimana syetan bisa ngerjain dia, sampai ia tidak tahu apakah air yang dituang sudah membasahi anggota wudhunya atau belum. Atau sudah berapa kali ia telah membasuh anggota wudhunya.”

Meneladani Rasulullah sebagai cara menghilangkan was-was. Amr bin Syueib bercerita dari kakeknya bahwa, “Ada seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah SAW, ia bertanya tentang wudhu. Lalu beliau memberinya contoh 3 kali 3 kali. Kemudian beliau bersabda, “Beginilah cara berwudhu, barang siapa yang melakukan lebih dari itu, berarti ia telah menyalahi (sunnahku), zhalim dan melampaui batas.” (H.R. Ibnu Majjah).

Dalam sebuah hadits, ‘Umar bin Abi al-’Ash pernah mengadukan keadaan dirinya kepada Rasulullah SAW tentang shalatnya. Maka Nabi SAW bersabda, “Itu Syetan yang bernama Khanzab. Jika kau merasa diganggunya, berlindunglah kepada Allah dari godaannya (A’udzubillahi minassyaithanirrajim), dan tiuplah ke arah kirimu 3 kali. Maka Utsman bin Ash melakukan hal tersebut dan ia tidak pernah lagi diganggu oleh waswas syetan.” (H.R. Muslim)

Jangan mempercayai segala bentuk gangguan atau perasaan yang menggiring terhadap sikap keragu-raguan. Seperti yang diriwayatkan oleh Abi Daud, Ahmad, dan Baihaqi bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada diantara kalian ketika shalat merasakan ada yang bergerak dalam duburnya, seperti berhadats atau tidak dan dia ragu, maka janganlah dibatalkan shalatnya, sehingga mendengarkan suaranya atau mencium baunya”

Dan dalam riwayat lain, Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian shalat, syetan akan datang kepadanya untuk menggodanya sampai ia tidak tahu berapa rakaat ia telah shalat. Apabila salah seorang dari kalian mengalami hal seperti itu, hendaklah ia sujud dua kali (sujud sahwi) saat ia masih duduk dan sebelum salam, setelah itu baru mengucapkan salam.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Imam Assya’bi berkata: “Bagiku, shalat dengan keadaan hadats besar lebih baik, daripada aku harus mengulangi wudhu untuk Syetan”

Ajaran agama Islam tidak pernah mempersulit ummatnya. Justru sebaliknya, Islam hadir di muka bumi untuk memberikan kemudahan dan jalan keluar dari berbagai kesulitan yang ada. Oleh sebab itu, segala sikap yang cenderung berlebih-lebihan dan mempersulit diri dalam beragama sangatlah tidak dibenarkan karena hal ini dapat menimbulkan sikap was-was.

Berprasangka baiklah terhadap Allah dan tanamkan keyakinan bahwa “Allah tidak membebani seorang hamba kecuali sesuai dengan kemampuannya”. Rasulullah Muhammad SAW pun bersabda: “Bila kalian diperintah untuk menjalankan suatu ajaran, maka lakukan semampumu dan apabila kamu dilarang dari suatu tindakan, maka tinggalkan ia secara total”.

Ketika kita berwudhu atau mendirikan salat, berarti kita menjalankan perintah Allah, maka kita lakukan itu semampu kita dengan meninggalkan rasa ragu yang ada dalam hati kita. Apakah wudhu dan salat kita diterima atau tidak, apakah wudhu dan salat kita sempurna atau tidak, kita serahkan itu semua kepada Allah dengan tanpa keraguan.

Menurut Imam al-Ghazali, cara menyembuhkan was-was di saat berwudhu dan shalat adalah dengan memantapkan hati bahwa wudhu dan shalat kita hanya untuk Allah Ta’ala.

Kita harus yakin bahwa Allah maha menerima akan semua ibadah kita baik yang sempurna maupun yang tidak. Kita juga harus berhusnuzhan (berbaik sangka) terhadap Allah, bahwa ibadah kita yang kurang sempurna akan diampuni oleh Allah karena kita telah berusaha sekuat tenaga.

