Bisnis Kayu Sengon (Albasia)

Kayu Sengon / Kayu Albasia

Kayu Sengon / Albasia

Bisnis kayu Sengon ini bagi saya mungkin tinggal kenangan. Kenangan tentang bagaimana suka dan dukanya menjalankan bisnis kayu yang mempunyai nama lain kayu Albasia ini. Bahkan sebenarnya bukan hanya kayu jenis ini yang saya jual-belikan, tetapi bisnis kayu Jati, kayu Mahoni, kayu Kelapa dan beberapa jenis kayu hutan lain pun pernah saya jalankan, walaupun yang jadi bisnis pokoknya kayu Sengon.

Saya mulai berkenalan dengan bisnis ini sekitar tahun 2001 tidak berapa lama setelah saya lulus kuliah. Kalau tidak salah saat itu harga kayu sengon masih di kisaran Rp. 350.000 per meter kubik untuk potongan banci (tidak full), dan Rp. 600.000 per meter kubik untuk potongan jadi (full).  Bisnis kayu Sengon (Albasia) merupakan bisnis kecil-kecilan kedua saya disamping bisnis percetakan yang sudah saya tekuni lebih dulu. Memang dari dulu saya inginnya berwirausaha dan sangat enggan untuk masuk ke lingkungan kantor atau pabrik sebagai seorang pekerja / karyawan.

Pada mulanya, saya menawarkan barang cetakan ke sebuah toko material yang menjual berbagai bahan bangunan yang beberapa diantaranya adalah kayu untuk papan, kusen, tiang, dan rangka atap. Setelah barang cetakan berupa nota / bon dan kartu nama jadi, saya menemui pemiliknya beserta seorang teman kuliah sekaligus adik sepupu isteri. Tujuan kami berdua selain untuk menyerahkan pesanan cetakan yang sudah jadi, juga untuk menawarkan kayu Sengon yang saat itu saya kenal sebagai kayu Albasiah atau Alba, yang dikemudian hari saya mengenalnya dengan sebutan kayu Jeungjing, Jengjen, Albiso, dan Sengon. Saat itu kami melihat ada peluang di bisnis kayu ini, dan kami pun tahu darimana sumber kayu ini berasal.

Alhamdulillah gayung pun bersambut, selain dapat untung dari barang cetakan, tawaran untuk memasok kayu ke toko bahan bangunannya pun diterima. Dari semenjak itulah pengiriman kayu untuk bahan kusen, rangka atap, dsb. ke berbagai toko material dan juga ke rumah-rumah yang sedang dibangun pun dimulai oleh saya dan teman saya tadi. Terkadang saya memasoknya dengan bapak mertua yang memiliki bisnis yang sama, dimana pasokan kayu ini memang didatangkan dari wilayah sekitar tempat tinggal teman dan mertua (tempat darimana istri saya berasal), yaitu daerah perbatasan antara Ciamis Selatan dan Tasik Selatan.

Pada saat menjalankan bisnis kayu Albasia, saya berperan sebagai pemasar atau marketing dengan tugas mendatangi toko-toko bahan bangunan yang ada di sekitar tempat tinggal untuk menawarkannya. Selain itu saya pun berperan sebagai penghandle keuangan untuk bandar kayu, karena pada saat kami memasok kayu ke toko material, biasanya pemilik toko jarang membayar secara kontan, dan baru dibayar kontan beberapa hari sesudahnya, dimana pada saat tersebut kami pun baru bisa mengambil keuntungan. Sementara teman saya atau mertua saya bertugas untuk menghubungi bandar yang memiliki pabrik pemotongan kayu, memantau penyiapan barang, dan mengawal kayu di perjalanan hingga sampai tujuan.

Peluang Bisnis Kayu Sengon (Albasia)

Prospek bisnis kayu sengon ini insyaallah masih terbuka lebar, hanya saja pemasarannya mungkin jangan hanya untuk kebutuhan toko material, karena di beberapa daerah seperti di kabupaten Ciamis dan Tasik, harga jual kayu Albasiah ke perusahaan pallet kayu untuk ekspor lebih baik daripada harga jual ke toko material. Kalau mungkin kita harus memasoknya juga ke perusahaan pallet, hanya saja biasanya tidak sembarang orang bisa masuk ke sana, karena perusahaan pallet biasanya telah menunjuk seorang agen atau bandar kayu yang mereka percaya untuk memasok kayu ke tempat mereka.

