/SMS/WA : 08112225788 (08-21.00 WIB) Untuk konsultasi, terapi, dan ruqyah dikenakan infaq seikhlasnya


Bagi sahabat muslim, saya kira merupakan keharusan bagi kita untuk mengetahui bagaimana hukum jual beli kredit atau jual beli yang pembayarannya dilakukan dengan cara diangsur menurut pandangan Islam. Alasan pentingnya tentu sudah kita ketahui bersama, karena pada zaman sekarang hampir segala jenis barang yang ditawarkan dengan cara kredit, baik itu rumah, perlengkapan rumah tangga, mobil, motor, telepon genggam, dan sebagainya.

Ya itulah kenyataan yang tak bisa dipungkiri, dan tentunya harga jual dan beli barang secara kredit lebih mahal dari cara tunai. Bagi yang mempunya penghasilan pas-pasan, Untuk memiliki sebuah barang dengan membeli secara tunai, misalnya sepeda motor, memerlukan kedisiplinan dan kesabaran untuk menabung selama bertahun-tahun, sementara kebutuhan untuk menggunakan sepeda motor mendesak, karena itulah seringkali membeli secara kredit menjadi pilihan, meskipun ada juga faktor lainnya yang dijadikan alasan. Lantas, bagaimana hukum jual beli kredit dalam Islam menurut pandangan ahlinya.

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Miliki Ebooknya, Dapatkan BONUSNYA!

Hukum Jual Beli Secara Kredit Menurut Syari’at Islam

Hukum Jual Beli Kredit Dalam Pandangan IslamDalam kitab Al-Muhalla, Ibnu Hazm menjelaskan bahwa jual beli kredit sama sekali tidak mengandung peluang untuk memakan riba atau mengekploitasi hak orang miskin. Akad ini mengandung kemaslahatan bagi kedua belah pihak. “Bahkan, seseorang menjadi terbantu untuk memenuhi kebutuhannya secara mudah dan ringan,” tulisnya dalam kitab tersebut.

Menurut sekretaris MUI DKI Jakarta, yang juga wakil ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU  K.H. Muhammad Cholil Nafis, Lc, MA, beliau mengatakan bahwa hukum transaksi pada prinsipnya adalah boleh, kecuali terdapat unsur penipuan, spekulasi, riba, dan transaksi dijual dua, yakni mentransaksikan suatu barang dengan harga kredit dan harga tunai, tetapi si pembeli langsung membawanya tanpa mengetahui jelas apakah membeli dengan cara tunai atau secara kredit.

Memang dalam hukum jual beli kredit menurut Islam, para ‘ulama berbeda pendapat. Akan tetapi jumhur ‘ulama menetapkan, bahwa pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, karena pada asalnya boleh dan nash yang mengharamkannya tidak ada. “Sebaliknya, kalau sampai kepada batas kezhaliman, hukumnya berubah menjadi haram,” ujarnya.

Jadi, hukum transaksi atau hukum jual beli barang secara kredit menurut Islam adalah sah dan halal, asalkan transaksi antara pihak penjual dan pihak pembeli jelas. Artinya, jual beli secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga kontan hukumnya sah dan halal, dengan syarat transaksi antara penjual dan pembeli dilakukan dengan cara yang jujur dan menyepakati batas waktu yang telah ditentukan dan menyepakati harga barangnya.

Mungkin yang menjadi masalah adalah, jika kredit di lembaga keuangan konvensional cicilannya seringkali naik karena mengikuti suku bunga, sedangkan kredit pada lembaga keuangan syari’ah cicilannya tetap karena menggunakan akad murabahah atau skema pembiayaan dengan akad jual beli barang dengan menyertakan harga perolehan ditambah margin yang telah disepakati antara penjual dan pembeli.

Pada muktamar pertama al-Mashraf al-islami di Dubai, yang dihadiri oleh 59 ‘ulama internasional, semua sepakat bahwa tidak ada larangan bagi penjual menentukan harga secara kredit.

“Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba” (Q.S. al-Baqarah [2]: 275)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 282)

Jika dalam transaksi jual-beli kredit terdapat kenaikan harga atau bunga karena keterlambatan pelunasan dari pihak pembeli, DIrektorat Jenderal Riset, Da’wah, dan Ifta’ al-Mashraf al-islami memfatwakan, menurut ijma’ ‘ulama, tidak sah karena hal itu mengandung unsur riba yang diharamkan Islam.

Kalaupun terpaksa harus membeli secara kredit dari penjual barang yang memberlakukan sistem bunga ini, maka pembeli harus yakin mampu mencicil dan melunasinya tepat waktu tanpa harus terjerat pembayaran bunga tunggakan, agar terhindar dari jeratan riba.

Pendapat lainnya mengatakan, upaya menaikkan harga di atas harga yang sebenarnya lantaran penangguhan pembayaran itu lebih dekat kepada riba nasiah atau tambahan harga, karena limit waktu yang jelas dilarang oleh nash al-Qur’an.

Ada juga pendapat yang mengatakan, transaksi tidak sah jika terdapat transaksi ganda karena adanya tambahan pihak lain yang terlibat dalam transaksi, yakni adanya transaksi dengan pihak yang mengeluarkan leasing (yang sekarang ini justru sudah menjadi hal yang sangat umum dijumpai), meskipun leasing tersebut oleh lembaga keuangan syari’ah sekalipun, sehingga pembeli bertransaksi dengan dua pihak, yakni pihak penjual dan pihak yang mengeluarkan leasing tersebut.

Nah sahabat, demikianlah artikel tentang Bagaimana Hukum Jual Beli Kredit Dalam Islam yang saya peroleh dari beberapa sumber. Tentunya artikel ini belum dapat memuaskan dahaga kita untuk mengkaji lebih luas permasalahan ini, namun semoga kita Allah mengaruniai kita kemudahan untuk lebih memperluasan wawasan dan pemahaman tentangnya. Mari kita pun saling mendo’akan agar Allah menjauhkan kita dari jual beli yang meninggalkan jeratan hutang, terutama hutang yang mengandung unsur riba. Aamiin..