Bagi yang was-was karena berkeyakinan bahwa melakukan niat harus bersamaan dengan membasuh muka ketika wudhu, atau bagi yang was-was karena keyakinan bahwa melafazkan dan melakukan niat shalat harus bersamaan dengan mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram (mengucapkan Allahu Akbar), dan akhirnya merasa kesulitan untuk melakukan niatnya secara bersamaan, baik yang membasuh mukanya ketika wudhu atau takbiratul ihram ketika sholat, maka ketahuilah:

Bahwa niat, baik dalam wudhu maupun salat sebenarnya masalah ringan dan cukup dengan sebersit rasa bahwa kita melakukan shalat atau wudhu karena Allah. Itu sudah cukup. Adapun melafalkan dan melakukannya secara bersamaan dengan membasuh muka atau dengan takbiratul ihram itu hukumnya sunnah, tidak wajib. Lakukanlah sekali saja, jangan mengulang-ulang. Jika masih saja ragu, tinggalkan perasaan itu dan percayalah bahwa ibadah Saudara SAH dan DITERIMA Allah SWT.

Demikian juga pada saat menghilangkan hadats besar (mandi junub), cukup dengan membaca basmalah, membersitkan niat (tidak wajib dilafalkan), dan mengalirkan air ke seluruh anggota badan serta tidak perlu menggosoknya. Tidak usah kita teliti apakah seluruh badan kita telah tersiram air, namun cukuplah dengan prasangka bahwa kita telah menyiram seluruh anggota badan.

Adapun cara untuk membersihkan najis setelah buang air kecil atau besar, adalah dengan berdehem sebanyak 3 kali dan sedikit menekan pada jalan kemaluan dengan memerut ‘bagian’ laki-laki, lalu dibasuh dengan air dengan cara mengusapkan ujung jari ke tempat keluarnya najis. Jika kemudian dirasa ada yang keluar dari jalan kemaluan depan atau pun belakang, padahal tidak diyakini benar atau tidak keluarnya hadats itu, maka itu hanya sekedar perasaan dan jangan dihiraukan, anggaplah itu adalah air sisa basuhan tadi.

Al-Imam Abu Hasan Asy-Syadzili mengajar para muridnya cara menghilangkan was-was dan perasaan khawatir sebagai berikut, “Siapapun yang merasa waswas dan khawatir, letakkanlah tangan kanannya di dada sambil membaca 7 kali bacaan berikut: Subhanakallahumma wa bihamdika wa tabarakas-muka wa ta’ala jadduka wa la ilaha ghayruka.” Artinya: “Maha Suci Engkau ya Allah, segala puji bagi-Mu, Maha Suci Nama-Mu, Maha Tinggi Kemuliaan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.”

Setelah itu lalu membaca firman Allah SWT berikut ini: “In yasya’ yudzhibkum wa ya’ti bikhalqin jadid.” Artinya: “Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kalian dan mengganti kalian dengan makhluk yang baru.” (Q.S. Ibrahim: 19)

Menanggapi bisikan syetan dan lintasan hati yang ditimbulkannya hanya akan membuat penderita makin stress saja, kepala seakan mau pecah jika terus melawannya dengan cara tersebut, dan was-was pun bukannya sembuh malahan semakin menjadi. Perlawanan yang paling baik adalah dengan cara tidak menanggapi atau mengacuhkannya terhadap apapun bentuk was-was ini, dan percayalah hal ini merupakan salah satu obat mujarab di samping pengetahuan agama dan bacaan-bacaan do’a tadi, sehingga penyakit was-was yang diderita akan berangsur sembuh. Insyaa Allah..

Semoga bermanfaat ~ Cepi Nugraha

Komentar

84 tanggapan untuk “Cara Menghilangkan Was-was”
  1. ananta says:

    mas izin copy untuk jadi bacaan aja ..gak dimasukin blog

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Ananta,

    Silahkan.. Dimasukin ke blog juga gak apa-apa, asalkan artikelnya dibuat menjadi artikel yang unik.

    [balas komentar di sini]

  2. awaludin says:

    ijin copy ustadz ya bagus sekali tulisannya banyak bantu saya ini, jazakallahu khoir……

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Awaludin,

    Silahkan.. Namun kalau mau dimasukkan ke blog/situs, mohon diubah dulu artikelnya supaya menjadi artikel yang unik di mata search engine.

