Adab Ziarah Kubur Menurut Sunnah

July 9, 2013 oleh 4 Komentar
Kategori: Materi Da'wah Islam 
Adab Ziarah Kubur

Pak Tifatul Saat Berziarah

Artikel tentang adab ziarah kubur menurut Sunnah ini judul aslinya adalah “Adab Ziarah Meneladani Jejak Rasul SAW”. Setelah saya membacanya, dan saya kira tidak ada sedikit pun hal yang bertentangan dengan tata cara ziarah kubur yang dibenarkan, maka saya tulis ulang artikelnya di sini. Silahkan Anda membacanya dengan seksama..

Saat melintasi areal pemakaman yang sunyi senyap, dan terlihat jajaran gundukan tanah bernisan di atasnya dengan posisi melintang utara-selatan. Apa yang terlintas dalam benak kita? Mungkin sebagian dari kita berlalu begitu saja melewati pemakaman itu, dan tidak ambil pusing. Namun bagi orang yang shalih, pemakaman adalah tempat yang baik untuk mengingat kematian.

Jika waktunya sudah tiba, manusia akan berada di sana, sendirian dalam lubang yang sempit, gelap, serta dingin. Akan tiba waktunya semua amal manusia dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawaban. Setelah itu, yang ada hanya balasan, kebahagiaan atau penderitaan, kenikmatan atau siksaan. Tak ada seorang manusia pun yang dapat menolong dari pedihnya azab kubur, kecuali amal shalih.

Bagi orang yang shalih, mengingatkan kematian menyebabkan hati yang keras menjadi lunak, dan tergerak untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Rasulullah SAW bersabda, “Cukuplah kematian sebagai pengingat (atau nasihat).”

Para Kekasih Allah mengetahui bahwa alam barzakh lebih nyata ketimbang dunia fana ini. Kenikmatan yang akan didapatkan juga nyata, dan siksa yang akan didapatkan juga demikian.

Ziarah kubur bagi kaum muslimin bukanlah hal yang perlu diperdebatkan. Sudah jelas apa yang telah disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits yang shahih, “Sesungguhnya dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur, akan tetapi sekarang ziarahilah kubur, karena yang demikian itu dapat menjadikan seseorang zuhud terhadap dunia, dan ingat kepada akhirat” (H.R. Ibnu Majah).

Pembagian Ziarah Kubur Menurut Para ‘Ulama

Para ‘ulama membagi ziarah kubur ini menjadi 3 bagian, yakni sebagai berikut:

1. Ziarah Orang Mulia Kepada Kubur Orang Mulia Yang Telah Meninggal

Ziarah orang mulia yang masih hidup terhadap orang mulia yang telah meninggal dunia, misalnya ziarah para ‘ulama yang mengunjungi pusara ‘ulama lain. Seperti Imam Syafi’i yang sering berziarah ke makam Imam Abu Hanifah di Baghdad. Beliau tinggalkan kebiasaan membaca qunut pada shalat Shubuhnya demi menghormati Imam Abu hanifah yang telah meninggal, karena Imam Abu Hanifah tidak memfatwakan sunnahnya membaca qunut pada shalat Shubuh.

Imam Syafi’i memberikan contoh yang sangat indah, yakni menghargai orang yang pendapatnya berbeda, meskipun telah meninggal. Setiap kali Imam Syafi’i berziarah ke makam Imam Abu Hanifah, beliau berdo’a di depan makamnya.

Ketika Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib berhijrah ke madinah, beliau meninggal dunia. Rasulullah SAW menguburkannya di Baqi’. Saat pemakaman, Rasulullah SAW turun ke kuburan Ketika Fathimah binti Asad dan berbaring di sisinya seranya memeluk ibu asuhnya itu. Lalu Rasulullah SAW mendo’akannya.