Namun jangan juga terlalu khawatir seandainya tidak bisa memasok perusahaan pallet, karena masih lebih banyak bangunan yang memerlukan kayu ini daripada perusahaan pallet. Insyaallah masih ada toko material yang membeli kayu ini dengan harga bagus, atau juga kita bisa bekerja sama dengan pihak pengembang perumahan maupun menghubungi orang-orang yang sedang memulai pembangunan rumah untuk memasok kayu kepada merek.

Apalagi kalau kita tak hanya mengambil kayu dari bandar, tetapi membelinya langsung dari petani penanam pohon kayu sengon, pastinya kita bisa lebih menyiasati persaingan disebabkan harga beli yang lebih murah (walaupun mungkin tetap harus membayar ongkos potong ke pabrik pemotongan / pengolahan kayu kalau belum memiliki pabrik sendiri). Hanya memang untuk membeli kayu secara borongan dari petani kita harus bisa menaksir tanaman sengon yang akan dibeli yang masih tertanam di kebun atau hutan milik mereka. Menaksir dan memperkirakan kalau setelah dipotong nanti akan jadi berapa kubik. Karena kalau tidak bisa menaksirnya, bukannya malah dapat untung, malah akan merugi akibat harga borong yang kemahalan. Makanya diantara syarat yang membolehkan jual beli semacam ini adalah apabila kayu yang akan diborong sudah dalam keadaan siap tebang dan yang menaksirnya adalah seorang ahli.

Jika ada diantara sahabat Rumah Cahaya yang tertarik dengan peluang bisnis kayu Sengon (Albasia), maka inilah gambaran sederhananya berdasarkan sedikit pengalaman saya di bisnis ini:

  • Cari bibit sengon yang baik, tanam dan pelihara sendiri jika Anda mempunyai lahan kosong yang cukup luas dan cocok untuk ditanami pohon sengon. Bila telah tiba saatnya ditebang, maka tebanglah dan jual kayunya secara gelondongan atau berupa kayu olahan.
  • Bila belum memungkinkan untuk menanam dan memanennya sendiri, maka kenali daerah mana yang menjadi sumber budidaya sengon dan menjualnya dalam keadaan siap tebang. Di daerah ini biasanya pohon sengon bisa dijumpai di hampir sepanjang jalan yang dilewati dan di lahan-lahan pertanahan milik penduduk.
  • Hubungi bandar yang punya pabrik pengolahan kayu, tanyakan berapa harga kayu perkubiknya jika kita mengambil kayu dari mereka. Tanyakan juga apakah kita bisa mengambil barang terlebih dulu dan dibayar setelah barang sampai di tempat tujuan ataukah kita harus menyimpan uang jaminan / uang muka.
  • Tanyakan juga berapa ‘ongkos bersih’ angkut kayu hingga sampai ke tujuan. Supaya kita tidak memikirkan lagi berapa¬† ongkos untuk pekerja yang menaikan barang, ongkos truk, ongkos makan sopir dan kernet, biaya retribusi saat melewati jembatan timbang dan pungutan-pungutan liar di perjalanan.
  • Setelah semua biaya yang bisa dianggap sebagai modal kita dapatkan, maka barulah kita mencari pasarnya, seperti toko bahan bangunan, proyek perumahan, dan sebagainya. Jika pasar dan harga jual sudah kita dapatkan, buat persetujuan mengenai cara pembayaran dengan mereka.
  • Hubungi kembali bandar kayu tadi untuk menyiapkan dan mengirimkan barangnya ke tujuan. Pada saat pengiriman ini kita bisa pergi dulu ke tempat bandar untuk ikut serta mengawal barang di perjalanan, atau cukup menjemput / menunggu di tempat tujuan dan ikut mengawasi bongkar muatan dan menghitung jumlah barang dengan pihak toko (pembeli).
  • Pada saat membongkar muatan barang biasanya kita mengeluarkan sedikit uang untuk membayar karyawan toko, tukang becak, atau siapa saja yang mau. Kalau tahun 2001 jumlah yang dikeluarkan masih sekitar 30 ribu rupiah, tidak tahu kalau sekarang, tapi biasanya sopir atau pihak toko sudah tahu berapa biasanya ongkos yang berlaku .
  • Selanjutnya Anda tinggal menerima pembayaran sesuai dengan perjanjian. Jika sudah dapat pembeli kayu sengon yang baik, maka peliharalah hubungan baik dengan mereka dan jagalah kualitas barang supaya mereka tetap betah menjalin kerjasama dengan kita, dan mereka tidak berpindah ke pamasok yang lain.
  • Bila pengetahuan Anda dan pengalaman Anda sudah cukup banyak, kalau cukup waktu Anda pun bisa membeli kayu secara borongan dari petaninya langsung supaya Anda bisa lebih bersaing di pasaran dan keuntungan yang diperoleh lebih besar.