    [balas komentar di sini]

  3. reza says:

    assalamualaikum

    mas saya mau bertanya. was-was saya itu suka terlintas tiba2 mengucapkan yg tidak pantas kepada Allah.. mula2 saya biarkan saja. tp akhir2 ini sperti muncul dr pikiran saya sendiri. jujur saya takut sekali terhadap dosa ini. saya takut sekali terkena azab dr Allah. apa yg harus saya lakukan untuk menghilangkan pikiran2 seperti itu. saya merasa bahwa was-was saya ini sudah termasuk parah

    terima kasih

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Kang Reza,
    wa’alaikumussalam..

    Ucapan yang tidak pantas yang ditujukan kepada Allah itu, walaupun sepertinya berasal dari kang Reza sendiri, namun sebenarnya hal itu adalah bisikan (was-was) dari syetan, bukan dari hati nurani kang Reza sendiri yang bersih dan beriman kepada Allah. Buktinya, kang Reza masih merasa takut dosa dan terkena azab-Nya.

    Cara mengatasinya “ACUHKAN” jangan dilawan, dan hilangkan segala macam ketakutan.

    Kalau dilawan atau terus dipikirkan, nanti lintasan-lintasan buruk tersebut bukannya hilang, namun akan bertambah parah, dan akan menimbulkan waswas-waswas lain yang bentuknya berbeda, sehingga akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Kalau sampai mencapai puncaknya, maka kang Reza bisa putus asa terhadap Allah, dimana putus asa terhadap rahmat Allah merupakan dosa yang besar. Nah, jika nanti sampai seperti itu, syetan pun akan bersorak-sorai gembira, karena siasat/strategi/politik yang dijalankannya berhasil, yang bisa menyebabkan makin banyaknya teman di neraka nanti.

    Saya di Majalaya, Bandung Selatan.. Kalau nanti masih tidak hilang juga was-wasnya, silahkan datang ke rumah saya untuk mencari upaya mengatasinya.

    [balas komentar di sini]

    reza Reply:

    iya kang. awalnya juga saya ngikutin saran akang yang supaya diacuhkan dan bila ingin terlintas maka jgn dilawan dan biarkan terlintas saja. Tp ko mkn kesini mkn sering aja kang pikiran2 seperti itu dan bahkan saya merasa seperti dr hati dan pikiran saya sendiri. bahkan dlm shalat sekalipun terkadang suka terlintas kang. Sampe2 kepala sering pusing ga jelas kl sudah mulai ada pikiran2 ky gt… apalg misal sudah mau mulai dzikir mlh terlintas pikiran2 ky gt. Jdnya saya seperti takut berdzikir

    [balas komentar di sini]

  4. Muhammad alfar redha says:

    Alhamdulillah..
    Trima kasih, ini sngat membantu ..:)

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Muhammad Alfar,

    Alhamdulillah jika sekiranya bermanfaat. Sama-sama, terimakasih kembali…

    [balas komentar di sini]

  5. revolusioner islam ke 2 says:

    Slma ni mngkin q g bs jdi orang yg q hrpkn gara penyakit was was sialan pak guru…. pdhal dlm dri ini q mngakui bhwa q ni santri….. eh malah tertipu syetan2 bedebah…. ksmpulan pak guru diatas mmng sma dg rasa yg di alami orng yg terkena pnyakit was was….. matur nuwon pak guru…

    [balas komentar di sini]