2. Ziarah Orang Mulia kepada Kubur Orang Biasa

Nabi Muhammad SAW sering berziarah ke kuburan kaum muslimin. Beliau sering berdo’a di depan kuburan mereka seraya beristighfar memohon ampunan bagi ahli kubur. Itu sebagai bukti bahwa kedatangan Nabi SAW adalah rahmatan lil’alamin.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari menyebutkan, di saat Rasulullah SAW melewati dua kuburan, beliau bersabda, “Kedua ahli kubur ini sedang diazab Tuhan meskipun bukan karena dosa yang besar.”

Rasulullah SAW lalu meletakkan di atas kedua kuburan itu pelepah kurma yang masih hijau sambil berdo’a. Rasulullah kemudian berkata, “Sesungguhnya kedua pelepah kurma itu, insyaallah akan meringankan azab mereka sampai pelepah itu mengering.”

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari, ketika membahas hadits ini menulis, kedua pelepah kurma yang masih hijau itu ternyata selalu bertasbih selama mereka dalam keadaan basah. Seluruh pepohonan dan tanaman bertasbih kepada Allah SWT. Kedua pelepah kurma itu disimpan baginda Nabi SAW agar selalu bertasbih untuk meringankan azab para penghuni kubur.

Usaha Percetakan Bagi Pemula
Bonus: " Desain2 Siap Edit & Flashdisk! "

Pernah suatu ketika, hidup seorang perempuan kulit hitam yang pekerjaannya membersihkan masjid. Ketika ia meninggal dunia, kaum muslimin menshalatkan dan menguburkannya pada malam hari. Suatu ketika, Rasulullah SAW mengunjungi pemakaman, beliau melewati kuburan perempuan itu. Wangi harum yang semerbak tercium oleh ruh Rasulullah SAW yang suci.

Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat yang menyertainya, “Kuburan siapakah ini?” Para sahabat menjawab, “Ini adalah kuburan perempuan kulit hitam yang sering membersihkan masjid.”

Rasulullah bertanya kembali, “Mengapa kalian tidak memberitahu aku ketika menguburkannya?” Kemudian Rasulullah shalat di depan kuburan itu. Setelah shalat Rasulullah bertanya lagi, “Bagaimana perbuatannya ketika ia masih hidup?” Para sahabat menjawab, “Ia adalah perempuan yang baik.” “Apa pekerjaan yang dilakukannya?” “Ia membersihkan masjid.”

Rasulullah SAW tidak hanya mengunjungi kuburan perempuan kulit hitam itu. Ketika seorang budak belian yang pada masa itu sering diperlakukan dengan hina meninggal, beliau juga menshalatkan dan mendo’akannya. Allah menyingkapkan tirai alam malakut kepada baginda Nabi SAW dan memperlihatkan perempuan itu sebagai orang yang mulia di alam barzakh, yang menyebarkan harum semerbak di sekitarnya.

3. Ziarah Muslim Yang Awam Kepada Kubur Muslim Awam Yang Lain

Ziarah dari kaum muslimin yang awam terhadap kuburan kaum muslimin awam yang lain, misalnya ziarah yang biasa kita lakukan kepada makam orang tua, karib kerabat, dan saudara kita yang telah wafat.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim yang diterima dari Abu Hurairah: Rasulullah SAW bersabda, “Sering berkunjung ke kuburan itu akan mengingatkan kalian kepada akhirat dan kepada maut.” Hadits ini juga dimuat oleh At-Tirmidzi dalam shahihnya. Ziarah kubur adalah sunnah Rasulullah SAW. Ziarah juga adalah cara kita untuk mendo’akan orang yang telah mendahului kita.

Beberapa Adab Ziarah Kubur Yang Sebaiknya Dilakukan

Supaya ziarah yang kita lakukan bermanfaat bagi yang diziarahi, sebaiknya pada saat berziarah pun kita tidak melupakan etika atau adab-adab ziarah kubur yang semestinya. Misalnya, sebelum memasuki area pemakaman mengambil air wudhu, meluruskan niat yang baik, dan mengucapkan salam kepada penghuni kubur.