Suka Duka Menjalankan Bisnis Kayu Sengon (Albasia)

Menjalani sebuah bisnis atau usaha apapun, selain ada sukanya, dapat dipastikan pula ada dukanya. Seperti peran saya dalam bisnis kayu sengon yang sepertinya terlihat sederhana, namun sebenarnya ada juga masa-masa sulitnya. Sukanya kalau penawaran saya ke toko bahan bangunan diterima hingga saya bisa bersahabat dengannya. Sukanya lagi kalau saya mendapatkan keuntungan, apalagi kalau sudah ada pesanan kayu hutan yang harga jualnya jauh lebih mahal, maka keuntungan pun bisa berlipat dari biasanya. Dukanya, mungkin seperti pengalaman-pengalaman saya berikut…

Seperti telah disebutkan di atas, untuk memasok kayu Albasia ke toko bangunan yang ada di beberapa kecamatan di Bandung Selatan, saya harus mendatangkannya dari Ciamis Selatan dan Tasik Selatan. Saya berperan untuk memasarkan barang dan menghandle keuangan, sementara teman saya berperan untuk menemui bandar kayu, mengawasi menyiapkan barang, dan mengawal kendaraan di perjalanan hingga sampai tujuan. Namun, bilamana ada toko material yang baru untuk dikirim, atau bila teman saya berhalangan untuk mengawal sementara sopir, sementara sopir truknya ganti dan belum mengenal tempatnya, maka saya terpaksa harus menjemputnya sekitar beberapa kilo hingga belasan kilometer dari rumah. Terkadang waktunya juga tak menentu, bisa tengah malam, waktu sahur, shubuh atau pagi hari.

Pernah saat musim hujan, saya harus menjemput truk pengangkut barang malam-malam dengan sepeda motor melewati beberapa titik banjir yang cukup besar sehingga mesin motor mati karena busi atau kenalpot kemasukan air. Pernah juga pada saat kami harus menemui produsen kayu di Tasik Selatan untuk suatu keperluan, kami pulang malam hari menggunakan sepeda motor miliknya melewati jalanan kecil dan melintasi air sungai tanpa adanya jembatan penyebrangan. Lalu naik-turun melewati jalan raya berbukit yang tidak begitu lebar. Pinggir kiri bertebing dan pinggir kanannya berjurang cukup dalam. Keadaan lampu motor mati dan tanpa penerangan dari sumber lain sedikit pun kecuali hanya sedikit cahaya bulan karena tidak adanya rumah di sepanjang jalan tersebut. Teman saya sampai memepetkan motornya ke dinding tebing bukit sebelah kiri jalan, karena khawatir terperosok ke dalam jurang yang ada di kanan jalan. Kok maksa pulang sih..? Maklum teman saya sudah rindu sama istrinya yang baru pulang dari jauh untuk waktu yang lama.. Tahu sendiri kan.. :D

Penolakan barang oleh toko pun merupakan hal biasa, apalagi jika mereka sudah mempunyai pemasok tetap, walaupun kadang jika persediaan kayu mereka kosong dan pemasoknya telat, mereka akhirnya mau terima, dan malah ada yang menjadi langganan tetap. Ada juga pelanggan yang sifatnya tak mau kompromi, kayu-kayu yang diterima inginnya lurus semua. Pernah ada kaso-kaso (usuk / kayu buat rangka atap) yang bengkok dilempar dan dibilang bahwa kayu tersebut bukan untuk bahan alat pancing.. hehe.

Ya.. itulah mungkin diantara suka-dukanya, dan finalnya adalah pada saat saya harus melepaskan bisnis kayu tersebut, dimana langganan saya sudah cukup banyak. Sumber masalahnya tidak lain adalah pada saat tiba jadual kiriman barang ke sebuah toko material, malam-malam rekan bisnis mengabari bahwa barang tidak akan jadi dikirim, dan saya pun percaya begitu saja. Pada pagi harinya saya bermaksud mengunjungi toko kelontongan milik orang tua yang kebetulan untuk menuju ke sana saya harus melewati toko material yang katanya tidak jadi dikirim tadi. Yang namanya ke toko langganan, pada saat lewat tentunya saya ingin menengokkan kepala ke arah toko tersebut, dan apa yang saya lihat.. ?? Mobil truk yang biasa membawa barang sedang menurunkan kayu di sana, dan rekan bisnis saya pun tersipu malu.. Intinya adalah adanya “Pengkhianatan” yang saya pergoki.