  6. Rahman says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb.

    Ustadz sekarang ini saya sedang dilanda was-was yang hebat, dan was-was itu disebabkan masalah najis, saya sangat phobia sama yang namanya kotorang cicak, setiap saya melihat kotoran cicak di rumah atau di barang-barang yang sering kami sekeluarga lewati, selalu segera saya bersihkan, semenjak saja pindah tugas kerja ke Sampit, saya selama kurang lebih seminggu menumpang di rumah teman, ternyata rumah teman saya itu banyak sekali bekas kotoran cicaknya, karena hanya disapu saja tidak dipel, di kantor pun begitu banyak kotoran cicaknya karena tenaga kebersihannya kurang, bahkan musholla di kantor juga banyak kotoran cicaknya, pernah ketika saya sedang bekerja, saya melihat disamping saya ada kotoran hitam, saya tidak tahu pasti apa itu kotoran cicak yang sudah mengering kemudian hancur atau hanya kotoran biasa saja, saya berusaha ketika bekerja untuk menghindari kotoran itu, tapi hati ini ragu, jangan-jangan tadi tangan saya atau berkas saya menyentuh berkas itu, disitulah saya mulai was-was, sampai-sampai benda yang pernah saya sentuh saya bersihkan, laptop saya lap, charger laptor saya lap, mouse dan headphone saya lap, HP pun ikut saya lap, tas laptop juga saya cuci sampai-sampai modem saya ikut ke cuci, bahkan beberapa berkas saya ucap-usap dengan kanibo basah, saya merasa semua khawatir sekali kalau saya menyentuh najis dan najisnya menyebar.

    kemudian ketika saya lihat bintik putih kecil di refseleting tas laptop saya takut itu kotoran cicak, padahal teman saya sudah meyakinkan saya kalau titik putih di tas laptop saya itu bukan kotoran cicak atau kotoran hewan lainnya, menurutnya itu kotoran kayu yang menempel di tas saya, namun tetap saja pikiran saya ini sepertinya mencari celah untuk membisikan bahwa bintik putih itu kotoran hewan, saya jadi was-was lagi jangan-jangan itu najis, jangan-jangan laptop dan semua asesorisnya ikut kena najis karena tangan saya sudah menyentuh banyak barang dan berkas saya setelah saya membuka tas laptop yang terkena bintik putih yg tidak jelas apa itu sebenarnya.

    ketika saya pindah dari rumah teman saya ke kos, teman saya itu membantu saya membawa kardus yang berisi pakaian saya, sebelum teman saya menaikan kardus ke atas motor, kardusnya itu diletakkan di atas lantai yang ada bekas kotoran cicaknya, sy langsung berpikiran “wah kena najis nih barang saya” tapi kemudian saya berpikiran itu kan sama-sama kering dan kalau kotoran hewan sudah kering bersentuhan dengan benda lainnya, najisnya tidak pindah, awalnya saya yakini itu karena itulah yang saya pelajari waktu di madrasah dulu, tapi lagi-lagi beberapa hari kemudian rasa was-was menyerang saya lagi, jangan-jangan najisnya menyebar ke isi kardus saya karena tangan saya sudah pernah pegang kardus itu dan sudah menyentuh benda-benda lainnya, saya jadi merasa semua yang pernah saya sentuh jadi najis, rasa was-was ini benar-benar menguras energi saya, bahkan sampai saya merasa kedua tangan saya lemas sekali dan kepada bagian belakang saya terasa berat.

    bahkan pagi tadi ketika saya habis mandi dan baru berpakaian dalam saja, saya merasa ada yang keluar dari alat kelamin saya, akhirnya saya buka celana dalam dan saya liat tidak ada tetesan air dan saya lihat kemaluan saya juga tidak ada air yang keluar, untuk lebih meyakinkan saya, kemudian saya cium-cium itu celana dalam awalnya tidak ada bau pesing hanya ada sekilas bau yang saya rasa aneh kemudian saya ciumi lagi celana dalam dan tidak ada bau pesing, kemudian saya istinja lagi, setelah itu saya cium lagi untuk lebih meyakinkan hati saya, ada sekilas bau aneh dan akhirnya saya mencium lagi celana dalam itu dengan cara saya tempelkan hidung saya langsung di celana dalam itu dan tidak ada bau pesing sama sekali, akhirnya celana itu saya pakai lagi, karena sy merasa sudah mencoba cara yang paling ekstrim dengan menempelkan langsung hidung saya di celana dalam itu dan tidak ada bau pesing, tapi setelah saya berpakaian lengkap timbul lagi was-was, tadi bau yang aneh itu bau apa, mulai dari keluar kos, diperjalanan sampai di kantor saya terus memikirkan dan was-was dengan bau yang aneh itu yang hanya saya rasakan 2 kali namun sekilas itu, bahkan ketika saya menulis komentar ini pun was-was belum sepenuhnya hilang, meskipun sudah merasa sedikit lega dengan membaca beberapa artikel dan bertanya kepada beberapa teman.