Abdullah bin Abbas R.A. menceritakan, ketika Rasulullah SAW melewati pemakaman di kota Madinah,  beliau menghadapkan wajahnya ke arah penghuni kubur seraya mengucap, “Salam sejahtera bagi kalian wahai penghuni kubur. Semoga Allah mengampuni kami dan kalian. Kalian adalah pendahulu kami, dan kami akan menyusul.” (H.R. Tirmidzi)

Adab yang lain adalah tidak menginjak, melangkahi, atau pun duduk di atas makam. Seorang yang beradab dan berbudi tentu akan memperhatikan hal ini. Kehormatan seseorang itu berlaku dikala masih hidup dan setelah ia meninggal dunia.

Setelah sampai di depan makam yang kita tuju, sebaiknya kita mendatanginya dari arah wajahnya. Imam AlQurthubi dalam tafsirnya mengatakan, “Seorang peziarah hendaknya mendatangi makam yang dia kenal (tuju) dari arah wajahnya (membelakangi kiblat, karena wajah mayat menghadap kiblat), dan segera mengucapkan salam kepadanya. Menziarahi makam seseorang adalah seperti bercakap-cakap dengannya semasa hidup. Jika masih hidup, kita akan berbicara dengan menghadapkan wajah ke arahnya. Maka setelah wafat, hendaknya kita melakukan hal yang sama dalam menziarahinya.”

Adab yang sebaiknya kita lakukan ketika ziarah kubur adalah mengucapkan salam seperti di atas. Lalu menurut Imam Ahmad bin Hanbal, membaca surah Al-Fatihah, surat Al-Ikhlas, surah Al-Falaq, dan surah An-Nas. Menurut hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah, dianjurkan membaca surah Yasin. Para ahli kubur mendengar ucapan kita sama seperti orang yang masih hidup.

Salam yang kita ucapkan kepada ahli kubur pun pada hakikatnya adalah mengajak mereka bicara, “Salam bagi kalian hai penghuni kampung (kubur) ini. Kalian telah mendahului kami, dan insyaallah kami akan menyusul kalian.”

Sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari mengisahkan suatu peristiwa setelah perang Uhud. Rasulullah SAW mengajak bicara para jenazah syuhada Uhud, “Apakah kalian telah menemukan bahwa apa yang dijanjikan Rasulullah kepada kalian itu benar?”

‘Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulullah, kau ajak bicara orang yang mati, padahal dia tidak mendengarmu.” Rasulullah SAW menjawab, “Hai ‘Umar, engkau tidak lebih mendengar daripada mereka.”

Demikianlah artikel mengenai adab ziarah kubur menurut Sunnah. Walaupun tidak semua Sunnah Rasulullah SAW berkenaan dengan ziarah kubur tertuliskan di halaman ini, namun insyaallah tulisan ini masih sangat bermanfaat bagi kita semua pembacanya.. ~ Cepi Nugraha

Bagikan Artikel...

Komentar

4 tanggapan untuk “Adab Ziarah Kubur Menurut Sunnah”
  1. rayuma says:

    thnx gan artixelna, ckup brmnfaat 🙂

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Rayuma,
    Terimakasih pula atas kunjungannya ke blon ini.. 😉

    [balas komentar di sini]

  2. muhammad amin says:

    terima kasih atas ilmunya menginai ziaroh kubur

    [balas komentar di sini]

    Cepi Nugraha Reply:

    Mas Muhammad Amin,
    terimakasih kembali karena telah baca-baca artikelnya…

    [balas komentar di sini]

Page 1 of 0
View all comments

 

Senaang rasanya, jika Anda berkomentar..

Dimohon dengan kata-kata yang baik & bijak...
Bila Anda belum mempunyai Avatar dan ingin membuatnya, kunjungi Gravatar!