Pastinya kurang tepat jika saya harus mengundurkan diri pada saat itu, apalagi pasar telah saya kuasai, dan bisa saja dengan mudah mendepak si pengkhianat pada saat itu juga, dan saya pun bisa mengambil barang dari sumber yang sama atau sumber yang lain. Namun rasanya saat itu saya sudah terlalu capek, apalagi saya merasakan dan mencurigai adanya pengkhianatan bukan kali itu saja. Di hadapan saya pun sudah ada bisnis lain di depan mata yang terlihat lebih menjanjikan saat itu, yaitu bisnis konveksi pakaian.

Apakah Saya Kapok untuk kembali Berbisnis Kayu Sengon (Albasia)?

Insyaallah nggak kapok. Hanya mungkin kalau saya sampai terjun lagi ke bisnis ini, maka cara kerjanya harus diperbaiki, apalagi dengan kemudahan komunikasi saat ini. Malah sebenarnya saya ingin kembali menekuni bisnis kayu, tapi bukan untuk mengambil kayu dari orang lain seperti dulu, tapi saya ingin mempunyai lahan untuk ditanami pohon-pohon sendiri sebagai investasi, apakah itu pohon sengon, pohon jati, pohon jabon, pohon kelapa, pohon karet, atau pohon gaharu, dsb. Hehe. Ya.. bermimpi kan mudah saja. Bantu do’akan saja ya.. Terimakasih.

Ahh sudah cukup panjang tulisan saya tentang bisnis kayu sengon (Albasia) ini. Saya sudahi dulu ya, dan semoga kita bisa sama-sama mengambil manfaat dari tulisan yang sangat sederhana ini. Aamiin.. ~ Cepi Nugraha

Komentar

47 tanggapan untuk “Bisnis Kayu Sengon (Albasia)”
  1. budi mansur says:

    Pa mhn bantuannya… sy sdg cari albasia buat proyek perumahan di daerah bogor.. ukuran 4x6x200, 4x6x400, 5x10x200, 5x10x400.. pembayaran tunai di lokasi tujuan.. trm ksh. Contak person : 085316425588 budi.

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Pak Budi,

    Seperti disebutkan di atas, saya sudah lama tidak atau belum berkecimpung lagi dengan bisnis perkayuan. Jadi mohon maaf saya tidak bisa membantu, tapi semoga ada yang lain bisa membantu serta menghubungi nomor kontak Bapak.

    [balas komentar di sini]

    budi mansur Reply:

    Ok pa trm ksh, smg pengalaman bpk jd pelajaran yg sangat berarti buat saya..

    [balas komentar di sini]

    haelani Reply:

    kalo harganya cocok saya siap suplay, berapa hargai sampai tempat

    [balas komentar di sini]

  2. andri says:

    pak tolang cara kubikasi kayu sengon,trm ksh

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Pak Andri,

    Wahh saya sudah lama tidak pakai, jangan-jangan saya sudah lupa lagi. Tapi kalau tidak salah seperti ini:

    Misalnya kita menghitung kubikasi papan ukuran Panjang 2 m atau 200 cm, Lebar 0,2 m atau 20 cm, dan 0,03 m atau 3 cm. HItung seperti ini:

    Kalikan Panjang x Lebar x Tebal, kemudian kali jumlahnya Papan berapa potong, maka nanti akan didapat hasilnya berapa Kubik.

    [balas komentar di sini]

  3. ipul says:

    yah sayang kenapa berhenti pak padahal penghianatnya bisa di tendang aja, teman kadang suka jadi duri juga.
    kalau saya jadi anda udah saya colok itu orang.