    saya benar-benar merasa dipenjara oleh was-was ini,saya sulit untuk konsentrasi dengan kerjaan saya dan saya juga khawatir dengan tanggung jawab saya sebagai kepala rumah tangga, saya pun merasa berat bahkan kadang takut untuk duduk di kursi kerja dan membuka laci meja kerja saya, saya juga merasa takut untuk menyentuh dan membuka laptop saya, butuh beberapa waktu bagi saya untuk berani sekedar mengeluarkan lapotop dari tasnya, saya merasa badan saya dan semua yang saya sentuh jadi najis, dan ini saya rasakan selama 3 minggu terakhir, padahal sebelum-sebelumnyanya saya belum pernah merasa was-was sehebat ini. saya selalu bisa mengatasinya, tapi selama saya tugas di sampit ini saya tidak bisa dan tidak tahu cara mengatasinya, bahkan pernah saya berpikiran untuk membuang laptop dan semua asesorisnya dan juga saya sempat berpikiran menyalahkan teman saya yang sudah membantu saya mengangkat kardus pakaian saya yg diletakkannya di lantai yang banyak bekas kotoran cicaknya, saya merasa seperti kacang lupa kulitnya. setiap kali ada upaya untuk mengatasi ketakutan saya mengatasi rasa bernajis itu selalu datang was-was lainnya.

    Mohon pencerahannya ustad biar saya bisa keluar dari belenggu was-was ini

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Pak Rahman,
    wa’alaikumussalam wr. wb.

    Saya pun pernah mengalaminya, namun tidak separah yang Bapak derita. Untuk mencoba mengatasinya, Bapak harus banyak membaca kitab atau buku-buku yang berkenaan dengan Bab Thaharah atau Bersuci, terutama pada bagian yang membahas tentang pembagian najis dan cara membersihkannya.

    Apapun benda najis, selama najis itu kering, jika bersentuhan dengan barang lain yang juga kering, benar… itu tidak menjadi najis, kecuali jika salah satunya basah.

    Kalau kita melihat ada benda “seperti najis” (seperti benda berupa bintik putih tadi), dan kita tidak yakin 100 persen bahwa itu najis, segeralah buang atau alihkan pandangan supaya tidak terlihat lagi dan tidak diteliti, dan yakinkan itu bukan najis, apalagi teman Anda sudah meyakinkan. Jangan terus dipikirkan..

    Saat merasa ada sesuatu yang keluar dari alat kelamin pun, maka tidak wajib diteliti, anggaplah itu hanya perasaan saja, apalagi setelah dilihat tidak ada apa-apa, tidak mesti terus diciumi bau di celana, apalagi bau-bau aneh di celana itu biasanya adalah bau khas yang keluar dari dalam badan kita di sekitar situ.

    Suci dari najis itu utamanya merupakan salah satu syarat sahnya shalat. Kalau ada najis di laptop atau di benda-benda berharga lainnya sekalipun, maka tidak menjadi masalah, asalkan tidak dipakai shalat. Apalagi jika najisnya tidak ada, hanya sangkaan. Takut menyebar ke pakaian dan badan? tidak… tidak akan menempel dan menyebar…

    Memang di saat waswas, pikiran kita selalu mencoba memikirkan, bahwa jangan-jangan najis terus menyebar kesana kemari, padahal tidak sampai seperti itu.

    Sangkaan-sangkaan tadi itu tidak benar, dan jika memang sekalipun benar ada najis yang menempel di laptop atau barang-barang lain, namun tidak terlihat benda najisnya, maka itu hanya najis hukmiah atau najis yang ringan, tidak usah dilap dengan air, namun cukup diciprat dengan sedikit air saja dengan cipratan yang ringan supaya tidak merusak benda-benda tadi, dan setelah dilakukan cipratan, maka anggaplah telah SUCI.