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Pak Ipul,

    Hehehe.. Mungkin karena saya akan dapat usaha yang lebih baik ya.. tapi yang jelas, semua orang yang pernah mengkhianati saya dalam hal apapun, saya bisa melihat mereka punya masalah-masalah yang besar atau kesengsaraan dalam hidupnya. karena kezhaliman memang tidak akan berpulang, kecuali kepada mereka itu sendiri. Mungkin mereka lupa dengan do’anya orang yang teraniaya ya.. :)

    [balas komentar di sini]

    dedi Reply:

    wah menarik ya pak, penghianatan menurut saya sesuatu yang lumrah di dunia usaha. logikannya rasa rakus untung besar pasti ada kok pak. itu pentingnya rahasia pemasaran, saya tengah merintis usaha papan palet bekas. semoga pengalaman agan jadi pelajaran

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Pak Dedi,
    Terimakasih atas kunjungannya ke blog saya..

    Benar, pengkhianatan adalah hal yang biasa terjadi, hehehe. Semoga usaha papan palet bekas yang bapak rintis berhasil dan berkah ya.. Aamiin..

    [balas komentar di sini]

  4. rudy yanto says:

    saya mencari pembeli kayu albasi, kayu masi berupa glondongan dan juga ada yang siap tebang ukuran kayu dengan lingkaran dari 70cm s/d 90cm jumlah pohon 70000, lokasi jawa barat , harga konfirmasi jika berminat hubungi e-mail saya rudyyantosunardy@gmail.com atau fb Rudy Yanto Sunardy kontak 085311637691

    [balas komentar di sini]

    Agus Suntara Reply:

    Pak Rudy, bagaimana dengan dg kayu albanya masih sedia?
    saya sangat membutuhkan tapi dengan kondisi siap jual berupa papan dan kaso, kalau seandainya tawaran saya menguntungkan untuk bapak, saya mohon untuk kerja samanya.

    Saya membutuhkan:
    Papan dg ukuran 2x15x 2 atau 2.5 dan 3 mtr.
    Kaso dg ukuran 5x5x2 atau 2.5 dan 3 mtr.
    Kebutuhan sebanyak yang bisa bapak kirim ke daerah Bandung, saya terima harga untuk papan Rp 900.000/m3 dan kaso Rp 700.000/m3.

    Dengan sangat senang hati, bila bapak merespond tawaran saya.
    atau bisa menghubungi pada No HP 0852 2000 5379. Agus Suntara di Bandung.

    [balas komentar di sini]

    rudy yanto sunardy Reply:

    dengan harga yang bapak tawarin itu, kayunya di terimah di mana pak……

    [balas komentar di sini]

  5. rudy yanto sunardy says:

    saya punya lokasi kebun jati 6 ha siap tebang, lokasi di sukabumi jawa barat ,, berminat hubungi rudy yanto email rudyyantosunardy@gmail.com no hp 085311637691

    [balas komentar di sini]

  6. izal says:

    Slm mlm..nama izal dari sulawesi. Saya sudah membaca semua mengenai rumah cahaya. Kebetulan di daerah saya banyak terdapat kayu sengon yang sudah siap panen..kalau ada yang berminat hubngi nmr saya..082227228878

    [balas komentar di sini]

  7. husni says:

    assalam . . .
    trimaksh sebelumny bwat yg punx blog ini krn telah di izinkan saya untk bisa menulis.
    saya dari daerah ciamis . . sya kebingungan mau jual kayu mahoni yg sudah jadi palet, papan, kusen. mash bnyk pokonya.hehe
    y mungkin diantara bapa/ibu yg membthkn bisa hubungi saya
    082214351181
    pin 51ca65b7
    trimakash.

    [balas komentar di sini]

  8. sabri manan says:

    Dear Mr.Cecep,
    Saya pingin buat semacam usaha jual beli kayu,kayu sudah ada tinggal kirim dari kalimantan–pertanyaan:
    1.dokumen apa yang perlu disiapkan bagi penerima kayu contoh dipelabuhan tg.priuk?
    2.sarat/dokumen jual beli kayu,dan pemilik gudang- tersebut(kayu balok) Di jakarta?/tangerang.
    Mohon Pencerahannya——————-
    sementara ini saya mau cari lokasi buat penumpukan kayu—daerah jakarta/tangerang-
    sementara ini lagi cari buyernya juga dijkt/tangerang.
    Mohon pencerahannya..

    [balas komentar di sini]

  9. dede says:

    Nama dede… Menawarkan berbagai jenis macam kayu olahan.
    Mulai dari (kaso) (balok) dan (papan).. Harga relatif setandar.
    Apabila anda berminat silahkan hub: 087750000225

    Trimakasih.

    [balas komentar di sini]

Page 2 of 2«12
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!