    Hindari meneliti-neliti dan memikir-mikirkan hal-hal yang tidak punya alasan kuat buat dipikirkan. Karena waswas ini kalau terus menerus ada, nanti akan bertambah berat dan berat, dan akan berganti macam dan ragamnya. Acuhkan-acuhkan, kasihani diri, istri dan anak-anak.. Jika terpaksa, shalat dengan najis sekalipun insyaallah masih lebih baik, daripada membuka pintu-pintu waswas yang lain, yang bisa menghancurkan kehidupan.

    Jika Bapak ingin mendapatkan jawaban (tepatnya obrolan) saya yang lebih jelas, silahkan telepon, namun sebelumnya mohon sms saya terlebih dulu, karena bisa saja saya lagi di perjalanan, dsb. Nomer telepon saya di http://rumahcahaya.com/kontak/

    [balas komentar di sini]

  7. Palga dwiguna says:

    pak kenapa saya selalu tidak yakin atas apa yang saya kerjakan, seperti mencocokan angkan saya selalu meng ualg dan mengulanginya padahal secara logic sudah sama tapi saya selalu belum yakin, apa yang harus saya lakukan pak?

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Palga Dwiguna,

    Itulah was-was dari syetan. Sebaiknya Mas Palga acuhkan saya, kalau sudah satu kali dicocokkan, maka jangan perdulikan lagi apakah angkanya sudah sama atau tidak, benar atau tidak, biar nanti was-wasnya segera hilang.

    [balas komentar di sini]

  8. Syaikhal Hady says:

    Assalaamu ‘alaikum wr. Wb.

    Bgini, ketika shalat dlm diri saya ada bersitan2 atau kata jiwa yg mengatakan ”aku mau berhenti (shalat) ” entah itu kluar dr hati saya atau dlam pkiran saya gk tau,,,,, tp kata2 atau bersitan tsb tdak saya inginkan, akan ttpi meskipun saya udah brusaha menahan keluarnya kata2 atau bersitan2 tsb ttep saja hal itu terbersit atau ttap keluar kata2 itu,,,,,apa shalat saya batal kalau spt itu ust…?

    Wassalaam.

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Syaikhal Hady,
    wa’alaikumussalam wr. wb.

    Adduh, dibilang ustadz sama seorang Syaikh, Syaikhal Hady maksudnya. Maaf bercanda Mas.. hehe.

    Kalau mau berhenti shalat itu benar-benar diinginkan, maka batallah shalat. Namun karena hal itu hanya bersitan hati atau pikiran yang ditimbulkan oleh waswas/bisikan syetan, maka Tidaklah Batal, dan teruskan saja shalatnya hingga selesai.

    [balas komentar di sini]

  9. Syaikhal Hady says:

    begitu ya,,,,trma kasih atas jawabannya, sekarang saya sudah lega stlah membaca jawaban itu,,,
    oh ea,,,kalau boleh saya saranin, bisa gk jwabannya di sertai dengan dalil entah itu al qur’an, hadits, atau referensi kitabnya,,,agar jawabannya makin meyakinkan gitu,
    maaf, kalau saya sok nyaranin sampean jadinya.

    Jazaakumullah khairal jazaa’…Amiiin

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Wa iyyakum. Aamiin..

    Tentang niat:

    “Innamal a’malu binniat wa innama likullimriin ma nawa……” (H.R. Bukhori Muslim)

    Saya bukan seorang ustadz/’ulama, namun untuk lebih jelasnya, saya anjurkan kepada Mas untuk bergaul dengan ‘ulama yang memiliki kesinambungan ilmu kepada guru-guru yang tersambung sampai kepada baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena:

    “Fas-alu Ahla dzikri inkuntum laa ta’lamun” (al-Ayat)

    “Al-Ulama-u waratsatul Anbiya” (H.R. Bukhari, Tirmidhi, Abu Dawud,dll.)

    Saat bergaul dengan mereka, hal tersebut insyaAllah akan dibahas saat membuka bab yang berkenaan dengan Niat atau Shalat dalam kitab-kitab seperti Bulughul Maram, Fathul Qarib, dsb.

    [balas komentar di sini]

Page 4 of 4«1234
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!